Monday, 9 May 2016

Salah Satu Tulisan Obrol Bareng Novel Lawas Widyawati - Arti Purbani oleh Yudhi Herwibowo (diambil dari blog yudhiherwibowo.wordpress.com)


IMG_20160508_075542
Sekali lagi terbukti: saya pembaca yang harus dipaksa! Karena akan didiskusikan Pawon, saya menyelesaikannya novel Widyawati karangan Arti Purbani ini hanya dalam 2 hari.
Diskusi buku kali ini memang sedikit berbeda, bukan sekadar memilih novel lawas seperti usulan dari Kabut, namun penulisnya -Arti Purbani- adalah nama pena dari Partini Djajadiningrat, putri sulung Mangkunegaran VII.
Awalnya membayangkan membaca Widyawati, saya akan mendapati cerita yang mirip-mirip dengan novel Student Hidjo (Marco) ataupun Generasi yang Hilang (Suparto Brata), yang pernah didiskusikan Pawon sebelumnya. Kebetulan latar novel ini hampir-hampir sama. Tapi ternyata, Widyawati punya perbedaan yang kuat.
Saat pada akhirnya menyelesaikannya, satu kesan yang saya tangkap: Widyawati adalah novel yang komplet. Diawali dengan memunculkan 4 karakter perempuan: Sumirah, Roosmiati, Widyawati (Widati) dan Ruwinah, saya langsung meraba kalau keempat tokoh inilah yang akan mengisi halaman-halaman buku selanjutnya. Bahkan saya merasa konflik yang sudah dirancang. terasa sekali di bagian itu. Namun pada kenyataannya, dari keempat karakter itu, hanya katater Widati-lah yang paling intens diceritakan, sedang karater lainnya pelan-pelan hanya menjadi karakter-karakter pendukung yang tak cukup banyak diceritakan. Karakter Sumirah bahkan hanya ditulis sedikit sekali.
Di sini, Arti Purbani seperti ingin menuliskan tentang jalan hidup beberapa perempuan Jawa sekaligus. Maka itulah keempatnya dibuat memiliki sifat yang berbeda satu dengan lainnya –kalau boleh saya bilang bertolak-belakang. Sumirah diceritakan sebagai perempuan egois dari kaangan biasa yang memilih menjadi selir. Karena pengaruh seseorang dan ambisinya, ia menjadi istri penuntut suaminya yang sebenarnya sangat menyayanginya. Roosmiati dilukiskan sebagai perempuan kalangan atas yang baik hati, namun ia memilih menikah dengan laki-laki berkedudukan, yang tak diketahuinya memiliki selir bernama Sumirah. Karena semua orang menyembunyikan rahasia ini, saat pada akhirnya ia tahu, hidupnya terasa hancur. Ruwiyah sudah digambarkan sebagai gadis culas yang bergaul dengan bebas. Ia digambarkan sangat modern. Ending untuk karakter seperti ini, tentu mudah ditebak. Sedang Widyawati adalah karakter yang berbeda dari semuanya. Tentu saya tak akan membuat perbedaan yang terlalu dalam. Setidaknya dibanding dengan karakter yang lain, ia mandiri, baik hati, dan menjadi seperti Bawang Putih, karena memiliki Ibu tiri yang jahat. Satu hal yang menonjol ia suka belajar, dan berhasrat memiliki pendidikan. Ia kemudian jatuh cinta pada Ruwinto dan hampir menikah. Namun, karena satu dan lain hal, mereka harus berpisah. Di sinilah Arti Purbani mengeksplorasi kesedihan Widati cukup panjang dan intens.
Dari karakter-karakter seperti itu, tentu saya berharap akan ada konflik yang dalam dari keempatnya. Namun sepertinya harapan saya tak terlalu terjadi. Arti Purbani sepertinya masih terpengaruh pada norma dan ajaran-ajaran  agama: bila orang yang sifatnya baik-baik saja, hidupnya juga akan baik-baik saja.
Namun menekuni alur hidup keempat perempuan itu, dan perempuan-perempuan lainnya yang juga disinggung, mudah sekali menebak muaranya: pernikahan. Ini yang membuat novel ini menjadi sedikit menyebalkan. Persoalan hidup keempatnya hanya berputar soal menikah. Sepertihanya saya terlalu berharap tinggi untuk menemukan geliat persoalan lain semacam mengetahui keadaan kota yang seperti apa, detail kota saat itu, bangunan-bangunan yang ada, bahkan kondisi kerajaan yang melatari saat itu  pun sama sekali tak terasa.
Untungnya, penulis memiliki visi misi lainnya.

Visi Misi
Saya masih ingat, saat membaca Student Hidjo dan Generasi yang Hilang, cerita mengalir dengan wajar. Porsi karakter, detail, aklur, dll ada dalam tataran yang wajar. Namun di Widyawati, saya menemukan sedikit perbedaan, dan ini membuat ganjalan yang tak enak. Entahlah, mungkin posisinya yang sebagai Putri Kraton membuat Arti Purbani memiliki visi misi terhadap novelnya. Bagi penggemar novel yang mengharapkan bacaan yang dalam dan menguras emosi, tentu novel ini tidak dalam posisi seperti itu. Walau pada saat itu, bisa jadi novel ini berhasil. Tapi dengan berlalunya waktu, kisah cinta dan kesedihan tokoh-tokoh dalam Widyawati terasa tak lagi dalam dan mampu menembus perasaan. Tapi tentu itu bisa memakluminya. Tak adil menilai sebuah novel lawas dengan perbandingan novel-novel terkini.
Di tangan Arti Purbani, Widyawati menjadi novel yang tak sekadar novel. Ia seperti berkeinginan memasukkan semua budaya Jawa dalam novelnya. Ia menceritakan secara detail tentang Sekaten, bahkanhingga pada pernak-pernik yang seharusnya tak perlu. Ia juga menceritakan persoalan pernikahan dan kematian cara Jawa cukup dalam. Bahkan sunatan dan pesta putra-putri ningrat pun diceritakan berparagraf-paragraf. Tak ketinggalan saat puasa pun diulas, dibarengi idiom-idiom Jawa yang umum. Tak sampai di situ, kadang untuk menguatkan detail itu, ada ilustrasi-ilustrasi yang sengaja dibuat sebagai penunjang. Saya pikir ini yang membuat sisi emosional tokoh jadi mengabur dan tak terlalu terasa. Walau –lagi-lagi- saya bisa memahami kalau di tahun-tahun itu, tujuan seperti itu bisa sangat dipahami. Apalagi novel ini pertama kali terbit dari bahasa Belanda (terbit tahun 1948, dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia tahun 1949). Cerita tentang Jawa, kraton dan pernak-perniknya sangat seksi bagi orang Eropa. Jadi saya bisa mengerti. Mungkin tanpa ada yang menyadari, Arti Purbadi sudah menjadi duta budaya Jawa pada saat itu. Inilah yang kemudian membuat memoarnya diterbitkan pula. Bayangkan, dari banyaknya putra-putri Mangkunegaran, hanya ialah yang dipilih.

Widyawati = Partini?
Dari buku Partini: Recollections of a Mangkunegaran Princess –yang saya dapat dari Mbak Truly Rudiono- saya mendapat banyak cerita, dan karena malam yang semakin larut, otak saya jadi kesana-kemari menghubung-hubungkan sesuatu yang seharusnya tak perlu dihubung-hubungkan. Tapi sejak dulu saya selalu berkeyakinan bila penulis yang tidak profesional biasanya punya kecenderungan membawa-bawa dirinya lebih banyak dalam naskah fiksinya. Saya merasa sosok Widati adalah penggambaran Partini terhadap pandangan hidupnya.
Widati seorang anak sulung, demikian juga Partini. Widati perempuan yang mandiri, Partini pun seperti itu. Widati bekerja di Jakarta, Partini menemani ayahnya ketika tugas di Jakarta. Widati sedikit sekali mengenang ibunya, Partini pun tak terlalu mengenal ibunya. Widati begitu dekat dengan ayahnya, Partini pun begitu. Widati berniat ke Eropa, Partini benar-benar ke Eropa. Tentu masih banyak lagi. Tapi ini tak perlu terlalu terlalu dipikirkan.
Hanya saja satu yang mengganjal dair membaca Widyawati adalah: karena fokus pada kisah keempat perempuan itu, Arti Purbani seperti tak menceritakan pola hubungan masyarakat di waktu itu dengan pemerintah kolonial. Ia bahkan malah menceritakan hubungan mesranya dengan salah satu keluarga Belanda yang menampungnya di Batavia, bahkan berniat membantunya sewaktu ia pergi ke Eropa. Tentu, mengingat sejarah Mangkunegaran yang dekat dengan pemerintah kolonial dan posisi terbit buku ini yang ada di Belanda, keadaan itu bisa dimaklumi. Tapi saya tetap merasa – di samping Arti Purbani menjadi duta budaya Jawa yang baik- ia seperti sengaja menyembunyikan kolonialisme di negerinya. Tentu, ini mungkin hanya perasaan saja.


https://yudhiherwibowo.wordpress.com/2016/05/09/membaca-novel-lawas-widyawati-arti-purbani/