Friday, 15 August 2008

Siapa (Apalah) Dia Itu…

Oleh: Mohamad Fauzi

/1/
Hal yang paling susah untuk aku tulis selama ini: Aku, Fauzi. Namun aku harus memberanikan diri untuk menggerakan syaraf-syaraf jari yang sudah seakan lumpuh untuk bergerak. Teman aku pernah bilang bahwa aku itu hampir punya pendapat untuk segala hal, kecuali satu: Fauzi, aku sendiri. Tentu, teman aku itu terlalu membesar-besarkan.
Aku yang sekarang memang bukan aku yang dulu. Aku sudah bermetamorfosis menjadi “dia” yang jauh nan asing. Dia, karena aku harus juga mencarinya untuk memahaminya. Dan untuk itu aku harus bertanya. Apakah dia berada di antara sel-sel otaknya, dalam arti dia sudah menjadi manusia rasionalis? Dia sekarang agak lebih suka berpikir hampir hal-hal yang menurut orang filosofis-ontologis. Dia, sudah mulai menjelajah yang hal-hal di luar dunianya yang dulu yang sederhana dan mudah. “Mencoba untuk peka terhadap keadaan yang terjadi pada orang-orang di sekelilingnya, masyarakatnya, negaranya, dunianya,” katanya.
Apakah dia berada di sel-sel hatinya yang mulai membeku, menjadi manusia perasa namun tidak bisa merasakan akan dirinya sendiri? Dia, dalam perjalannan yang sedang singgah di halte kehidupan kampus ini, sedang mencoba membangun Dunia Es yang sunyi dan dingin. Dia sudah mulai membeku sejak entah kapan. Tapi aku tidak tahu kapan musim kemarau ataupun musim semi akan menghampiri dia. Aku asing akan dia dan dunianya.
Dia, Fauzi, memang bukan Chairil yang lantang mendeklarasikan dirinya:

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Aku memang tidak serta merta menjadi “aku” yang “sudah sampai waktuku”. Aku masih tersesat di antara menit-menit, dan detik-detik kehidupan yang sesaat ini. Aku sering kali bingung terhadap diri ini yang men-dia, yang lain lagi bukan aku. Aku sering berpikir aku sudah menjadi “binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya”. Betapa tidak, untuk menyapa teman-temanya saja dia begitu merasa asing terhadap mereka.tentu bukan karena teman-temannya yang berrubah tapi Karen aku telah menjadi seorang “dia” yang jauh dan asing. Dia pernah menceritakannya masalah ini pada beberapa teman, dan sayangnya hanya pada satu orang teman saja dari satu kelas kuliahnya.
Tapi sering kali, dan berkali-kali, dia begitu merindukan canda tawa teman-temannya. Dia merasa betapa susah hidup tanpa teman-temanya. Dunia memang terkadang terasa begitu luas, saat-saat dia berada di pingggir halaman-halaman buku. Dia seorang bibliofilisme—paling tidak itulah obesesinya, yang jika dosennya mengajarkan hal-hal yang menurut dia sebenarnya mudah saja dibaca di halaman-halaman buku dan tentu saja lebih lengkap, maka dia sering kali memboloskan diri untuk mencari yang “lain”. Tapi dia ingin sekali menjadi mahasiswa yang benar, sekali lagi dengan kata “maha”, dan benar-benar mahasiswa.
Tapi, pernah suatu ketika dia terjebak di perpustakaan. Saat itu hujan deras dan dia sudah begitu lama memelototi halaman-halaman buku, dia ternyata merindukan teman juga. Padahal menurut sebuah petuah yang terdapat dalam sebuah buku dikatakan bahwa teman terbaik adalah buku. Karena jika seorang berteman dengan yang lainnya maka bisa jadi temannya itu lebih bodoh dari dia dan itu berbahaya; atau bisa jadi temannya itu lebih pintar tapi hal ini akan menghalanginya untuk lebih baik dan pintar karena orang itu akan terus berada di bawah baying-bayang pemikiran temannya itu, kalau dia tidak bisa memamnfaatkan temannya itu; dan bisa juga dia berteman namun si teman itu Cuma akan menjerumuskannya terhadap situasi yang tidak kondusif (maaf aku lupa kata-katanya yang tepat, seingat aku buku itu berjudul Humor, Petuah, Sufi).
Dan sayangnya dia menghendaki seorang teman yang bisa membuat tertawa, menangis, resah, gelisah, gundah, tidak menentu, akan tafsiran-tafsiran dan pemikiran-pemikiran tentang makna, arti, perjuangan kehidupan bahkan hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak mungkin dirasa. Dia menyebutnya sebagai seorang “Teman Sepembelajaran”. Dan dia tidak peduli apalah temannya seorang pengangguran, pengemis, si gila, hedonis…Anehnya belum ada orang yang mau memperkenalkan dirinya sebagai seorang teman sepembelajaran! Tidak juga dosen-doesnnya (dia pernah menulis tentang masalah ini).
Ah, barang kali ini cara lain untuk memahami dan mengerti tentang apa itu teman, sahabat, kawan dan entah apa lagi bahasanya. Tapi sering dia merasa harus menjadi “peng-abadi” dari ekspresi persahabatan, terutama saat dia membawa kamera. Sering dia ditegur sama orang, “Kok fotonya teman-teman kamu semua! Mana fotomu?” Dia cuma bergumam bahwa suatu saat dia mungkin berkesempatan untuk menuliskan kenapa harus seperti itu (dan dia sudah menuliskannya dengan judul “Potret-potret Imajiner”. Agak jelek sih tulisannya. Maklum baru belajar menulis).

/2/
Dia tidak sampai begitu tega untuk tidak menerima “rayuan” yang menghinggapi setiap sel otaknya, seperti yang dialamai oleh Chairil. Dan ini sering kali memosisikannya pada hal-hal yang paradoks: menerima rayuan dan menghujat rayuan kuliah. Inilah salah satu penyebab kenapa dia sering kali tidak masuk kuliah walau setiap hari ke kampus, dan sering terjerat di perpus, kakus, dan akhinya pupus di ujung penyesalan.
Dalam persepsi dia, orang tidak akan pernah menjadi “pintar” (kalau harus memakain kata ini. Aku lebih suka kalau pintar diartikan sebagai pembelajar) kalau terlalu banyak kuliah dengan system yang diterapkan pada dia, sekali lagi system yang diterapkan pada dia. Dalam sejarah belajar dia, adalah suatu yang ironis sekali bahwa dia tidak bisa membaca sampai hendak menginjak kelas enam SD, untuk ikut ujian akhir nasionl.
Kejadian ini memberi warna trauma pada dia dan memberikan stimulasi untuk terus berpikir, ada apa dengan dirinya sampai sebegitu bodohnya. Pada akhirnya dia membuat suatu kesimpulan yang lumayan aneh untuk anak yang lulus SD: “Jangan pernah mengandalkan gurumu; sekali-kali jangan mengandalkan gurumu; cukup dihormati saja. Tidak pernah ada seorang penemu teori, penemu(an) ilmiah, yang disebabakan oleh pelajaran gurunya. Einstein menemukan teori E=MC2 tidak karena belajar pada seorang guru, atau diajari seorang guru. Tidak dia belajar sendiri. Inilah yang terjadi pada semua ilmuan di dunia ini.”
Kesimpulan ini sempat membawanya menjadi orang yang sedikit lebih “pintar” dari beberapa orang temannya saat dia menginjak bangku SMP dan mondok di pesantren (pernah juga dia menjadi ‘santri teladan” gara-gara kegilaan belajar sampai lupa untuk tidur. Dia tidur Cuma tiga jam dan selebihnya kebanyakan untuk membaca dan berdiskusi). Lebih baik dari pada dirinya yang menjadi orang paling bodoh di antara teman-temannya waktu SD.
Saat berada di pondok, dia seakan menemukan tempat yang enak untuk menjadi orang “aneh”: orang memegang kunci perpustakaan, orang yang awal dalam memulai berdiskusi, orang yang paling awal menghafal rumus-rumus yang tertera dalam ratusan lembar halaman buku, orang yang terdepan dalam mencuri Koran dan buku-buku, entah punya siapa, untuk dibaca dan dikembalikan lagi, tanpa sepengetahuan pemiliknya…Dia menemukan tempat yang pas untuk mempraktikkan “kesimpulan-kesimpulan”-nya waktu SD.
Pada posisi ini, dia sudah tidak peduli lagi akan sebuah nilai angka-angka. Yang dia butuhkan adalah secuil ilmu yang matang dalam proses penalarannya sendiri. Jadi dia tidak begitu senang saat dinobatkan sebagai santri teladan, bahkan dia merasa tercemooh.
Pada waktu itu ada sesuatu yang membuat dia merasa sungguh “Fauzi” (artinya, “beruntung; kemenangan”, dari bahasa Arab). Dia bisa menghitung seberapa bodoh dan seberapa pintar dirinya dibandingkan dengan dirinya yang lalu dan dibandingkan dengan teman-temannya. Dia bahkan, kalau pulang ke Madura, merasa punya sesuatu untuk dilaporkan pada almarhum ayahnya saat berziarah dan berdoa. Dia sering menangis lega dan bangga bahwa dia sudah mengerjakan perintah ayahnya yang tidak sempat dia ingat seperti apa rupanya. Ayahnya meninggal sebelum dia masuk Taman Kanak-kanak (TK).
Dia akan bercerita pada roh ayahnya bahwa dia sudah menghafal buku A, dia sudah menyelesaikan kitab B, dia sudah memahami masalah C…Dia senang karena sudah menjalankan perintah ayahnya yang dia ingat sampai sekarang, walau tidak dikatakan padanya secara langsung: “Semua anakku harus pernah mondok; yang penting kamu belajar, mengaji, dan ibadah.”
Namun dia “dipaksa” keluar dari pondok setelah sekitar empat tahun. Kondisi pondok saat itu akan membuat dia tidak akan kondusif lagi. Cuma akan membuatnya membangkang pada situasi dan kondisi pondok dan pengampunya. Dia tidak begitu memahaminya dan entah kenapa dia juga mengikutinya. Setelah itu, pergi ke Solo. Di sini dia diberi dua pilihan: mondok lagi di Sarang Jawa Tengah, atau kuliah. Dia memutuskan untuk mencoba hal yang baru, kuliah.

/3/
Kondisi di atas sedikit berbeda dengan yang dia hadapi di kampus. Pada awalanya dia mengira bahwa kondisi akademis kampus dan mahasiswa pastilah sesuatu yang sangat menarik seperti yang dia baca dalam beberapa literature, terutama karena kampus mengikuti system pendidikan sekuler Barat. Dalam tradisi pendidikan sekuler Barat, orang diajarkan untuk berperilaku skeptis, dinamis, yang penuh dengan kuriusitas akan ilmu pengetahuan. Dia ingat Rene Descartes, John Locke, Derrida...Sebenarnya hal ini sama dengan tradisi ilmiah Islam pada masa Harun Ar-Rosyid.
Maka, dengan landasan tradisi Barat itu, adalah sebuah kewajaran bahkan keharusan untuk menciptakan sebuah forum-forum terbuka untuk saling bertukar pikiran bahkan saling mempertentangkan pikiran, ide-ide, yang dikemas dalam diskusi umum, polemics, protes pemikiran dan sebagainya. Mahasiswa dan dosen sama dalam mengajukan, mengiyakan, mendukung, menolak, memprotes sebuah pemikiran atau ide. Dan yang terjadi dalam kelas kuliah adalah sebuah pertukaran ide-ide, pemikiran, konsep-konsep, bahkan teori-teori.
Kenapa harus perdebatan, pertentangan, diskusi, protes dalam forum-forum terbuka? Jawabannya sederhana: tidak ada ilmu yang pasti, absolute benar seratus persen, bahkan matematika da fisika. Kita mungkin masih ingat film Beautiful Mind yang menceritakan seorang matematikawan, John Forbes Nash (diperankan oleh Russell Crowe). Yang menarik baginya adalah sebuah lingkungan akademis yang begitu sempurna untuk mengembangkan basis pemikiran dan mencari, meneliti, bahkan, ini yang penting, menolak pemikiran yang sudah berumur 150 tahun dan dianggap benar oleh hampir seluruh pemikir yang ada kala itu.
Kita mungkin juga masih ingat peraih Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus. Dialah orang Banglades pertama dan di dunia yang meraih hadiah noble perdamaian yang bukan dari sebuah konflik fisik, namun sebuah konflik batin-akademis atas rakyat Bangladesh yang miskin. Gumam dan protesnya: “pasti ada yang salah dengan apa saya pelajari dari buku-buku tentang teori-teori ekonomi....Aku harus belajar lagi pada para pengemis jalanan...” Inilah protes, bukan sekadar otokritik, yang dilakukan oleh seorang professor ekonomi lulusan Amerika. Dia tidak percaya dan protes atas dirinya dan memang dia berhasil belajar dari para kaum miskin perempuan Bangladesh dengan Bank Kaum Miskinnya (Grameen Bank). Gumammnya dalam buku yang mencerikana keberhasilan dan jerihpayah belajarnya, “Ilmu tentang Grameen Bank tidak pernah ada dalam buku-buku.”
