Jumat, 04 April 2008

BIOGRAFI SINGKAT PRAMOEDYA ANANTA TOER


Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya ialah guru dan ibunya ialah pedagang nasi. Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan seringkali ditempatkan di Jakarta di akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen dan buku sepanjang karir militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia sanggup tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembalinya ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.

Hoakiau di Indonesia

Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, dan pada saat yang sama mulai berhubungan erat dengan para penulis di China. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Chinanya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau-pulau di sebeluah timur Indonesia.

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan: 13 Oktober 1965 - Juli 1969, Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru, November - 21 Desember 1979 di Magelang .

Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).

Kontroversi

Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsasay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsasay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsasay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.

Lubis juga mengatakan, HB Yassin pun akan mengembalikan hadiah Magsasay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Yassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.

Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada jaman demokrasi terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

Multikulturalis

Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memenangkan hadiah dari Universitas Michigan.

Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan sedang dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.

Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

28 komentar:

Rizal Renaldi mengatakan...

Pramoedya Ananta Toer adalah salah sat sastrawan besar kita, sepantasnya kita menghormati dan menghargai beliau beserta semua karyanya. Sebagai seorang idealis pada jamannya rasanya tidak terlalu berlebihan jika beliau merasa bahwa "kiri" lebih mewakilinya untuk menciptakan keadilan. Terlepas dari hal tersebut karyanya tetap fenomenal dan layak untuk dikonsumsi oleh generasi-generasi jauh dibawah beliau, sebagai gambaran kehidupan beliau dimasanya

Buanergis Muryono mengatakan...

Papi Pramoedya Ananta Toer, kurasa satu-satunya sastrawan yang karyanya menikam, lugas, apa adanya. Belum ada yang menandingi karya-karyanya. Pesan paling dahsyat padaku dengan mengepulkan asap serta menyodorkan vitamin C waktu di ruang tamu tahun 1997, "Terus menulis, jangan berhenti, kapan pun, di mana pun... karena tulisanmu tetap bernyawa walaupun kau sudah mati. Papi... terus menulis walaupun hidup di tengah fitnahan keji. Kau bisa jadi sastrawan sejati jika yang kauungkapkan setulus hati." (Buanergis Muryono, seniman sejati yang tinggal di Alastua)

Ini Yuliku Hiedie mengatakan...

makasih banget yaa... biografi ini berguna bgt bwt saya..

Ini Yuliku Hiedie mengatakan...

mksih.. biografi ini berguna bgt bwt saya.. terimakasih

Aditya Utama mengatakan...

Pramoedya Ananta Toer seorang sastrawan yang pantas untuk dijadikan kiblat dalam berkarya. seorang yang idealis dan penuh penghayatan. semoga karyanya dapat dikenang sampai anak cucu kita dan diketahui oleh gerakan anak muda. minimal mengetahui namanya sehingga mereka ingin mengetahui seperti apa seorang Pramoedya Ananta Toer agar bisa direalisasikan kepada generasi mendatang. asap rokok yang kau keluaran selalu menginspirasi kami.

flanker mengatakan...

bukunya emang bagus

tapi jelas masuk neraka jahanam
ni orang, kafir

Resti Sri Cahyati mengatakan...

mas Pram, sastrawan berjiwa sosial...

jabal arfah shiddiq mengatakan...

awalnya gak tau..krena rasa penasaranq ttg buku beliau d film perempuan berkalung sorban karya mas hanung.. buku itu brjudul karya pulau "bumi manusia" aq mulai pnasaran setelah baca ttg pelarangan buku mbah pramudya ananta toer. ada apakh gerangan... yg jelas dgn adanya biografi singkat ini.. semangat beliaulah yg perlu kita jadikan panutan.. wawasan dan sastraxa yg pntas djadikan contoh..salah satu orang hebat Indonesia dalam dunia sastra.. yang terasing di negeri sndiri.... terima kasih... semoga bukunya dapat di baca khalayak ramai termasuk saya sendiri. (kusmadi, mahasiswa UMI Makassar / agama)

Ahmad Imam Sya'roni mengatakan...

flankerr...

kafir atau tidak siapa yang bisa menjamin.. manusia tak kuasa untuk mengadili..

justru maling lah yang sring menuduh maling..

begitu juga kau

blogpinggir mengatakan...

Kalau ingin menghargai sastra Indonesia, maka hargailah Pramoedya! Salam kenal buat semuanya...

blogpinggir mengatakan...

@flanker: banyak2lah membaca agar wawasan bertambah. Jangan percaya buku2 pelajaran sekolah dan omongan kyai2 kuper.

Dini Setyaningsih mengatakan...

Tulisan-tulisan yang tergurat dalam tetralogi Pulau Buru begitu suram,gelap, terkadang merintih tetapi juga menyuarakan sebuah kekuatan perjuangan. Jika kita cermati walaupun tulisan tersebut menggambarkan keadaan masa kolonial, tetapi rasa dari keadaan itu masih ada hingga kini

Irwan mengatakan...

@flanker: bahkan ibadahmu pd Tuhanmu pun kau tak tahu diterima atau tidak. Kau yg mengaku beragama sdh kh menyumbangkan secara nyata sesuatu utk bangsa ini seperti yg dilakukan Pram lewat tulisan2 nya?? atau hanya bisa mencaci maki?

Intan Fithria mengatakan...

Terima kasih biografinya, Pramudya A.T. memang sastrawan yang patut kita kenal dan kenang karya-karyanya. Tokoh yang sangat menginspirasi dengan idealismenya.

@flankers: sayang sekali, komentar Anda bodoh.

Selvy Andriastutik mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Selvy Andriastutik mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Jamaluddin Djavu mengatakan...

Adanya biografi singkat ini sangat membantu sekali. Tapi aku masih penasaran dg yg dimaksud 'sisi kiri'. Apakah maksudnya komunis? Lalu, apakah sisi 'kanan' itu?

persada teto mengatakan...

teatrologi buru merupakan karya pram yang menembus zaman saya kira cerita serta tokohnya terasa hidup berada disekitar kita saat ini hanya dalam kemasaan yg berbeda.. teatrologi buru mengambarkan manusia indonesia serta detail perjuanganya yang menjadi cikal bangsa indonesia saat ini

tulisan mu masih terasa hidup om pram..!!

zaharudin mengatakan...

Pramudya Ananta Toer,
KEREN
inspiratif
dan bisa jadi kanon buat saya

Terima kasih biografinya

yogawords mengatakan...

Alfatihah untuk Mas Pramudya....

ngoaka bukmat mengatakan...

Minke, kauloh dia sang yang patut diteladani, dalam keras kepalamu ku artikan kehidupan. salut pun tak berlebihan padamu. sungguh aku pengagummu Prmoedya ananta toer

Dasman Djamaluddin mengatakan...

DI BALIK NOVEL PRAM YANG GAGAL MERAIH NOBEL KESUSATRAAN

Minggu pagi, 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer, salah seorang pujangga besar Indonesia, menghela nafas terakhirnya pada pukul 08.55 WIB, di usia 81 tahun dan jenazah disemayamkan di kediamannya Jalan Multikarya II No.26, Utan Kayu Jakarta Timur.

Pram sebutan khasnya sehari-hari, lahir di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia . Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Nama aslinya sebagaimana diungkapkan dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul “Cerita Dari Blora,” adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer.”

Mengangkat kembali masalah Pram ke permukaan bukan dikarenakan saya adalah alumnus SMA di Kabupaten Blora, tetapi lebih dikaitkan karena seorang penulis dan peneliti yang menetap di Amsterdam, Joss Wibisono di dalam Majalah Tempo edisi 7,13 Oktober 2013 mengungkap kembali kenapa para Sastrawan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, di mana Novel Pram berjudul “Tetrologi Buru,” yang dinominasikan meraih Nobel Kesusastraan bisa gagal.

Dalam hal ini Joss Wibisono mengutip Benedict Anderson, Guru Besar Universitas Cornell di New York, Amerika serikat dalam artikelnya “The Unrewarded” (Yang Tak Teranugerahi) di “New Left Review 80, “edisi Maret-April 2013. “Kelemahan panitia Nobel Kesusastraan di Stockholm, Swedia,” ujar Ben Anderson adalah kunci utamanya.”Terabaikannya Asia Tenggara jelas merupakan kelemahan dan sekaligus titik buta panitia Nobel,” tegasnya.

Diakui Ben Anderson, para Sastrawan Asia memang pernah meraihnya, semasa Rabindranath Tagore dari India. Tetapi India pada tahun 1913 itu masih jajahan Inggris. Belum sepenuhnya mewakili India. Permasalahan penterjemahan juga menjadi kendala utama. Terjemahan Novel Pram, “Tetrologi Buru,” ke dalam bahasa Inggris, roh kesusatraannya hilang begitu saja. Boleh dikatakan terjemahannya jelek. Kesimpulannya bangsa Indonesia yang juga merupakan negara jajahan Belanda, tidak bernasib sama dengan negara-negara jajahan lain. Negara Prancis, Inggris dan Spanyol telah melakukan lobi untuk sastrawan negara bekas jajahan mereka.Tetapi Belanda?

Tetapi perkembangan di Indonesia ada yang mengkaitkan bahwa pemerintah Indonesia tidak bersungguh-sungguh mendukung Novel Pram dikarenakan masa lalu Pram yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia sehingga dibuang ke Pulau Buru. Memang Novel “Tetra Buru”, atau “Tetra Pulau Buru,” atau “Tetralogi Bumi Manusia,” adalah nama dari empat Novel karya Pram yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988. Novel ini pernah dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa. Menurut saya, sebaiknya ketika Novel Pram dinominasi, pemerintah mendukung hal tersebut. Saya berkesimpulan, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa Novel Pram gagal meraih Nobel Kesusatraan, baik dari jeleknya penterjemahan sebagaimana diungkap Ben Anderson, kemauan negara penjajah Belanda melobi Komite Nobel hingga dukungan pemerintah Indonesia sendiri terhadap Novel Pram (http://dasmandj.blogspot.com)

narus mengatakan...

flanker : komentator nomor 6, memang orang bodoh dan kuper, apriori menilai orang hingga dapat memastikan Pram masuk neraka, kasihan anda berpendapat begitu.

Casenda Senda mengatakan...

Dimana ya kl mau cari dan baca karya" nya Beliau?

Muhammad Fajril mengatakan...

pertama saya mau menanggapi flankers:
IQ Anda berapa ? saya ingat betul ketika saya berumur 7 Tahun sering berpikir seperti itu. tp sudahlah Anda tidak penting, tidak penting seperti komentar anda.

Pramoedya telah menyajikan kehidupan nyata Bangsa Indonesia lewat sebuah karya Agung ( Tetralogi Buruh )
tulisanya begitu Indah dan mengagumkan. suatu kebodohan tak terampuni bagi bangsa Indonesia yang menfikan beliau dari kesusasteraan Indonesia maupun Asia tenggara.

akrom akrom unjiya mengatakan...

Jutaan orang berubah menjadi manusia setelah membaca karya2 pram, karena mungkin sebelumnya mereka lupa kalo dirinya adalah manusia...by unjiya

akrom akrom unjiya mengatakan...

Jutaan orang berubah menjadi manusia setelah membaca karya2 pram, karena mungkin sebelumnya mereka lupa kalo dirinya adalah manusia...by unjiya

tuink primitive mengatakan...

Jadi penasaran dngan karya"nya kira-kira masih beredar tidak yah bukunya??
Yang tau ngasih tau yang ngerti kasih saran,,


Trimksih infonya