Thursday, 31 October 2013

10 Kebajikan dalam Menulis, wawancara Triyanto Triwikromo dengan Han Gagas


Wawancara kali ini saya membutuhkan masukan pertanyaan dari teman lain, ada dua penulis yang menyumbang, satu terkekeh dan hanya titip salam. Secara spontan salah seorang penyumbang saya sebutkan namanya pada Mas Triyanto Triwikromo, satunya tak bersedia disebutkan, dan yang titip salam dengan terkekeh pula, salamnya tak saya sampaikan.

Ada alasan tertentu sehingga saya membutuhkan masukan dari penulis lain, pertama saya mengakui dengan jujur tak mengenali semua karya Mas Tri, dalam arti belum membaca semuanya, ada sejumlah cerpen yang pernah saya nikmati. Kedua, saya tak ingin pembaca Pawon bosan jika pertanyaannya itu-itu saja, sudah puluhan penulis yang saya wawancara saya sadar ada beberapa pertanyaan saya yang berulang, saya sedikit tak enak jika ada gerundelan: ah pertanyaannya itu-itu saja, dan ketiga tentu saja dengan masukan ini akan memperkaya jawaban dari sang sumber.

Sedikit ke belakang, akhir-akhir ini, saya kebeneran mewawancarai penulis senior yang saya pandang sebagai sastrawan penting di negeri ini. Saya tak merencanakannya, semua mengalir alamiah. Terkadang ada masukan dari teman redaksi dan saya melanjutkannya begitu saja. Penulis senior itu berturut-turut Mardi Luhung, Beni Setia, Joni Ariadinata, dan kini Triyanto Triwikromo, dari keempatnya saya memeroleh “ilmu yang baik dalam dunia menulis” jadi saya berharap semoga pembaca juga mendapat manfaat dari tulisan ini.

Bila terasa bagaimana, saya pikir, barangkali karena keempatnya laki-laki, padahal saya juga berharap bisa mewawancara sastrawan perempuan, faktor alamiah inilah yang belum mengarahkan saya untuk berkomunikasi dengan salah seorang diantara mereka, semoga nanti bisa diwujudkan.
Teman-teman pembaca yang budiman, tak banyak yang bisa saya lanjutkan selain mengajak menikmati dan merenungkan jawaban-jawaban Mas Triyanto atas pertanyaan-pertanyaan berikut: 

Kami sudah mengenal nama Mas Triyanto sejak lama, dan sampai  sekarang sepertinya terus bertahan, bahkan semakin merajalela. Bagaimana Mas mempertahankan konsistensi menulis selama ini?
Menjadi sosok yang konsisten bukanlah pekerjaan mudah. Ibarat seorang pesilat, saya harus berlatih dan mencari lawan terus-menerus. Berlatih terus-menerus mungkin relatif gampang karena ini lebih merupakan upaya untuk melawan kemalasan, ketakaburan, dan kemudahpuasan terhadap apa pun yang telah dicapai. Karena itu saya memang terus-menerus menghajar diri dengan menulis apa pun agar kian terampil, mahir, dan luwes. Terampil, mahir, dan luwes perlu dicapai karena menurut saya sebagaima pesilat tahapan tertinggi seorang petarung adalah ketika dia sudah tidak merasa bertarung saat bertarung, tak menggunakan pedang saat membunuh lawan. Tahapan tertinggi seorang penulis dengan demikian adalah ketika dia sudah tidak merasa menulis saat menghasilkan sebuah novel, puisi, atau cerpen. Dengan kata lain latihan-latihan-latihan dan latihanlah yang sebenarnya membuat seorang penulis oleh orang lain disebut konsisten hidup dalam ruang sunyi bernama dunia penulisan itu.
Karena itulah sebuah cerita yang selesai saya tulis sesungguhnya merupakan pancatan untuk latihan menulis yang lebih baik pada cerpen-cerpen berikutnya. Latihan, saya kira, adalah sesuatu yang jangan pernah berakhir sekalipun seseorang telah mencapai tahapan terampil, mahir atau luwes.
Hal yang cukup sulit adalah “bertempur secara kreatif” dengan lawan. Tidak setiap saat saya mendapatkan lawan yang memadai untuk mengasah apa pun yang telah saya hasilkan. Tidak memadai itu bisa berarti lawan terlalu tangguh atau terlalu gampang dikalahkan. Karena sering berada dalam situasi semacam itu, dalam menulis saya lebih sering bertempur dengan diri saya sendiri. Diri saya yang mencapai tahapan tertentu saya lawan, saya bunuh, bahkan saya nista dengan berbagai cara. Itulah sebabnya teks-teks saya kerap mendekonstruksi teks-teks saya sendiri. Dalam situasi semacam ini, saya sering gagal meningkatkan tahapan pencapaian. Kegagalan-kegagalan indah ini memompa saya untuk terus menulis sesuatu yang terbaik.
Sayang, saya tak gampang puas. Saya sering membayangkan diri saya sebagai seseorang yang selalu mendorong batu dari lembah ke puncak gunung, akan tetapi begitu sampai di puncak, batu itu saya hancurkan. Untuk membangun sebuah rumah indah, saya harus turun ke lembah lagi, mendorong batu lagi.
Inilah saya kira metafora yang paling pas untuk menggambarkan perkembangan kreatif –sesuatu yang oleh orang lain disebut sebagai mempertahankan konsistensi. Saya melakukan pembunuhan kreatif terhadap karya-karya saya untuk menghidupkan karya-karya saya yang lain.

Menurut Mas Triyanto sendiri apa perbedaan kumcer-kumcer Mas yang sudah dibukukan selama ini? Dari Rezim Seks, Ragaula, Sayap Anjing,  Anak-anak Mengasah Pisau (Children Sharpening the Knives), Malam Sepasang Lampion, Ular di Mangkuk Nabi  hingga Celeng Satu Celeng Semua? Dan kumcer manakah yang menjadi favorit Mas Triyanto? Mengapa?
Tak ada karya sastra yang turun dari langit begitu saja. Setiap teks dengan demikian sesungguhnya merupakan respons terhadap situasi apa pun yang melingkupi karya-karya itu. Saya tidak ingin membahas ini dengan detail. Saya tidak mau menjadi penulis yang gatal lidah untuk menerang-nerangkan apa pun yang telah dibuat. Saya ingin bicara garis besar tentang keinginan-keinginan kecil pengarang terhadap bukunya. Rezim Seks, misalnya, saya tulis untuk merespons kehancuran kehidupan manusia akibat politik kongkalikong Orde Baru. Pada saat itu kekuasaan melakukan perselingkuhan yang begitu masif dengan pemodal, sehingga Indonesia itu ibarat sebuah rumah yang semua penghuninya mengumbar berahi kekuasaan, sehingga lahir manusia-manusia salah kaprah, manusia-iblis. Saya sebisa mungkin menggambarkan itu dalam Rezim Seks.
Ragaula merupakan kritik saya terhadap pemujaan kepada salah satu kebenaran. Kebenaran tidak pernah tunggal. Kebenaran itu teruji sebagai kebenaran sejati ketika ia tidak menistakan kebenaran yang lain. Ini lebih merupakan perjuangan eksistensial untuk melawan kedigdayaan orang-orang yang memaksakan kebenaran atas nama agama atau apa pun.
Sayap Anjing saya tulis untuk mengkritik sikap keberagamaan kita yang menistakan liyan.  Adapun Anak-anak Mengasah Pisau (Children Sharpening the Knives) lebih ingin menunjukkan kepada publik betapa ada yang salah dalam pola kita mengasuh generasi yang akan datang sehingga mereka relatif gampang punah. Malam Sepasang Lampion sering dianggap sebagai pembelaan saya terhadap etnis Tionghoa yang disudutkan dalam berbagai hal. Tetapi benarkah? Saya tentu tak ingin hanya mencapai tahapan-tahapan pembelaan terhadap etnis tertentu. Kemanusiaan kita sudah dihancurkan. Itulah yang harus dilawan dengan apa pun.
Dan Ular di Mangkuk Nabi  hingga Celeng Satu Celeng Semua? Apakah itu juga merupakan pembelaan saya terhadap orang-orang tertindas. Ya, sebagaimana Rendra dua teks itu sesungguhnya merupakan penghormatan saya kepada perjuangan orang-orang yang tertindas itu untuk mempertahankan kehidupan yang diyakini.
Mana yang paling saya sukai. Saat saya menjawab pertanyaan ini saya berusaha melupakan karya-karya itu. Karya-karya yang tidak saya puja tetapi juga tak saya benci. Akan tetapi karena mereka itu merupakan masa lalu saya, saya cenderung meninggalkan mereka. Saya harus asyik dengan karya-karya terbaru sekalipun yang lama-lama itu telah menjadikan saya sebagai sosok yang oleh orang lain disebut sebagai sastrawan. Dan sekali lagi, saya menganggap karya-karya itu sebagai produk gagal. Kini saya sedang berjuang untuk bangkit dan membuat teks-teks baru agar hidup saya –sebagai manusia biasa—lebih bermakna.

Di mana “posisi” Mas Tri sewaktu menulis yang sudah jadi kebiasaan/rutinitas?
Jika posisi yang dimaksud adalah pemihakan, maka saya tidak pernah memihak tokoh-tokoh saya. Mereka sungguh punya gairah mati dan gairah hidup sendiri-sendiri. Saya sedapat mungkin menjadikan teks saya polifonik. Ia menjadi suara bagi kegelapan maupun cahaya ilahi. Saya bajingan sekaligus malaikat. Saya pelacur sekaligus nabi. Saya adalah suara bagi segala.

Mengamati biodata Mas Triyanto yang beredar selama ini, sudah banyak sekali penghargaan yang sudah mas capai. Pencapaian apa yang menurut Mas Triyanto merupakan pencapaian paling membanggakan sebagai sastrawan?
Saya bahagia jika karya-karya saya dibaca orang bukan karena saya mendapat penghargaan. Tetapi saya belum mendapatkan kesempatan itu. Saya harus berjuang untuk menggapai kebahagiaan itu.
Bisakah Mas Triyanto menceritakan sedikit tentang novel terbaru mas, Surga Sungsang? Bagaimana ceritanya mas mulai menulis novel ini? Apakah ini bukan sekedar bentuk aktualisasi diri seorang cerpenis yang juga ingin dicap mampu menulis novel, atau ada hal-hal lain di balik itu?
Mula-mula saya bermaksud menulis novel ketika menemukan sebuah setting dan permasalahan yang menakjubkan di sebuah tanjung di dekat Semarang. Mula-mula saya hanya menulis cerpen “Ikan Terbang Kufah”  untuk menggambarkan tanjung yang dikikis abrasi dan hanya dihuni oleh enam keluarga itu. Akan tetapi rupa-rupanya satu cerita tak sanggup menampung kompleksitas masalah. Karena itu kemudian lahir teks-teks lain –hingga 13 cerita—yang kadang-kadang saling berkait, kadang saling berlepasan. Serpihan-serpihan kisah itulah yang kemudian saya himpin menjadi Surga Sungsang.
Saya membiarkan kelak kisah itu disebut apa oleh pembaca. Mau disebut novel silakan. Disebut prosa liris tidak masalah. Diasumsikan sebagai puisi panjang juga tidak keberatan.
Saya menulis Surga Sungsang dengan disiplin seorang cerpenis. Meskipun demikian beberapa orang mengatakan itu sebagai teks yang dihasilkan oleh seseorang yang menulis dengan disiplin seorang penyair. Saya tidak keberatan dengan klaim-klaim itu. Saya juga tak tergoda sedikit pun untuk disebut sebagai novelis. Dua kisah panjang saya, jika Anda ingin tahu, saya tulis dengan disiplin seorang penulis cerpen. Bahwa kemudian orang lain menyebut itu sebagai novel, itu hak mereka.

Menurut Mas Tri sendiri, dari karya-karya cerita Anda selama ini yang masih kurang apa?
Semua masih kurang. Tak ada satu pun yang saya anggap sebagai karya bagus. Semua karya gagal.  Menganggap semua karya gagal, akan menyelamatkan saya dalam kehidupan teks yang akan datang. Menganggap semua teks kita telah sempurna adalah bunuh diri.

Penutup wawancara, apakah ada tips-tips bagi penulis-penulis muda agar mampu bertahan di belantara dunia menulis?
Setelah membaca terus-menerus dan melakukan riset tak kunjung henti, ada sepuluh kebajikan yang saya anut dalam menulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, menulis. Keempat, menulis. Kelima, menulis. Keenam menulis. Ketujuh, menulis. Kedelapan, menulis. Kesembilan, menulis. Kesepuluh, menulis.

Semoga bermanfaat.

2 comments:

Ekohm Abiyasa said...

Menarik dan inspiratif banget.

Batu-batu lembah yang dihancurkan.. Nikmatnya kalimat ini!

Salam

X.A.N said...

tercambuk lagi... :)