Thursday, 5 May 2016

#BincangSastra Solopos FM Juni 2016


Siapa Sosok Kriapur, Poer Adhie Prawoto & Budiman S Hartojo?




Kriapur
atau Kristianto Agus Purnomo, lahir di Solo, 6 Agustus 1959. Penyair yang sempat digadang-gadang sebagai salah satu penyair paling berbakat ini meninggal dalam usia relatif muda, 28 tahun. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di daerah Batang, 17 Februari 1987. Tulisannya kerap dimuat di berbagai media. Majalah Horison bahkan pernah mengangkat sosok dan puisi-puisinya sebagai sisipan di bulan Desember 2004, beberapa tahun setelah kepergiannya.  Kriapur memang belum meninggalkan buku puisinya secara utuh, untuk mengenangnya, puisi-puisi berikut diangkat dari gabungan  manuskrip yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta saat mengenang Kriapur, juga dari majalah Horison.

Poer Adhie Prawoto
atau Poerwantoro Adhie Prawoto lahir di Blora 7 Maret 1950.  Mengambil pendidikan di SPG Negeri Blora (1968), SPGLP Kudus jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (1989), kemudian di FKSS-IKIP Negeri Bojonegoro jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengajar di Cepu, Kudus dan Blora. Pada tahun 1980 bersama keluarganya pindah ke Solo dan mengajar di Gondangrejo, Karanganyar. Tulisannya banyak tersebar di Suara Merdeka, Jawapos, Kedaulatan Rakyat, Sinar Harapan dan juga Kompas. Banyak antologi geguritan yang telah dihimpunnya. Pernah menjadi redaktur koran Parikesit (Solo) juga buletin sastra jawa, Baluwerti dan Wahana Sastra Jawa yang diterbitkan PKJT dan TBJT.
Walau terkenal sebagai penggurit, Poer Adhie Prawoto juga aktif sebagai seniman dan budayawan, bahkan pada satu acara pernah ikut main kethoprak yang melibatkan seniman, budayawan dan wartawan Surakarta di RRI Solo.
Bukunya yang telah terbit Kritik Esai Kesusasteraan Jawa Dan Modern(1989) Wawasan Sastra Jawa Modern (1991), Antologi Cerita Pendek Jawa Modern dan Masyarakat Samin, Tinjauan Sosio-Kultural.
Semasa hidupnya berusaha menjadi dokumentator Sastra Jawa Modern. Tahun 2001, ketika sedang semangat-semangatnya mempersiapkan karyanya yang baru, Poer Adie Pr awoto dipanggil Allah SWT dalam usia 51 tahun. Meninggalkan seorang istri, dan  dua putranya, Waskita Danardana  dan Laksita Yudhistira.

Budiman S. Hartojo
Sejak kecil Budiman S Hartojo dididik di rumah oleh ayahnya sendiri yang menjadi guru pada Madrasah Tinggi "Mamba'ul Ulum" milik Kraton Kanunanan Surakarta. Sejak 1972 bekerja sebagai redaksi majalah Tempo. Sebelumnya giat di kota kelahirannya, Sala, menyelenggarakan ruang sastra "Sumbangsih" pada mingguan Surakarta dan membantu siaran sastra dan sandiwara RRI studio Surakarta. Antara 1966-1968, menjadi pemimpin redaksi majalah Genta, dan anggota redaksi majalah Patria, keduanya terbit di Sala. Juga pernah menjadi sekretaris PWI cabang Sala. Puisi-puisi awalnya dimuat dalam majalah-majalah mahasiswa di Yogya seperti Pulsus, Criterium, Uchuwwah, Media, dan Gajah Mada. Kemudian merambah ke beberapa majalah budaya seperti Basis, Budaya, Gelora, Waktu, Mimbar Indonesia, Gelanggang, Sastra, Horison, dan Budaya Jaya.

#BincangSastra Solopos FM Mei 2016


Friday, 22 April 2016

#Bincangsastra Solopos FM 20 Maret 2016: Sosok Umar Kayam, oleh Yunanto Sutyastomo



Tiba – tiba saja Yudhi Herwibowo menganti jadwal siaran Bincang Sastra, dan aku kebagian untuk menjadi narasumber tentang Umar Kayam, Pak Kanjeng dari Yogya. Umar Kayam sebenarnya priyayi Ngawi, dia lahir di kota itu yang dalam novelnya Para Priyayi disebut dengan Wanagalih, sebuah kota yang dekat dengan hutan yang luas.
Kota Ngawi atau Wanagalih menjadi asal usul keluarga Sastrodarsono, seorang anak petani yang ingin menjadi priyayi dengan belajar di sekolah guru, dan akhirnya Sastrodarsono memang seorang priyayi ulung, bukan semata – mata karena posisinya sebagai guru, tapi sikap – sikap dia dalam menghadapi persoalan keluarga, dengan ketenangan yang luar biasa mampu diselesaikan ( jadi ingat Soeharto yang juga begitu tenang). Dari keluarga kecil di Wanagalih anak cucu Sastrodarsono menjadi sebuah keluarga besar, dan beberapa keturunan mereka jadi orang penting di Indonesia.
Sosiologi , itulah yang ditampilkan dalam dua novel Umar Kayam berjudul Para Priyayi, dan Jalan Menikung. Mereka yang berada di strata sosial menengah bawah berusaha naik kelas menjadi kelas atas, dan salah satu caranya dengan menjadi guru. Ketika jaman berubah, situasi politik membuat situasi sosial juga berubah. Ada beberapa tokoh dalam novel ini yang kemudian memperlihatkan perubahan tersebut, generasi kedua yang diwakili oleh Nugroho, anak sulung Sastrodarsono yang ikut bergerilya , dan kemudian menduduki posisi penting di pemerintahan pasca kemerdekaan. Kelas sosial tidak lagi ditandai dengan adanya guru, tapi berupa jabatan di pemerintahan yang korup.
Sementara keponakan Nugroho yang bernama Harimurti menjadi aktivis Lekra, sebuah lembaga seni yang anti kemapanan, dan cenderung kiri. Harimurti membrontak pada kondisi yang ada, dan harus menerima resiko ketika peristiwa 65 terjadi, dirinya kemudian tidak berdaya dengan perubahan kekuasaan, menanggung segala resiko. Dua tokoh yang sangat dekat ini berada di situasi jaman yang menjadikan mereka saling menjaga jarak, walau pun Nugroho yang menjadi priyayi kelompok sosial ekonomi atas akhirnya menolong sang keponakan yang menjadi korban politik.
Satu tokoh lagi bernama Lantip, cucu keponakan Sastrodarsono. Lantip ibarat Lembu Peteng, anak yang hasil hubungan gelap, anak yang tidak diinginkan kehadirannya. Tapi oleh Umar Kayam tokoh ini menjadi sosok yang mampu bersikap bijak, tokoh yang diperlukan oleh setiap anggota keluarga. Tokoh ini seperti kerap hadir dalam ketoprak Mataraman, seperti Ki Juru Martani yang menjadi penasihat Panembahan Senopati. Masa lalunya yang tidak jelas, dan kelam ditembus dengan kemampuan dirinya untuk beradaptasi dengan situasi yang menjadikan dirinya dewasa, jelas sekali Umar Kayam melalui tokoh ini menunjukkan ke – Jawa – an dirinya baik sebagai penulis mau pun sebagai seorang budayawan.
Lewat dua novel ini kita mengetahui cara orang Jawa berkomunikasi, menyelesaikan berbagai persoalan, tapi juga tahu sikap orang Jawa yang kadang ingin jumawa diantara saudara – saudara mereka. Lantip yang protagonis seperti gambaran Jawa yang bijak, dan santun. Harimurti yang memberontak menunjukkan Jawa yang bisa membrontak, dan Sastrodarsono yang merupakan pokok akar pohon keluarga menjadi sosok orang tua yang berusaha mendidik anak cucunya dengan nilai – nilai yang diyakininya.
Dalam kehidupan pribadinya di Bulaksumur, Yogya Umar Kayam sebenarnya hidup dalam atmosfir budaya Jawa yang cukup kuat waktu itu, Umar Kayam menikmati betul posisinya di Yogya, baik sebagai dosen, mentor kesenian, dan tokoh budaya. Dirinya menjadi pelopor adanya Festival Kesenian Yogya, Kayam pula yang berada di belakang dua penyair terkenal Yogya saat itu ; Linus Suryadi, dan Emha Ainun. Beberapa orang juga mengenalnya sebagai Bung Karno dalam film G/30S, dan Jakarta 66. Yang mungkin jarang diketahui orang, bapaknya Umar Kayam salah seorang guru, dan salah satu muridnya adalah Sartono Kartodirdjo, guru besar Sejarah UGM.
Untuk kariernya di pemerintahan, Umar Kayam pernah menjadi Dirjen RTF tahun 1966 – 1969,  kemudian Ketua Dewan Kesenian Jakarta tahun 1968 – 1971, dan Umar Kayam pernah juga menjadi ketua LPKJ. Banyak orang jarang mengetahui kiprah politik Umar Kayam yang memiliki kedekatan dengan Sri Sultan HB IX, dan Adam Malik, tapi Umar Kayam sepertinya lebih memilih untuk tidak terlalu jauh terlibat di dunia politik.

foto diambil dari: https://m.tempo.co/read/news/2012/09/29/078432697/alasan-umar-kayam-mau-jadi-soekarno

Pawon #47 tahun Tahun IX / 2016: Tiga yang Dikenang Hari Ini dan Esok!


Memasuki tahun kesembilan, edisi Buletin Sastra Pawon berikutnya adalah kumpulan puisi dari 3 penyair solo yang tinggal meninggalkan jejak puisi2nya: tiga yang akan dikenang hari ini dan esok!

Masih mengenali wajah2 mereka di cover ini?
Mereka adalah: Kriapur, Poer Adhie Prawoto dan Budiman S Hartojo.

Terima kasih buat kawan2 yang sudah membeli buku Widyawati dari pawon (melalui mbak Indah Darmastuti) karena semua selisih produksi dan penjualan dari buku itulah yang digunakan untuk menerbitkan buletin edisi kali ini.

Bincang Novel Lawas Widyawati - Arti Purbani, Griya Solopos, 8 Mei 2016


Bacabareng & Obrolbareng Novel Lawas Widyawati - Arti Purbani


novel WIDYAWATI karangan ARTI PURBANI
tak banyak yang mengetahui bila Arti Purbani adalah Partini Djajadiningrat, putri sulung Mangkunegaran VII. sosok yang patungnya berdiri tegar di Taman Balekambang Solo
Untuk mengenangnya pawon akan membuat bincang2 tentang sosoknya sekaligus tentang salah satu novelnya.
Buat kawan2 yang berminat membeli bukunya bisa menghubungi Indah Darmastuti.

Pengumpulan Naskah Antologi Peserta Workshp Menulis Sehari