Dalam kondisi akademis seperti itu, dosen bukan seorang penceramah-penghotbah yang setiap ucapannya pasti benar. Pada perkembangannya dia mulai melakukan hal-hal yang lain di luar kuliah reguler. Dia, yang pada awalnya merasa bosan dan ingin tertantang, akhirnya terjebak juga tagihan.
Candu memang selalu enak dan manis pada awalnya. Namun, jika itu tidak dilakukan dengan baik, maka sebuah kecelakaan akan menimpa. Memang dia sadar akan resiko yang akan menderanya. Setiap pulang dari kampus (untuk tidak mengatakan kuliah) dia selalu ditagih oleh nurani otaknya, “ Apa yang telah kau dapatkan hari ini? Ilmu apa yang kau pelajari sepanjang waktu hari ini?” Ditanya dan ditanyakan, setiap hari. Jawaban memang tidak selalu ada. Namun yang paling menyedihkan dan menyiksanya adalah saat dia masuk kuliah namun tidak mendapatkan apa-apa.
Terkadang dia kembali pada kesimpulan-kesimpulan waktu dia masih SD dulu. Dan pada akhirnya dia akan lebih senang kalau Cuma ke kampus dan ikut seminar, pergi ke perpsus…Ada penawar dari dera pertanyaan itu, terkadang. Namun, adakalanya dua-duanya memberikan angka nol.
Pada ke sempatan lain, nurani batinnya sering kali menagih dan menginterogasinya, “Apa yang telah kaulakukan? Apakah kau mau menjadi makhluk yang tidak bertanggung jawab, terutama terhadap orang tuamu, orang yang membiayaimu—daftar disini bisa diperpanjang? Untuk pertanyaan yang menyangkut moral ini, dia selalu kalah dan tidak mempunyai jawaban yang tegas. Dia merasa kecil dan hina. Tidak ada apa-apanya.
Interogasi ini akan mencapai puncaknya saat dia pulang ke Madura. Di depan sebuah batu nisan yang tanpa nama, tapi dia tahu itu adalah ayahnya yang penuh kasih, dia tidak bersuara. Tanpa punya argumen untuk membantah, mengiyakan, menyanggah dan entah apalagi, sebagaimana biasa dia lakukan terhadap pemikir dan terhadap pendapatnya sendiri. Dia seakan kelu, bahkan tak berlidah. Diam. Hatinya bercucuran...Padahal, kau tahu, tidak ada seorang bersuarapun di sana. Sepi sunyi. Hanya sesekali beberapa angin bertiup menerpa beberapa dahan pohon dan kicauan burung-burung sedang bermain dan mencari makan.
Beberapa waktu yang lalu (bulan Maret lalu), saat dia berada di atas batu nisan itu, dia cuma sesenggukan sendiri. Menangis lirih. Pedih. Hujan yang mengguyur dirinya seperti tidak pernah menyentuh kulitnya. Tidak terasa ada deras titik-titik putih menghujam sekujur tubuhnya. Dia kalah.
Tapi, untuk beberapa waktu dia masih tetap dengan pilihannya itu. Dia sering merasakan pedih perih, namun tidak bisa dihilangkan dengan cukup berlari dan berlari dan berlari dan berlari…

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dia, secara fisik lebih jelek dan secara intelektual jauh lebih buruk lagi, jika dibandingkan dengan Chairil. Tapi dia hanya binatang jalang yang membuangkan dirinya entah ke mana. Dia mulai jauh dari teman-temannya sejak beberapa semester yang lalu. Aku tidak bisa mengikuti langkah kakinya. Aku sebenarnya sudah bosan dengan polahtingkahnya yang terlalu keakuan, egoistis-indivdualistis. Apakah telah sukses dengan gemilang pelajaran Barat tentang individualisme—bukan egoisme? Kalau aku sedikit menyimak perilakunya, sepertinya aku harus menjawab, “Iya.” Sudah ada beberapa kawannya yang mengatakan hal itu.
Bahkan ada kabar atau lebih tepatnya pertanyaan: Apakah dia itu sudah berlainan keyakinan? Ini dari salah satu temannya yang sudah pernah membaca salah satu tulisannya tentang pluraritas, “Scripta Manent: Dari Catatan Ke Gerakan, Pembelajaran, Sampai Pencerahan”. Tapi sebenarnya tulisan itu, menurut aku, tentang arti penting membaca dan menulis sebagai bagian dari ibadah tertua dan paling utama. Mungkin temannya itu terlalu fokus pada kutipan lead yang mengambil perkataan filosof Prancis, Jean Paul Sartre: “Telah ‘ku temukan agamaku; tidak ada yang lebih penting dari pada buku; aku menganggap perpustakaan sebagai tempat ibadahku.”

/4/
Terakhir, aku ingin menjadi aku, bukan dia. Aku ingin lebih perduli pada dunia, negara, guru-guruku (dosen), keluarga, teman-teman, paling tidak pada diri ini. Aku memang belum sependapat dengan Chairil:

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Aku tidak mau hidup seribu tahun lagi. Aku hendak menjadi arti. Aku masih sering bermimpi, dan masih punya satu mimpi. Tidak terlalu besar untuk sebuah mimpi. Namun sebentuk getaran yang terus menderasi kehausan jiwa ini. Ia membuat bulu kudukku bendiri. Aku merinding entah kenapa. Aku merinding setiap melihat anak kecil menangis, aku merinding setiap kali seorang ilmuan disebut, aku merindng setiap kali melihat orang yang penuh dengan semangat…
Aku masih yakin, yakin tentang mimpi itu…Walau diri ini…ahh, mari berdoa.

Surakarta, 12 April 2008




Mohamad Fauzi, Lahir 5 Mei 1984 (Ijazah) atau 18 April 1984 (KK). Kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Alamat Pucang Sawit RT 003 RW 014, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah 57125. E-mail: fauzi_sukri@yahoo.co.id.

No comments: