Friday, 6 November 2015

Mata JokPin yang Berkantung dan Sipit Itu Begitu Puitis Peristiwa Rizka Nur Laily Muallifa (http://merakitalinea.tumblr.com)


“Jika ada pertemuan yang kutunggu-tunggu selain pertemuan denganmu, duhai lelakiku, yang tak henti-hentinya kurapal dalam setiap percumbuanku dengan Tuhan dan tulisan, itu adalah pertemuan dengan para penulis dari berbagai belahan dunia. Seperti sekarang ini, yang sedang kuharapkan adalah pertemuanku dengan Joko Pinurbo yang hendak mewujud pada akhir bulan depan. Semoga aku termasuk salah satu peserta terpilih workshop menulis puisi yang diadakan Pawon bersama Balai Soedjatmoko.” Begitu tulisku. Kukirim ia kepada panitia penyelenggara sekaligus penyeleksi, sekitar sebulan silam, sebelum workhshop menulis puisi bersama Joko Pinurbo digelar.

***

“Bagaimana, jadi bertemu Joko Pinurbo?” usik Mas Tohir -salah satu senior menulis di Bojonegoro- suatu ketika.
“Selamat menunaikan ibadah puisi,” seloroh Olip -teman semasa SMA yang begitu gila terhadap sastra- di kemudian hari. Menunaikan ibadah puisi? Tiba-tiba aku jatuh cinta terhadap kalimat tersebut. Ah, Olip memang paling bisa, pekikku saat itu. Aku tidak tahu bahwa “menunaikan ibadah puisi” adalah kalimat ajimat yang terpampang begitu gamblang ketika kau pertama kali mengunjungi blog Joko Pinurbo (jokopinurbo.blogspot.co.id). Hal itu saya lakukan malam hari menjelang pertemuan esok pagi dengan Joko Pinurbo (JokPin). Betapa malunya diri saya, sebab begitu ndeso. Ndeso akan pengetahuan. Ndeso akan bacaan-bacaan. Ndeso terhadap segala hal yang menjadi simbol kekayaan pikiran.
Harus kukatakan bahwa saya adalah seorang yang begitu sedikit membaca. Termasuk karya-karya JokPin. Beberapa kali saya menemukannya dalam sebuah halaman koran nasional ternama. Sebatas itu pembacaan saya terhadap puisi-puisi JokPin. Saya tidak pernah memaksakan diri mencari JokPin di kemudian hari. Baru, menjelang perjumpaan agung dengan beliau, saya memaksakan diri untuk menggumuli puisi-puisinya. Surat Malam. Surat Kabar. Surat Cukur. Hingga Surat Kopi. Kuseruput hingga tengah malam dan terasa begitu nikmat.

***

Nanar sinar matahari pagi-pagi sekali sudah menghantam tubuhku. Menjadikan sekujur tubuhku menghangat. Hingga kehangatan yang berlebih menghunus. Kulajukan motor dengan tergesa. Sebab aku tidak ingin  waktuku sia-sia. Yang ada di sepanjang jalan ialah JokPin. Ialah puisi-puisi JokPin yang begitu jalanan.
Sebagai pemanasan awal, peserta workshop diajak menyelami kedalaman makna diri dalam puisi oleh Mbak Puitri Hati Ningsih -salah seorang penulis puisi yang kaffah milik Pawon Sastra. Bagaimana bersama-sama dengan peserta, beliau melucuti diri di hadapan puisi. Terhadap puisi yang kerap kali dilahirkan oleh ritual sang penyair yang sedemikian panjang. Pun, dengan Mbak Seruni Unie, peserta workshop digelandang kepada panggung pembacaan puisi. Mbak Seruni, yang juga seorang kaffah menulis puisi, juga seorang pembaca yang ulung.
“Saya yakin, kalian semua bisa menulis puisi. Tapi di sini, saya cuma menemukan tujuh belas yang bagus. Yang lain galau. Coba, orang galau, misalnya melihat pintu, yang ada dalam bayangan mungkin adalah mantannya yang pernah mengkhianati,” ujar Seruni Unie. Peserta juga diberi tantangan untuk membuat puisi dan dikumpulkan saat itu juga.

***

Mata JokPin yang Berkantung dan Sipit Itu Begitu Puitis
“Wong semalam saya nggak tidur,” ungkap JokPin menanggapi Mbak Puitri yang sangsi pada mata kalut JokPin yang nampak lelah dan kurang tidur. Di sela-sela waktu ishoma siang itu. Usai percakapan itu, giliranku menyeletuk pada JokPin. Meminta izin untuk mengabadikan pertemuan hari itu melalui bidikan kamera ponsel. Seperti yang kau tahu, aku selalu merasa ditimpa kebahagiaan yang berlebih setiap kali bertemu penulis.
Bagiku pribadi, bertemu JokPin ialah anugerah yang tiada lagi dapat ditafsirkan dengan nominal. Saya pribadi sontak menemukan diri saya yang palsu setiap kali menulis puisi. Kepalsuan-kepalsuan yang kemudian terberangus oleh pemaparan JokPin yang sederhana tapi cerdas. Cerkas. Menulis puisi ialah aktivitas intelektual yang wajar. Biasa saja. Kalu kamu menyiapkan bahannya dengan baik, hasilnya akan baik. Ungkap JokPin.

***

Berikut ialah skrip tanya-jawab para peserta dengan JokPin versi catatan saya pribadi, yang sayang begitu singkat:

Bagaimanakah hendaknya belajar menulis puisi di era media sosial seperti saat ini?
Banyaknya media sosial memfasilitasi semua orang untuk belajar menulis. Tapi sekaligus begitu berbahaya. Ribuan karya yang muncul setiap harinya di media sosial menjadi wakil dari simblo dunia saat ini: instan. Kalau kamu ingin jadi penyair, juga harus melewati fase-fase seperti ini (workshop, mengutak-atik kata-kata, red) yang menjemukan. Godaan untuk berkarya secara instan itu besar. Tapi juga banyak penyair bagus yang tidak dikenal media, tiba-tiba bukunya muncul. Bagus. Jadi jawaban saya ini peringatan untuk semua. Saya lebih senang ada pertemuan-pertemuan kecil seperti ini lalu bikin antologi. Dibanding tiba-tiba muncul di media dan terkenal.

Bagaimana cara supaya kita bisa menang? Sebagai penyair yang berproses lama?
Kita harus menang secara mental. Sabar untuk berproses. Tidak mudah patah arang setiapkali gagal. Kamu juga harus akal-akalan. Menemukan cara unik yang mampu membuatmu bertahan. Jangan nulis hujan, sebab tidak akan melebihi Sapardi. Jangan nulis kulkas dan mikrofon, sebab tidak akan melebihi Afrizal.

Menanggapi puisi-puisi di koran-koran prestise seperti Jawa Pos dan Solopos. Tapi kok biasanya saya tidak mengerti apa maksudnya ya?
Jangan terlalu memandang media massa itu yang menentukan. Kalau saya sendiri lebih suka perkara rumit yang ditulis dengan gaya bahasa sederhana. Tapi kebanyakan kan sebaliknya. Kompas juga kadang memunculkan puisi-puisi sulit. Saya juga bingung, kok puisi saya yang begitu dimuat ?Kompas.
Sebenarnya pertanyaan saya begini, berapa banyak buku puisi yang kamu baca? Kalau mau jadi penulis puisi yang baik ya harus banyak baca buku puisi yang baik. Tapi kalau tidak mau mengoleksi satu saja buku puisi, lantas apa yang bisa dijadikan pedoman belajar? Twitter itu bagus untuk sosialisasi karyamu. Tapi tidak untuk dijadikan belajar. 
Tidak usah dijawab. Koleksi buku puisi kamu berapa? Media sosial itu bagus untuk sosialisasi dan publikasi karyamu. Tapi tidak bagus jika dijadikan sebagai sumber belajar. Kamu harus ettap baca banyak buku. Twitter itu sarana bagus untuk belajar menulis puisi. 140 karakter bagus. Kalau kamu membuat postingan lalu di-retweet, wah hati-hati. Kadangkala itu bohong. Kan kamu seneng to kalau di-retweet?
Rata-rata per tahun saya hanya menulis sepuluh puisi. Satu puisi editnya bisa sampai draft ke sepuluh. Goenawan Mohamad pernah mengedit sampai 13 draft untuk Catatan Pinggir. Untuk naskah yang paling sering saya baca ya naskah saya sendiri. Kan ngedit begitu lama. Chairil, Sapardi, Calzoum, Amir Hamzah, Sitor Situmorang, Afrizal, saya banyak yang hafal karya mereka. Saya heran kalau ada orang yang bercita-cita jadi penyair. Zaman sekarang kok masih ada yang bercita-cita jadi penyair? Saran saya, kalau kamu tidak kuat mental. Mundur saja. Penyair Indonesia itu sedikit.

Surakarta di sela pergantian hari, 22 September 2015


Rizka Nur Laily Muallifa, mahasiswa UNS asal Bojonegoro. Masih tersuruk-suruk membaca buku-buku dan sesekali menulis cerpen.

No comments: