Tuesday, 1 October 2013

Rerasan Pengarang dan Kumcer Celeng Satu Celeng Semua, oleh Indah Darmastuti



“Akan sangat berbeda membaca cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo yang dimuat di media masa (cerpen Minggu) dengan membaca cerpen-cerpen itu ketika dijadikan satu menjadi sebuah buku.” Demikian pembukaan yang disampaikan Bandung Mawardi selaku pemandu acara bincang kumpulan cerpen Celeng Satu Celeng Semua di Balai Soedjatmoko Solo, 8 September 2013.            
Balai Soedjatmoko yang gedungnya menjadi satu dengan Toko Buku Gramedia Jl. Slamet Riyadi itu kebetulan juga sedang mengadakan pameran ilustrasi Cepen Kompas 2012, yang mana dua cerpen Triyanto Triwikromo juga menjadi bagian dari pameran itu. Salah satu judulnya “Lengtu Lengmua” yang dijadikan judul kumcer ini tetapi dipanjangkan menjadi Celeng Satu Celeng Semua.
Dihadiri sekitar 25 orang, obrolan malam itu mengalir santai namun seru. Beberapa tafsir muncul, beberapa kecurigaan diutarakan, beberapa “vonis” dijatuhkan, beberapa pernyataan kagum berloncatan saat peserta bincangan itu memberikan tanggapan atas pembacaannya.
Berbeda dengan kebanyakan acara penyambutan buku baru atau kerap dipublikasikan dengan nama “Peluncuran Buku”, perayaan Kumcer “Celeng Satu Celeng Semua” berisi respons pembaca sehingga reriungan malam itu bukan obrolan buta atau sekadar pamer karya. Karena kebanyakan yang hadir sudah membaca buku yang tersangkutan.
Wajib baca sebelum membincangkannya ini sudah ditradisikan oleh Komunitas Sastra Pawon (yang bekerjasama dengan Balai Soedjatmoko untuk mengadakan acara tersebut) bahwa setiap ada “peluncuran buku”, atau bincang-bincang buku. Pawon akan menghubungi beberapa kawan untuk selekasnya membaca (syukur dengan membeli, bukan pinjam) kemudian membuat catatan kecil hasil pembacaannya yang akan menjadi modal sebuah obrolan. Hal ini dinilai efektif agar dialektika bisa berjalan.
Dalam obrolan itu, beberapa pembaca menganggap cerpen-cerpen Triyanto bernuansa realisme magis. Kelam penuh metafor. Triyanto memiliki kemampuan berbahasa yang membuat keseluruhan bangunan cerpen-cerpennya menjadi indah. Bagi Gunawan Triadmojo yang menjadi pembaca fanatik karya-karya Triyanto, ia mendapati setiap kalimat sangat berarti. Dalam sebuah karya sastra, Gunawan menganggap bahwa kenikmatan bahasa adalah sebuah pencapaian yang tak kalah penting dengan isi cerita. Sehingga setiap selesai membaca, cerita itu akan tertinggal dan katrem di benak kita.
Hampir sama pembacaan dari Yudhi Herwibowo, Puitri Hatiningsih, Indah dan Ngadiyo, cerpen-cerpen Triyanto kental lokalitas. Juga “lokalitas internasional”. Dalam cerpen-cerpennya pembaca diajak mengunjungi tempat-tempat tersembunyi juga tempat-tempat di benua lain. Hutan, kota besar yang hingar, lorong-lorong dan makam. Triyanto menggunakan bahan yang ada, yang cukup sering muncul dalam  cerpen-cerpen pilihan kurun waktu 2003-2012. Seperti Sayap, Malaikat, Iblis, Perempuan Kencur dan kencana. Puitri mendapati paradoks dunia celeng dan kiai yang saling menyusup. Yudhi mengungkap ketika membaca kumcer ini, ia seperti memasuki lorong yang gelap dan tak tahu apa yang terjadi di depan. Tanpa gerbang. Tiba-tiba saja sudah ada di tempat yang gelap itu.
Fauzy menangkap bermacam konstruksi kematian. Tokoh perempuan kebanyakan digambarkan berada di tubir kematian. Ia menjuduli pembacaannya: Perempuan di Ujung Maut. Menangkap Kematian dalam pikiran para tokoh perempuan. Kematian religius yang membawa berkah, kematian sebagai ancaman eksistensi hidup. Kematian yang mengancam romantisme asmara, kematian yang menimpa gadis kecil tak berdosa. Fauzy merasa dalam cerpen-cerpen Triyanto tiap karakter tokoh perempuan dibangun dengan ketersudutan pada mati. Maka cerpen-cerpen itu menghasilkan pengakarteran tokoh perempuan yang kuat. Itu yang membuat tokoh perempuan Triyanto  berbeda dengan tokoh-tokoh peremuan penulis cerpen perempuan seperti Linda Christanty, Laila S. Chudori, Djenar Mahesa Ayu, Sanie B. Kuncoro.
Pembacaan Han Gagas terhadap cerpen “Burung Api Siti” yang dibacanya secara khusus, dipenuhi nuansa Religiusitas Jawa. Sebutan-sebutan tokoh dalam Islam mewarnai di dalamnya. Ia menyoroti sisi makrifat teks dan mengungkapkan kejanggalan-kejanggalan dalam cerpen tersebut.
Puas pembaca mengungkap tangkapan pembacaaannya, akhirnya Triyanto mendongeng tentang tokoh-tokohnya yang kebanyakan terinspirasi dari dunia pewayangan atau kesan yang Beliau dapatkan dalam perjalanan, khususnya kala tersesat. Dalam wayang ada berbagai model mati (cara mati) yang sangat menakjubkan. Setiap-tokoh-tokoh diciptakan lengkap dengan sisi gelap dan terang, baik dan buruk.
Triyanto berbagi ilmu, bagaimana setiap penggarapan cerita, selalu melakukan riset dengan cara apa pun. Dan Beliau membagi resep: sebagai penulis, berendah hatilah! Berlakulah, tempatkan diri untuk mengaku tidak mengerti apa-apa, sehingga perlu mencari apa-apa.
Dengan segala keterbatasannya, nyatanya malam itu telah menjadi malam penghargaan. Para peserta obrolan memberi penghargaan besar kepada Triyanto Triwikromo atas karyanya, Triyanto Triwikromo memberi penghargaan yang tak kalah besar kepada kawan-kawan atas pembacaan cerpen-cerpennya dengan segala temuan-temuan yang tak disangka atau terpikir olehnya. Di sinilah sebuah acara mencapai fungsinya. []

  
 
 
  

  Indah Darmastuti. Penulis. Anggota redaksi Bulletin Sastra Pawon

No comments: