Friday, 6 November 2015

Satu Sisi Seorang Damhuri, Wawancara Indah Darmastuti




Tentu menarik ketika kita bisa mengetahui pemikiran atau pendapat tentang Sastra dan nilai-nilai subtil menyoal dunia membaca dan menulis dari sastrawan, siapa pun dia. Baik itu senior yang artinya telah lama berkelindan dengan dunia baca-tulis sastra, atau yunior yang belum lama menggeluti sastra. Pawon tak memersoalkan itu. Bagi kami, setiap orang adalah guru.
Dan pada kesempatan kali ini, Pawon mengajak pembaca untuk menyimak lebih dekat bagiamana asyik dan menariknya dunia sastra Damhuri Muhamad. Pawon telah memersilakan Indah Darmastuti untuk bebincang dengan DM.     


Karya Sastra
Menurut Mas Damhuri, apa yang terpenting dari kehadiran sebuah karya sastra?
Yang tak dapat disangkal, karya sastra adalah produk dari kerja artistik, atau kita sebut saja karya seni. Tapi bagi saya, karya sastra adalah semacam jalan lain yang dapat mengantarkan para pembaca atau penikmatnya pada kejernihan dalam melihat peristiwa-peristiwa kemanusiaan. Filsafat dan segala bentuk disiplin keilmuan sosial-humaniora turunannya tentu berpretensi menyingkap kejernihan dari berbagai persoalan kemanusiaan, dengan segala macam pencapaian meta-teoritiknya, namun ada tanjakan, turunan, atau medan-medan  terjal-berliku tertentu yang hanya bisa ditempuh-diterabas oleh karya sastra. Itu sebabnya ketika eksistensialis Jerman, Martin Heidegger, kewalahan membahasakan gagasan-gagasan kefilsafatannya, ia tunjuk saja salah satu puisi karya Friedrich Hölderlin. “Nah, itu maksud saya,” kata Heidegger. Dengan begitu, saya ingin mengatakan, kehadiran karya sastra adalah kehadiran karya kreatif yang sedapat-dapatnya berupaya menggilas,menghancur-luluhkan ide-ide metateoritik yang rigid itu, di dalam dunia imaji. Produk akhirnya bisa berupa kisah, cerita, dongeng atau bahkan mitos yang secara terang-terangan hendak dimusnah-lenyapkan oleh kedigdayaan filsafat. Kehadiran karya sastra, bagi saya, mesti dipandang sebagai kehadiran pikiran dalam wujud yang ganjil, tanpa pretensi, tanpa arogansi untuk meniscayakan, bahkan seolah-olah tanpa tujuan (telos) sama sekali. Sifat “rendah hati” itulah yang membuat karya sastra menjadi istimewa dan senantiasa dihormati hingga kini.    

Jika melihat kondisi sekarang, meluapnya buku-buku yang diterbitkan tidak berbanding lurus dengan minat baca. Bahkan Indonesia tergolong Negara yang rendah minat baca, menurut Mas Damhuri, apa yang harus dilakukan untuk mengikis prosentase itu?
Di dunia literasi, tugas kita tidak bisa berhenti setelah buku-buku diproduksi dan ter-display di toko atau perpustakaan. Menurut hemat saya, dalam revolusi teknologi informasi yang terus bergulir hingga kelisanan merajalela dalam cara dan metoda yang paling mutakhir, minat baca mesti dirangsang dan dibangkitkan. Bila tidak, masyarakat kita akan semakin terkepung dalam “imperium kelisanan” yang berbahaya. Semestinya negara hadir dalam persoalan minat baca ini. Tapi celakanya, pemerintah malah membubarkan Dewan Buku, yang sebenarnya dapat diharapkan bekerja dalam membangun dunia literasi di Indonesia. Begitu juga dengan asosiasi penerbit seperti IKAPI. Alih-alih berkomitmen membangun iklim literasi, malah sibuk dengan pekerjaan Event Organizer (EO) pameran-pameran buku, baik dalam maupun luar negeri. Tidak ada itikad, apalagi political will, untuk membangun iklim literasi, baik di lingkungan produsen buku itu sendiri, apalagi di lingkungan pemerintah.  Komunitas-komunitas penggerak dunia literasi semacam Pawon inilah yang akhirnya mengambil tugas besar itu. Dengan segala keterbatasan mereka membangun kantong-kantong perayaan dunia membaca. Jumlahnya mungkin tidak banyak, hasilnya mungkin tidak bisa massif, tapi apa boleh buat. Hanya itu yang bisa dilakukan di republik yang  terus-menerus mendambakan sebuah social-capital guna menggerakkan roda perubahan. Tapi social-capital apa yang bisa diharapkan dari masyarakat yang “buta-huruf”?  

Akhir-akhir ini, kita sering mendapati buku-buku yang masih tergolong baru, segera masuk ke dalam daftar buku obral. Menurut Mas Damhuri, apa penyebab paling berat dalam kasus itu?
Itu  faktor bisnis saja. Industri tentu tidak boleh berjalan lambat. Break Even Point (BEP) alias balik modal harus segera tercapai. Cara paling cepat, ya ngobral. Itu karena para produsen tidak berupaya membangun iklim literasi. Kalau minat baca tinggi, buku-buku tidak harus banting harga untuk dapat terjual. Begitulah akibat dari kurangnya perhatian kita pada dunia membaca. Sepanjang iklim membaca tidak kita bangun, buku akan senantiasa diobral. Bahkan setelah dijual-murah pun tetap saja tidak laku. Apalagi buku sastra.





Tentang Kepenulisan
Apa enaknya menjadi penulis bagi Mas Damhuri?Yang pasti, jumlah enaknya lebih sedikit dari jumlah tidak-enaknya. Dengan profesi sebagai penulis saya merasa punya perkakas untuk menyuarakan kemarahan, kekecewaan, termasuk  kegembiraan. Tapi, tentu tidak bisa berhenti sampai di situ. Kebahagiaan yang tak terhingga bagi seorang penulis bukan hanya saat karyanya sekadar dibaca, tapi justru bilamana karya-karyanya ditimbang pantas menjadi rujukan dalam riset dan kajian-kajian yang relevan. Di titik itu, seorang penulis merasa kerja kreatifnya bermanfaat bagi orang banyak. Tak sekadar dipuji, atau diberi penghargaan, yang manfaatnya hanya untuk penulis itu saja.

Seorang penulis yang matang, nyaris bisa dipastikan mempunyai biografi membaca, bahkan daftar penulis-penulis favorit. Buku apa saja dan siapa penulis yang kepadanya Mas Damhuri belajar? Apa kehebatan buku itu menurut Mas Damhuri?
Tentu. Sebagai penulis fiksi, saya berangkat dari diskursus filsafat. Saya membaca karya-karya  Edmund Husserl, Kant, Martin Heidegger, Marleau Ponty, Derrida, Althusser, Lacan, Rorty, Zizek, Ranciere, Badiou, dan lain-lain. Mereka adalah penulis-penulis favorit saya. Perihal estetika, belakangan saya menggemari gagasan-gagasan Jacques Ranciere, terutama tentang Aesthetics and Politics. Keistimewaan dari buku-buku babon para filsuf yang saya baca itu adalah, penyingkapan ketakberdayaan bahasa dalam menampung gagasan-gagasan kefilsafatan. Buku-buku itulah yang “menyuruh” saya untuk menempuh jalan lain menuju kejernihan, yakni jalan sastra.  

Sejak 1901 sudah tercatat nama-nama peraih Nobel Sastra. Adakah karya mereka yang sangat disukai oleh Mas Damhuri? Menurut Mas Damhuri, apakah Indonesia punya potensi mendapatkan Nobel?

Pemenang nobel yang lumayan saya sukai adalah Naguib Mahfouz, novelis mesir. Saya takjub membaca permainan satirnya dalam Aulad Haratina.  Meski saya juga membaca karya pemenang nobel yang lain seperti Marquez, Orhan Pamuk, dan belakangan saya cukup intens membaca Mo Yan. Soal potensi sastrawan Indonesia dapat Nobel? Tentu saja, tapi bagi saya nobel sastra bukan satu-satunya ukuran pencapaian dalam kepengarangan. Isabel Allende belum dapat nobel, tapi novel-novelnya dahsyat menurut saya. Begitu juga dengan Khanif Khureisy, Milan Kundera, Adonis, dan lain-lain.     

Apa pandangan Mas Damhuri terhadap penghargaan sastra dalam dan luar negeri?
Namanya saja perhargaan. Berarti memang ada yang pantas dihargai. Kriterianya macam-macam. Sah-sah saja untuk mengapresiasi karya kreatif. Tapi bagi saya, sastrawan sejati tidak kasak-kusuk mencari piala. Untuk apa memanggul piala dan karya-karyanya dirayakan di luar negeri, sementara bangsa sendiri (yang notabene adalah mata air penciptaan karya hebat itu) dibiarkan terpuruk dalam kerabunan lantaran tidak membaca.

Tahun ini Indonesia terpilih menjadi tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair. Apa pendapat Mas Dam tentang itu?
Kehadiran Indonesia di FBF tidak akan menyelesaikan silang-sengkarut dunia perbukuan di Indonesia. Kita berpromosi di sana, menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang masyarakatnya adalah masyarakat pembaca. Tapi seberapa besar akses yang terbuka bagi rakyat Indonesia untuk membaca buku? Seberapa besar minat baca itu? Seberapa kuat daya beli terhadap buku? Bagaimana pemerataan distribusi buku di perpustakaan-perpustakaan yang 80% masih berada di pulau Jawa? Dan berbagai persoalan lain di republik yang penduduknya 250 juta jiwa, sementara tiras produksi buku per judul per edisi hanya berkisar 1000-5000 eksemplar. Seberapa banyak sebenarnya orang yang membaca buku di Indonesia? Sementara untuk menjadi tamu kehormatan di bazar buku akbar Eropa itu, negara mengeluarkan anggaran ratusan milyar untuk penerjemahan buku-buku kita ke bahasa asing. Padahal di FBF, semua orang tahu, tidak akan ada transaksi retail. Penerbit sebenarnya cukup membawa katalog berisi review-review singkat tentang buku-buku yang terpajang. Urusan menerjemahkan, biasanya urusan yang akan dikerjakan publisher setelah terjadi transaksi copyright. Selain itu, menerjemahkan buku-buku kita ke dalam bahasa asing, berarti  menyediakan bacaan bagi kepentingan selera orang asing, sementara bangsa sendiri dibiarkan terpuruk dalam lumpur “buta-huruf”...  
  
Apa harapan Mas Damhuri terhadap sastra khususnya Sastra Indonesia dan para penulisnya?
Saya membayangkan faedah sosial dari sastra itu meluas dan melebar terus-menerus. Karya sastra hendaknya dibaca oleh sebanyak-banyak orang di seluruh belahan Indonesia. Oleh orang-orang  yang tidak  terlalu menghitung dan menimbang siapa penulisnya, tapi menyukai substansi gagasan yang terkandung dalam teksnya. Tidak seperti hari ini, buku-buku sastra hanya dibaca oleh kalangan penyuka sastra, atau bahkan kalangan seniman sastra sahaja. Acara-acara apresiasi sastra melulu dihadiri oleh orang yang itu-itu juga, sampai bosan kita melihat mukanya. Sementara itu para sastrawan sudah merasa tersohor bagai artis terkemuka, merasa sudah menjadi selebritas yang saban hari muncul di layar kaca, padahal mereka tak lebih kawanan katak yang girang-gemirang, berjingkrak-jingkrak, dalam tempurung cara berpikir yang sempit...   

***
  

Sebuah pernyataan dan iktiar yang bagus dan sangat pantas untuk dipikirkan dan sebaiknya juga diamalkan. Bahwa akan jauh lebih bersahaja ketika karya sastra kita dibaca oleh masyarakat segala belahan Indonesia seluas-luasnya sebelum dibaca lintas benua.
Setiap penulis memiliki tanggungjawab untuk mengenalkan keindahan pada masyarakat di sekitarnya, yang pada gilirannya, akan mencerdaskan kehidupan masyarakat dalam berbangsa.
Semoga apa yang disudah dibagikan oleh Mas Damhuri pada kesempatan ini bermanfaat bagi pembaca tercinta. Salam hangat, salam pembelajar. [id]  

No comments: