Monday, 31 August 2015

Bagaimana Sebuah Acara Sastra Digelar oleh Pawon?



Beberapa kawan bertanya, bagaimana Pawon merancang sebuah acara? 

Sebenarnya jawabannya sederhana saja. Yang pasti, karena konsep dari Pawon yang semua anggotanya setara, semua acara harusnya berdasarkan persetujuan bersama.

Dalam ngumpul pawon –semacam rapat pawon namun- yang biasanya diacarakan di wedangan, acara-acara diusulkan, baik yang menyangkut cerpen – puisi – novel – esai. Jadi bila bulan ini, acara tentang cerpen sudah diadakan, bulan berikutnya acara yang lain dari cerpen. 

Acara yang diusulkan harus disetujui semua anggota. Bila tidak, acara itu mentah. Maka itulah untuk acara mengundang penulis senior dari luar kota, posisinya lebih rumit. Ketika menentukan mengacarakan penulis A, kawan-kawan pawon harus menyetujuinya semua. Ini tentu tergantung popularitas penulis tersebut. Biasanya bila kawan2 sudah membaca tulisan-tulisannya, persetujuan lebih mudah didapat. Namun saat seorang penulis belum dibaca, oleh sebagian dari kami, biasanya penolakkan akan terjadi, walau kawan yang mengusulkan dekat dengan penulis senior itu.
Kami juga mengupayakan hanya akan mengacarakan penulis tersebut sekali. Ini mengingat beberapa acara sudah dirancang ke depan, dan berharap penulis-penulis lain bisa juga hadir.


Biasanya kami mengoplos acara-acara yang kami buat dalam: acara mudah - acara sedang - acara berat. Biasanya acara mudah semacam talkshow, bedah buku, bincang-bincang, dll. Acara sedang biasanya yang memerlukan persiapan misalnya acara-acara pertunjukkan, Mengulik Ronggowarsito, atau membedah Marco, yang perlu proses pengadaan buku, pengumpulan dana, dll. Sedang acara berat biasanya persiapannya lebih memusingkan dan sangat panjang, misalnya acara festival sastra.
Yang sedikit berbeda dengan komunitas lain, kami tak pernah mengacarakan anggota redaksi. Dengan pertimbangan bahwa banyak acara yang lebih penting dari sekadar membedah buku diri sendiri, kami memang tak pernah melaunching atau membedah buku anggota redaksi sendiri. Kami hanya membuat acara Malam 3, sejenis perayaan buku-buku baru untuk kawan-kawan di lingkungan kami. Di acara itu kami harus menunggu untuk 3 buku baru sekaligus. Namun mulai tahun ini, mungkin acara Malam 3 akan diganti dengan Malam 2

Konsep ini juga diambil saat menentukan acara untuk #bincangsastra di Solopos FM. Untuk acara di radio, program lebih mudah dibuat. Tak semua anggota terlibat. Hanya beberapa yang terlibat. Biasanya saya dan Indah Darmasturi. Posisi anggota lainnya manut. Namun tentu kawan-kawan lainnya bisa mengusulkan tema. Mulai bulan September ini, redaksi hanya akan bersiaran 2 bulan sekali. Kami akan banyak-banyak mencari kawan-kawan lain di sekitar Solo.

Sama seperti di acara umum, di #bincangsastra kami juga tak melaunching dan membedah buku milik anggota redaksi sendiri. Kami menyiasati dengan merancang program yang mengarah pada objek buku itu. Misalnya saat seorang kawan masuk nominasi Kla Award, kami memilih tema tentang Katulistiwa Award. Atau saat 2 kawan penyair perempuan kami merilis buku, kami membuat acara puisi-puisi perempuan. Atau lagi: saat saya merilis buku Halaman Terakhir, tema yang diangkat adalah menulis nove biografi. Pada intinya tak ada yang langsung membahas itu. Ini untuk menghindari kawan2 memanfaatkan komunitas. 

Ketika acara sudah disetujui. Kami mengajukan itu pada Balai Soedjatmoko Solo atau Taman Budaya Jawa Tengah. Balai Soedjattmoko sangat mendukung acara-acara kami, sehingga setiap acara kami selalu diberi perlengkapannya: menyangkut tempat, sound, backdrop, minum dan snack, atau yang lainnya.

Setelah itu biasanya, saya mulai membuat poster dan spanduk/backdrop. Poster itu dirilis dif b pawon sebulan atau beberapa bulan sebelum acara, namun baru kami tautkan pada kawan-kawan biasanya 3 hari sebelum acara. Sehari sebelum acara biasa saya undangan melalui mengirim pesan singkat. Untuk ini, biasanya saya tak lagi mengirim pada kawan-kawan yang telah diundang 3 kali, namun tak pernah datang. Bukan karena marah, tapi karena saya merasa tak enak hati, mengganggu kesibukan mereka.

-yh

No comments: