Thursday, 11 February 2016

Kolom Akhir: Ugal-ugalan oleh Bandung Mawardi

Kecelakaan di jalan-jalan Jakarta sering membuat kita sedih dan marah. Pemberitaan kecelakaan di koran, majalah, dan televisi memiliki kekhasan dalam penggunaan istilah. Kita akrab dengan istilah ugal-ugalan. Barangkali istilah ini paling sering ditujukan ke sopir-sopir bus. Mereka dianggap mengendarai bus secara ugal-ugalan sehingga mengakibatkan kecelakaan. Mengapa ugal-ugalan cenderung mengisahkan sopir bus? Kita sulit melacak kesejarahan penggunaan awal istilah ugal-ugalan dalam pemberitaan kecelakaan di Indonesia. Kita juga agak bingung mengetahui ugal-ugalan menjadi istilah terkenal dengan konteks kecelakaan di Jakarta.
Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) mengartikan ugal-ugalan adalah “nakal, kurang adjar, berbuat kurang senonoh”. Istilah itu berasal dari bahasa Jawa. Prawiroatmodjo dalam Bausastra Jawa-Indonesia (1957) mengartikan ugal-ugalan adalah “tambung, jangka, kurang ajar.” Kita gampang menerima pengertian “kurang ajar”. Berita tentang sopir bus ugal-ugalan berarti sopir berlaku kurang ajar saat mengendarai bus. Sopir mengendarai bus dengan kecepatan tinggi, suka mendahului kendaraan-kendaraan lain secara sembarangan, atau sopir sedang mabuk.
Apakah ugal-ugalan selalu bercerita sopir bus di Jakarta? Kita bisa menjawab dengan membuka tulisan-tulisan lama. Kwee Thiam Tjing alias Tjamboek Berdoeri pernah menulis artikel berjudul “Ugal-ugalan” di Indonesia Raya edisi 27-29 Juli 1972. Kita simak kalimat pertama: “Kalau menurut istilah Surabaja adegan ugal-ugalan dimaksudkan kenakalan anak-anak tanggung jang berangkat besar tetapi masih lama sebelum bisa dibilang masuk dewasa.” Kwee Thiam Tjiang mengartikan ugal-ugalan adalah “kenakalan hampir meliwatin batas” Istilah ugal-ugalan tak digunakan dalam menceritakan atau memberitakan kecelakaan di jalan. Kwee Thiam Tjian malah bercerita tentang ugal-ugalan bertokoh diri sendiri. Sejak remaja, Kwee Thiam Tjian sudah ugal-ugalan, menimbulkan kemarahan dan kebencian dari pelbagai pihak.
Peristiwa paling mengesankan terjadi saat Kwee Thiam Tjiang berkunjung ke rumah Oei Siangsing, “pegawai tinggi di gementee Surabaja”. Kwee Thiam Tjian duduk menunggu si tuan rumah. Si jongos mengantar minuman, kue, dan sigaret. Detik-detik sebelum kemunculan Oei, Kwee Thiam Tjian “menggasak” sigaret “dikasih masuk dalam kantong djas.” Ulah itu membuat si tuan rumah kebingungan. Oei melihat jumlah sigaret dalam wadah berkurang. Obrolan berlangsung dengan keanehan. Oei selalu bergantian memandang wajah tamu dan wadah sigaret. Kwee Thiam Tjian menahan diri agar tak tertawa. Ugal-ugalan telah membuat Kwee Thiam Tjian beruntung mendapat sigaret dan membuat Oei bingung tak keruan. Begitu.   

 

No comments: