Senin, 02 Juni 2014

Warisan Penting dari Penyair Solo: Hartojo Andangdjaja, oleh Indah Darmastuti

Siang itu, 10 Mei 2014, Pawon bersilahturahmi di kediaman penyair dari Solo, Hartojo Andangdjaja (HA) di Kampung Tegal Kembang, Pajang. Rumah itu sederhana, bersih dan banyak pepohonan di taman di halamannya.
Saat Pawon (Puitri, Ngadiyo dan Indah) mengetuk pintu, seorang ibu berkerudung membuka pintu dan menyambut kami. Beliau adalah Ibu Istida, istri almarhum HA (4 Juli 1930 – 30 Agustus 1990).
Kami berbincang santai sambil sesekali membuka-buka buku-buku yang ditulis dan diterjemahkan oleh HA.
Dalam perjalanan hidupnya, HA pernah menjadi guru di Sumatra, kemudian kembali ke Solo dan mengisi hidupnya dengan menulis. Hingga HA menikah dengan Istida di Sondakan hingga dikaruniai anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Namun sekarangm Ibu Istida hanya ditemani oleh Haris, anak laki-lakinya karena Fitri – si anak perempuan - sudah meninggal beberapa tahun lalu. 
Siang itu Ibu Istida menuturkan dengan terbata, bagaimana perjuangan HA menjadi seorang penyair. Awalnya HA menulis dengan mesin ketik pinjaman dari kawan yang tinggal di dekat Gedung Batari. Pergi ke sama dengan naik sepeda dengan kepala yang penuh huruf dan kata yang mendesak untuk segera dituangkan menjadi tulisan.
Hingga kerja keras itu membuahkan banyak tulisan sehingga dari royalti atau honor yang didapat akhirnya HA mampu membeli sebuah mesin ketik sehingga akhirnya ia bisa mengetik kapan pun ia inginkan. Kerap pada tengah malam, HA bangun lalu menulis di mesin ketiknya. Atau pada pagi buta, atau pun sore hari.
Sebagai penyair besar, yang karyanya masuk dalam pelajaran sekolah, atau puisinya kerap menjadi puisi wajib pada lomba baca puisi, HA dan keluarganya tetap menjalani kehidupan biasa-biasa saja. bahkan secara ekonomi, pernah merasakan amat kekurangan.
Kami mendengar dengan hening dan takzim bagaimana masa itu, Semua terasa menjadi sulit bagi keluarga HA yang sudah memiliki dua anak tetapi tidak memiliki penghasilan tetap. Hingga pada suatu hari Lebaran (tahunnya lupa) mereka tidak memiliki uang sama sekali. Padahal ada selembar wesel honor tulisan, tetapi tak bisa diapak-apakan karena kantor pos sudah tutup karena wesel tiba terlalu sore, beberapa jam sebelum takbir berkumandang. Ketika menuturkan itu, Ibu Istida beberapa kali menyusut air mata. uang dari mana untuk membayar becak yang akan mengantarnya sowan kepada orang tua untuk sungkem? Namun selalu saja, keajaiban terjadi pada situasi mendesak. Sekali lagi, Ibu Istida menyusut air mata.
“Saat saya berjalan di gang kecil, saya melihat ada uang tergeletak di jalan. Dua ribu rupiah. Saya ambil, lalu saya pakai untuk naik becak, sowan kepada orang tua.” tuturnya terbata.
Suka duka sudah dijalani dengan setia, sebagai istri penyair. Kini Ibu Istida masih menghidupi kenangan akan almarhum suaminya. Banyak tamu yang datang untuk bercakap dan mengadakan penelitian tentang HA.
Ada cerita mengharukan tentang ini. Suatu ketika, ada tetangga rumah bersama kawan wartawan dari Jogja, bermaksud menjiarahi makam ayahnya. Kemudian, si Wartawan barangkali iseng melihat-lihat dan membaca nama yang tertera di nisan-nisan kusam. Maka, terbacalah nama Hartojo Andangdjaja. Mas Wartawan bertanya kepada kawannya, “Siapa yang berbaring di dalam sana? Apakah Hartojo sang Penyair?”
“Iya, benar.”
“Astaga! Telah lama aku mencari dan mempelajari tentang dia. Sekarang aku bertemu dengan nisannya.”
Maka, tetangga tersebut mengajak Mas Wartawan mengunjungi Ibu Istida. Semesta selalu menjawab dengan caranya, pada setiap pertanyaan penting yang lahir dari kedalaman hati manusia.
Bincang-bincang tenang itu akhirnya menuju sebuah kesepakatan penting. Yang mana, seijin Ibu Istida, kami akan menyalin (mengetik) Puisi-puisi HA yang ditulis tangan pada 1953- 195-. Buku tipis, cokelat dengan tinta biru pudar itu kami bawa. Kami akan kembalikan lagi pada Ibu Istida setelah selesai kami salin. Tetapi tidak untuk manuskrip setebal 687 hal.
Manuskrip tersebut adalah terjemahan atas buku Raffles, Sejarah Jawa atau uraian tentang Pulau Jawa (jilid 1) manuskrip tersebut, oleh Ibu Istida dan anaknya, telah diserahkan kepada Pawon. Manuskrip tersebut adalah tembusan. Ketikan asli konon sudah dikirim kepada seorang tokoh sastra terkemuka melalui Bank Naskah. 
Tentu saja, Pawon merasa mendapat kehormatan saat keluarga HA memercayakan manuskrip tersebut, meski kami belum tahu apakah kami akan mewujudkannya menjadi buku. Kami menerima dengan perasaan penuh. Sebab sejatinya kami bukan sedang menyelamatkan kertas usang itu, tetapi kami telah merunut jejak karya penyair besar. yang semoga spiritnya menular kepada kami untuk merawat literasi dan megasah intelektual.
Siang itu, kami telah menunaikan salah satu tugas Pawon yang memutuskan untuk merawat dan memberi penghormatan kepada penyair-penyair, penulis dan pemikir, khususnya yang pernah mengalami persinggungan dengan Solo. Sebuah langkah kecil, untuk merawat tradisi belajar dan mempelajari sisi kemanusiaan bijak dan bajik dari penulis dan pemikir besar. Salah satunya: Hartojo Andangdjaya. [ID]  


