Kamis, 19 Februari 2015

Pantun Ole-ola Pawon Sastra dari mas Theopilus Yudisetiawan Yuditeha

Jalan-jalan ke Boyolali
Tidak lupa membawa tali
Daripada bersedih hati
Lebih baik kita bernyanyi


Buah melon buah leci
Sama-sama manis rasanya
Jika pawon tak ada lagi
Kita semua pasti berduka

Ole ole ola...ola ola...ola ole 2X

Warna ungu warnanya janda
Laki-laki pantang memakainya
Jika galau tak kunjung reda
Bisa-bisa jomblo selamanya

Hewan laron sayapnya patah
Muter-muter jatuh di tanah
Kalau pawon rangkanya patah
Sastra Solo jadi meranah

Ole ole ola...ola ola...ola ole 2X

Tinta hitam dan tinta biru
Untuk menulis huruf jawa
Cinta dusta dan cinta palsu
Awas ada dimana-mana

Mau mancing di danau Subang
Tidak lupa membawa jajan
Aku ingin jadi sastrawan
Dengan modal kegigihan

Ole ole ola...ola ola...ola ole 2X

Kurus kering kurang jamu
Hingga badan gampang sakit
Aku pusing karena kamu
Karena sering bicara nylekit

Jangan menulis di atas bara
Menulislah di atas meja
Jangan menangis karena cinta
Bahagialah karena sastra

Ole ole ola...ola ola...ola ole 2X

Cewek manis itu Yessita
Memakai blus warna serasi
Habis nangis lalu tertawa
Karena rindunya terobati

Manis-manis buah melon
Aku suka, kalian suka
Ganteng manis punggawa pawon
Apalagi jika tertawa

Ole ole ola...ola ola...ola ole 2X

Jika bermain pisau lipat
Jangan lupa konsentrasi
Tetaplah kita semangat
Meski sering ditolak redaksi

Jaran kepang jaran goyang
London tempat plesir-plesiran
Jangan mengumpat sembarangan
Jika karyamu dibilang suram

Ole ole ola...ola ola...ola ole 2X

Sawah rusak di pinggir kali
Karena airnya datang menerpa
Mengapa aku bernyanyi?
Untuk 8 tahun pawon sastra

Ole ole ola...ola ola...ola ole 2X

(Yuditeha,18/02/2015)

Puisi buat PAWON; Sewindu Perjalanan, dari Eko Abiyasa

Sewindu sudah perjalanan Pawon Sastra Solo. Seperti filosofi angka '8' yang tak putus-putus garisnya, tak putus-putus energi semangat beraksara. Semoga ini menjadi awal langkah yang lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.




Biji Bertunas Tak Habis-habis

1)
turunlah kau, hujan yang angkuh
tenggelamkan manusia manusia congkak
saat ini tak lebih dari ujian perjalanan
yang sarat kerikil dan bebatu gunung
yang menggelinding menancap di punggung punggung

nyanyilah kau, kecoa kecoa kesepian
bareng bau tak sedap di sekelilingmu
tetaplah melenggang di lorong lorong sengang kota
jejak jejak miskin rasa bagi orang orang yang tak mengerti
sesungguhnya engkau ada di antara ketiadaan

2)

burung burung arungi waktu
sayap sayap yang tak letih mengepak
kenangan dan aksara tetap abadi
mengudara di angkasa labirin

kaki kaki kami melangkah lebih pelan dari sayap sayapnya
tangan tangan kami tak lebih cekatan dari patukan patukannya
namun, biarlah pergulatan ini menjadi penanda nanti bahwa
kami ada untuk dikenang
kami ada untuk dipertimbangkan!


Sewindu Perjalanan

perjalanan tak akan berhenti di sini
selayaknya biji biji yang terus bertunas di kebun teh atau kopi
dipetik orang orang yang merasa kesepian
dipetik anak cucu yang hampir kehilangan arah tujuan

pergulatan tak akan berakhir di sini
selayaknya hujan yang tak sudah sudah basahi kenangan
didekap keriangan aksara
digegap sewindu: tahun tahun suka duka!