Kamis, 09 Juli 2015

Workshop Menulis Puisi Sehari Sudah Dimulai!


Bincang-bincang Anak-anak Masa Lalu bersama Damhuri Muhammad, Balai Soedjatmoko, Sabt8 Agustus 2015




Segera; Workshop Menulis Puisi Sehari


Bincang Sastra Agustus


Bincang Sastra Juli 2015

 
 

Novel-novel Orhan Pamuk yang Sudah Diterjemahkan di Indonesia (Semuanya diterbitkan Serambi)

Istanbul 

 Dalam buku ini, Orhan Pamuk, pemenang Hadiah Nobel Sastra 2006, memberi makna lain terhadap kenangan: sebagai jejak sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan sebuah kota,Bahkan sebuah peradaban.
Buku ini bukan hanya cerita tentang sebuah kota nun jauh di sana, melainkan sebuah buku indah yang mengisahkan banyak hal. Sebagai novelis terkemuka, Pamuk secara cemerlang mampu membuat memoar ini jauh dari membosankan kendati dia bercerita tentang hal-hal sederhana dan kenangan masa silam kota kelahirannya. Dia menghubungkan benda-benda, lanskap, penanda kota, bangunan kuno, sungai, rumah, buku-buku, dan jalanan bisu dengan berbagai dongeng, mitos, kisah fantasi, legenda, fakta historis, tragedi kehidupan, sengketa politik, biografi orang ternama, dan kisah-kisah cinta—termasuk kisah cinta pertamanya.
Membaca buku ini, kita seakan diajak membaca sebuah kumpulan cerita yang mengasyikkan, sekaligus menyiratkan perenungan yang dalam tentang hubungan unik antara manusia, ruang, dan waktu.
“Enak dibaca, indah, sekaligus memiliki kedalaman.” —Koran Jakarta
“Salah satu memoar paling menyentuh hati ...” —Sunday Telegraph

The New Life

Kehidupan Baru
Osman, seorang mahasiswa muda, terobsesi dengan sebuah buku magis yang membahas sifat dasar cinta dan hakikat diri. Dia mengabaikan rumah dan keluarganya, menelantarkan studinya, dan kemudian kelakukan pencarian makna rahasia-rahasia yang lebih misterius dari buku itu.

Separuh novel perjalanan, separuh dongeng thriller, The New Life adalah buku yang paling cepat terjual habis dalam sejarah Turki. Menampilkan seluruh kecerdasan dan keluwesan khas Pamuk, novel indah ini mengingatkan kita akan sebuah bangsa yang terombang-ambing antara Timur dan Barat.

Suatu hari aku membaca sebuah buku, dan seluruh hidupku pun berubah ..

Snow

Di Balik Keheningan Salju
Salju mulai turun ketika seorang wartawan dan penyair bernama Ka tiba di Kars, sebuah kota kecil di perbatasan Turki.

Diawali keinginannya untuk menyelidiki kasus bunuh diri yang semakin mewabah di kalangan wanita muda kota itu, juga hasrat untuk menemukan cinta masa lalunya, tanpa sadar Ka terseret di dalam gejolak kemelut Kars. Konflik antargerakan Islam, pertikaian antara agama dan sekularisme, serta aparat penguasa yang bertindak sewenang-wenang hanyalah segelintir persoalan di tengah gunung es masalah di kota yang terisolasi selama berkecamuknya badai salju yang ganas itu.

Snow adalah sebuah kisah tentang kesulitan yang dihadapi oleh sebuah bangsa yang terbelah antara tradisi, agama, dan modernisasi. Di tangan Pamuk, seluruh permasalahan itu tersaji menjadi sebuah kisah thriller politik yang mencekam dan meninggalkan kesan mendalam.


The White Castle

Istana Putih
Cerita ini berkisah tentang kehidupan seorang asal Venesia yang konon menjalani kehidupan sebagai seorang budak di Istanbul, Turki, pada sekitar abad ke-17. Karena pengetahuannya yang luas, tuannya yang segala-galanya sangat mirip dengannya berusaha dengan segala cara menggali semua pengetahuan dan sekaligus menguras semua pengalaman hidup si budak.

Tuan dan budak harus mengarang banyak cerita ajaib dan menafsirkan mimpi sultan yang mereka abdi, termasuk merancang sebuah senjata pamungkas yang hebat. Ketika senjata aneh yang dianggap pembawa sial itu gagal menaklukkan Istana Putih, kehidupan mereka pun terancam, terutama si budak kafir itu.

Pertukaran jati diri di antara keduanya, yang terjadi di sepanjang kisah, diungkapkan dengan cara yang unik dan membuat pembaca bertanya-tanya apakah menjalani kehidupan orang lain memang bisa membuat kita bahagia.

My Name is Red

Pemenang Nobel sastra 2006
... sebuah misteri pembunuhan yang menegangkan ... sebuah perenungan mendalam tentang cinta dan kegigihan artistik ...

Namaku Merah Kirmizi bermula di Istanbul —simbol tonggak kejayaan-Islam yang terakhir—di ujung abad keenam belas, saat Sultan secara diam-diam menugaskan pembuatan sebuah buku tak biasa untuk merayakan kejayaannya, yang dihiasi ilustrasi para seniman terkemuka saat itu.
Ketika seorang seniman dibunuh secara misterius, seorang lelaki muram dengan masa silam sekelam namanya ditugasi untuk mengungkap misteri pembunuhan yang pada akhirnya menguak jejak benturan peradaban Timur dan Barat—dua cara pandang dunia yang berbeda, berkaitan dengan kebudayaan, sejarah, dan identitas yang memicu konflik tak berkesudahan.
Melalui karya cemerlang ini, yang diramu dengan intrik seni dan politik, dongeng-dongeng klasik, serta kisah cinta bercabang yang getir, Orhan Pamuk—pemenang Hadiah Nobel Sastra—mengukuhkan dirinya sebagai salah satu novelis terbaik dunia saat ini.

Novel ini paling tidak telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan memenangkan sejumlah hadiah sastra internasional terkemuka, antara lain Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (Prancis), Premio Grinzane Cavour 2002 (Italia), dan International IMPAC Dublin Literary Award 2003 (Irlandia)