Tentang Kamu dan Lawatan PAWON Sastra, oleh Astuti Parengkuh

Ini kisah tentang kamu : Perempuan kepala keluarga, ibu tiga orang anak.
Berawal dari rasa yang kamu pendam semenjak dua tahun lalu, ingin pergi berkereta ekonomi dengan jurusan Banyuwangi yang berjarak tempuh 12 jam. Mulanya saat anakmu berpamitan hendak bertualang ke Kawah Ijen. Tak hanya itu beberapa waktu kemudian dia juga berkereta ke Surabaya dalam acara kepenulisan. Tak mempan dengan bujuk rayumu yang ingin mengikuti dia dan kawan-kawan kuliahnya, kamu pun cukup tepekur,"Awas kalau aku ada kesempatan! Pasti aku bisa berkereta Sri Tanjung,"batinmu.

Suatu saat kamu membaca sebuah postingan teman dari komunitas sastra yang cukup termasyur di kotamu, Pawon Sastra, mengabarkan bahwa urusan tiket kereta api dalam acara lawatan sastra ke Banyuwangi telah siap. Kamu lantas bertanya kepada temanmu tersebut, apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk bisa ikut rombongan. Setelahnya pembicaraan berlanjut lewat SMS di ponsel. "Syaratnya ya beli tiket", begitu jawabnya. Lalu di siang itu, kamu lantas mencari info tiket kereta ke swalayan dekat rumah. Namun mesin operator mati. Kamu pun mengayuh sepeda, mendatangi swalayan yang lain. Mesin juga tak bisa dioperasikan. Terpaksa kamu membeli tiket dengan mengantre dua jam di stasiun di hari berikutnya, dan kamu mendapatkan tiga tiket untuk keberangkatan di hari yang sama dengan rombongan lain, dan tiga tiket pulang di hari yang beda. Tak apa-apa, batinmu. Lantas kamu berkirim pesan kepada pengasuh Pawon, Yudhi Herwibowo dan Mbak Sanie serta Mbak Indah bahwa kamu bertiga ingin ikut rombongan ke Banyuwangi dan telah mengantongi tiket kereta.

Sabtu pukul 8.45 hari ke-24 tahun 2014,Stasiun Jebres Solo, Wulang anak bungsumu serta Ayu R. Hidayah, mahasiswi akademi fisioterapi, penulis cerita remaja yang cerpennya menembus media nasional, dan beberapa kali dimuat majalah Gadis menjadi teman perjalananmu yang mengasyikkan: Wulang yang cerewet, usil serta Ayu yang pendiam. Dua kali kamu bergabung ngobrol nyamperin kawan-kawan rombongan di gerbong yang lain : Mbak Sanie, Mbak Indah, Mbak Puitri, Bandung Mawardi, Yudhi, Rio, Seruni, Linggar , Ngadiyo, dan Fauzi (Impian dan Vita ikut kereta keesokan harinya, karena sangat tidak mudah untuk membolos kuliah bagi mahasiswa S2 yang mengaku sangat rempong dengan urusan tugas-tugas).

Eh, lupa nyebutin Lukas Jono. Berkali-kali di even kepenulisan dan jika Pawon Sastra punya gawe kawan dengan tinggi badan jangkung serta berkaca mata tebal, berkulit hitam dan bersenyum manis ini selalu datang. Lukas Jono adalah salah satu kawan yang unik di rombongan kamu. Dia berbeda, sungguh berbeda untuk mengatakan, bahwa hanya segelintir teman saja yang bersedia berkomunikasi secara intensif dengan kawan istimewa ini. Tetapi...kamu yang kepo berat telah berhasil mencuri perhatiannya, dan mengorek sedikit tentang dirinya bahwa dia si Lukas Jono adalah kawan yang lulus pendidikan kejar paket C (setelah sempat sekolah Tata Boga selama setahun di sebuah SMK di Salatiga). Dan oleh psikolog yang ditemunya, dia dianjurkan untuk terapi menulis. Dan benar, dengan keponya kamu bertanya berapa karya yang sudah ditulisnya, dia menjawab ada 600 puisi. Tetapi meski belum ada yang dimuat, dengan bangga si Lukas berkata bahwa karya pantunnya termuat di salah satu antologi yang bergengsi. Dahsyat!

Saat kereta melewati stasiun Jember, dengan lucunya tanpa ekspresi anakmu menyebutnya "Jember" (dengan huruf e dibaca seperti dalam kata 'ember'). Kamu menertawai kekhilafannya. Oh ya, ketika kereta berada di pemberhentian stasiun Wonokromo, naiklah serombongan keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, anak-anak dan menantu serta para cucu. Mereka ada yang duduk di depanmu. Lagi-lagi dengan keponya dirimu merasa sok kenal sok dekat (SKSD) menanyai tiga perempuan muda, "Kalian tiga bersaudara?" tanyamu. Lalu dijawab oleh salah satu dari mereka,"Iya. Dan ada lagi kakak kami duduk di belakang bersama suami-suami dan anak-anak mereka,"jawabnya.

Tiga perempuan muda yang duduk di depanmu menawari beberapa makanan yang mereka bawa. Tetiba, sebuah pemandangan di luar kereta menyita perhatianmu, deretan tanggul tinggi dan mengular. Kamu bertanya kepada salah seorang yang ada di depanmu, apakah itu lalu dijawab bahwa kereta kalian tengah melewati Porong dan pemandangan yang ada di hadapanmu adalah tanggul untuk menampung lumpur Lapindo! Kamu lantas berdiri hendak melihat seberapa jauh arah matamu mencapai apa yang ada ada di seberang. "Tanggulnya sangat tinggi, tentu tak bisa terlihat apa yang ada di dalam sana"tambahnya.

Lewat SMS, Mbak Indah Darmastuti, kawanmu yang menjadi organizer acara menghubungi jika rombongan akan turun di stasiun Kalistail, bukan Banyuwangi Baru seperti tertera di tiket. Itu artinya, jadwal pemberhentian juga berbeda, yakni pukul 19.45 dan bukan pukul 20.30. Tepat pukul 19.45 kereta berhenti di stasiun Kalistail. Sepuluh menit menjelang kereta menepi, ada tiga SMS masuk, semua dengan bahasa yang sama, Mbak Sanie : "Ayo gabung skrg sj" lalu Fauzy : "....Kita sudah melewati stasiun Glenmor, artinya tinggal melewati Sumberwadung. Sebelum kita melewati stasiun Kalistail. Siap!" Ngadiyo : "Wil. Banyuwangi stasiun dimulai : Sta.Kalibaru-Glenmor-Sumberwadung-Kalistail (13 0rang turun di sini)"

Benar, kereta berhenti di stasiun Kalistail, Genteng. Jika bisa dibagi dua, wilayah Banyuwangi bagian selatan dan utara pembatasnya adalah Genteng. Jadi Genteng ke selatan adalah banyuwangi selatan.Tak tahu apa pun, siapa nanti yang dituju (karena nggak segerbong jadi nggak update) , kamu dan kedua kawan segerbongmu (Wulang dan Ayu) mengikuti saja rombongan lain. Baru di situ kamu paham, jika acara lawatan sastra tersebut akan dituanrumahi oleh seorang dosen dari perguruan tinggi yang berada di pondok pesantren Darussalam, Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA). Dosen Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia  tersebut, namanya Pak Nur Saewan adalah karib Bandung Mawardi, esais tersohor. Setelah dua mobil penjemput siap, maka semakin jelas pula acara lawatan sastra karena dengan sangat gamblang Pak Nur bercerita di sepanjang perjalanan menuju rumahnya.

"Besok itu Mas Bandung mengajar bapak dan ibu dosen serta mahasiswa di pondok, sedang kawan-kawan yang lain sharing kepenulisannya di rumah saya. Para mahasiswa yang aktif di kepenulisan, serta dari komunitas sastra saya undang ke rumah. Kita bisa berdiskusi dengan santai, boleh sampai larut malam,"celoteh Pak Nur sambil menyetir."Inggih, siap Pak Kyai,"jawab kamu yang duduk di sampingnya. "Jangan panggil saya Kyai," jawab Pak Nur sambil melepas pecinya. Lantas kamu dan kawan-kawan lain ditanya oleh Pak Nur, berasal dari daerah mana saja. Kamu, yang terkadang suka kepo, dan ceriwis (bingit) tanpa ditanya langsung bicara,"Rumah saya selisih satu gang dengan Habib Syech, ulama tersohor itu, di kampung Semanggi, Pasar Kliwon," lalu Pak Nur pun menjawab, "Oh ya ya, saya pernah mendengar namanya. Yang hari ini di koran diberitakan mendukung Mahfud MD kan?" lalu kamu pun menjawab,"Waduh, saya hari ini tidak membaca koran, Kyai!" lalu pembicaraan berlanjut dengan hal lain-lain, soal kepenulisan.

Setelah perjalanan satu jam menembus pekatnya malam. Untuk ketiga kalinya kamu membaui udara Banyuwangi (Kedua perjalanan sebelumnya adalah saat kamu dan keluarga menempuh perjalanan ke Bali). Di sepanjang jalan, cerita Pak Nur tentang bupati Banyuwangi yang saat ini tengah menjabat adalah bupati yang berasal dari kampung dekat rumahnya. Kamu yang kepo, langsung berselancar di internet mencari tahu tentang bupati Banyuwangi (yang ada beberapa media mengatakannya sebagai bupati reformis). Kamu langsung teringat dengan mantan wali kotamu yang aduhai prestasi kerjanya. Sayangnya, kamu tidak bisa mengorek prestasi bupati Banyuwangi yang saat ini sedang menjabat. Pembicaraan seperti melompat-lompat antara rencana-rencana yang tengah disusun untuk dua hari ke depan, Minggu dan Senin. "Senin kita jadwalkan acara pelatihan di pantai Pulau Merah," dalam hati kamu berteriak, "Cihuy!" :)

Sekira pukul 20.30 sampailah rombongan dua mobil ke rumah Pak Nur. Sebuah rumah cukup besar berlantai dua dan berhalaman luas. "Kalian para perempuan menempati lantai atas dan para laki-laki bertempat di satu kamar besar di lantai bawah,"ujar Pak Nur.  "Di depan rumah ada sekolah TK dan PAUD yang kami dirikan sejak tahun 2007,"tutur Pak Nur di sela-sela perbincangan pada saat kalian makan malam bersama. Kepala sekolah dijabat oleh istri Pak Nur, Bu Binti. Sekolah TK dan PAUD Tunas Bangsa menerima murid dengan segala keadaan dan agama. Tak hanya bagi yang beragama islam saja, namun juga kristen, katolik dan Hindu. Sekolah yang berjarak beberapa langkah saja dari pintu samping rumah kentara terlihat dengan lukisan-lukisan bercorak kanak-kanak yang menempel di dindingnya. Sedangkan jarak rumah Pak Nur dengan pondok pesantren Darussalam sekira 2 km.

Malam itu hidangan yang disuguhkan sungguh menggugah selera, sayur pecel, lodeh, tahu dan tempe dan tak lupa kerupuk. Sayur disajikan dengan rasa pedas pas di lidah.  Pengalaman pertama makan malam yang mengasyikkan. Tamu yang berjumlah 13 orang di hari pertama diberi keleluasaan tak ubahnya seperti rumah sendiri. "Hari Minggu besok silakan kalian beristirahat hingga pukul 12 siang dan setelahnya baru acara sharing kepenulisan dimulai" kata Pak Nur. Saat itu langsung tebersit di kepalamu sebuat tempat eksotik dan selalu ingin kamu kunjungi di setiap menempuh perjalanan : Pasar!

Pagi Pertama di Bumi Blambangan

Beberapa larik puisi terlahir pada kedalaman rasa. Kamu mengetikkannya pada alat teknologi yang selalu kamu bawa ke mana saja.


dear, catatanku
ingin kuceritakan tentang sebuah tempat
di mana kami disambut hangat dengan segenap semangat
dan di sini, matahari yang kita lihat masih sama
juga kerlip bintang semalam

ini tentang suara merdu perkutut di belakang rumah pak haji
dan ayam-ayam yang berlarian mencari makan
bukan  kesepian yang mencekam

tentang pagi pertama di bumi blambangan

banyuwangi, 25/5/2014


Sebelum azan subuh berkumandang kamu telah bangun. Bukan sebab apa tapi kamu mesti mengantre kamar mandi. Pikirmu tak ada masalah dengan air dan kamu mandi sepuasmu, gebyar-gebyur seperti saat di rumah, padahal ternyata air dijatah! "Kamu sedang mandi rasanya terdengar seperti sedang berperang, hehe..."canda kawanmu. Dan lihatlah betapa malu air mukamu saat mendengar sendiri dari tuan dan nyonya rumah jika air lagi sepai (sepi) alias sumur resapan sedang kering kerontang. Kamu yang di hari pertama menghabiskan air dan membiarkan kawan perempuan untuk mandi di kamar mandi bawah dan kamar mandi sekolah TK baru sadar.  "Besok-besok lagi kalau urusan mandi aku paling akhir saja ya, sebagai penebusan dosa, wkwk!"begitu katamu kepada kawan-kawanmu.

Sarapan pagi pertama menunya nasi pecel, lodeh, bakwan jagung dan ikan pindang goreng. Hhmmm...nyam-nyam. Seusai sarapan maka kamu sepakat bersama beberapa kawan perempuan untuk mengikut Ibu (istri Pak Nur) ke pasar. "Jalan kaki saja, dekat kok,"ujar Ibu. Sampailah di pasar yang berjarak kurang dari 500 meter. Beberapa orang pedangang kamu amati dengan seksama : rata-rata berjenis kelamin laki-laki. Namun tidak untuk ibu penjual tembakau yang berjualan di pinggir jalan, di luar area pasar. "Di sini ada cenil juga ya, cenil adalah makanan yang dibuat dari tepung pati kanji (singkong). Saya beli dua ribu, Bu,"Katamu kepada pedagang penganan lenjongan  (campuran ; cenil, singkong, ketan, jadah).

"Wow, di dalam pasar sini juga ada kios toko emasnya dan rame! Ini bisa sebagai pertanda bahwa perekonomian penduduk desa ini sedang bagus,"katamu 'ngasal' berteori kepada salah seorang kawanmu. "Di luar pasar juga ada lho toko emasnya. Malah lebih gede,"jawab kawanmu. Sesaat kemudian tibalah kamu di warung penjual jamu. "Apa itu,Pak? Kopikah?"tanyamu kepada pedagang tua yang sangat telaten menjelaskan apa itu kopi yang hendak kamu beli."Ini namanya kopi buriyah, asli kopi dari Banyuwangi sini,"kata si bapak tua. "Wow! Boleh saya beli 1 ons saja?"tanyamu. "Boleh saja, silakan. Nanti kalau perlu diselep, ada kok selepan di sebelah sana,"kata pak tua sambil menunjuk suatu tempat.

Setelah kantong plastik kecilmu penuh dengan belanjaan, tak lupa kamu membeli asbak aluminium (entah untuk siapa, tak ada perokok lagi tinggal di rumahmu) maka kamu bergegas gabung dengan kawan lain, kembali ke rumah Ibu. Saat berjalan Ibu memilih jalan pintas melewati kebun milik seorang tetangga. "Numpang lewat ya, Pak,"seru Ibu. "Iya Bu...lhoh temannya banyak ya?" jawab ramah seorang bapak tua, dia seorang difabel netra. Dengan yakin si bapak mengetahui jika Ibu bersama kawan yang tak sedikit. Mungkin disimpulkannya dari suara langkah kalian. Tentu bagi difabel netra, indera pendengarannya lebih sensitif. Lewat Ibu pula, kamu yang kepo mengetahui jika si bapak difabel netra tersebut tinggal bersama saudaranya. "Dia mahir lho membuat layang-layang dan menerima pesanan. Jika sedang musim bisa membuat yang sangat besar, dan layang-layang itu disertai bebunyian. Nanti si bapak sendiri yang memainkannya di tanah lapang."

Setelah dari pasar kamu dan beberapa kawan tertarik untuk pergi ke hutan jati milik Perhutani yang berada 200 meter dari rumah Pak Nur. Setelah  ikut sesi jeprat-jepret oleh fotografer Yudhi Herwibowo, maka kamu dan Mbak Sanie memutuskan untuk balik ke rumah. "Beneran kalian berdua hanya sampai di sini? Nggak nyesel? Di depan ada danau yang sangat indah lho,"bujukan Yudhi tak mempan di telingamu. "Kayaknya dari kemarin aku nggak pernah sekalipun mendengar kata 'danau' deh,"kamu beralasan. "Ya udah kalau begitu. Tapi beneran nggak nyesel?"goda Yudhi. Kalian berdua lebiih memilih balik ke rumah sambil melihat-lihat pepohonan jati yang menjulang tinngi  dan kopi yang sebagian buahnya telah memerah. "Ada banyak  buku dan novel yang mengambil kopi sebagai tema besarnya,"kata Mbak Sanie.

Cerita masih panjang, namun kamu capek meneruskan....sambung nanti.  :)

Di teras samping rumah Pak H. Nur Saewan, Karangdoro Blokagung Banyuwangi

Foto-foto di Banyuwangi (2)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Foto-foto di Banyuwangi (1)