Thursday, 27 June 2013

SASTRA DALAM NOVEL GRAFIS: HASIL DISKUSI, oleh Arif 'Minke' Setiawan


Material yang saya tuliskan berikut ini hanya didasari ingatan – yang mana saya sadar sangat fana dan temporal sifatnya – sehingga bila ada terjadi kekeliruan penyebutan data dan fakta, dengan rendah hati saya mohon luasnya pemakluman dan lubernya permohonan maaf pembaca sekalian.

Sastra Dalam Novel Grafis
Balai Soedjatmoko, Surakarta, Sabtu (22/06/2013)
Pelaksana Kegiatan: Komunitas Sastra Pawon
Pembicara :
  1. Koskow (akademisi dan pengamat novel grafis)
  2. Dwi Klik Santosa (novelis grafis)
  3. Gunawan Tri Atmojo (sastrawan)
Moderator : Ngadiyo

Novel grafis selama ini dimaknai sebagai varian cerita bergambar yang mengusung tema berat, alur cerita kompleks, serta disampaikan dengan bahasa sastrawi. Ini untuk membedakan dengan varian cerita gambar lainnya semisal komik yang cenderung bertema sederhana serta disampaikan dengan gaya bahasa ringan. Acapkali dianggap komik adalah bacaan untuk anak-anak, sedangkan novel grafis diperuntukkan untuk pasar penyuka cerita gambar berusia dewasa.

Koskow sebagai pembicara pertama, lebih banyak membahas novel grafis dari sisi grafik/ gambarnya. Sebagai akademisi seni grafis, Koskow memaksimalkan kemampuan akademisnya dalam membedah karya-karya novel grafis. Novel grafis yang dikupasnya terutama adalah The Invention Of Hugo Cabret. Buku yang pernah juga diangkat ke layar lebar dengan judul sama itu bercerita tentang kehidupan seorang anak yatim piatu bernama Hugo Cabret yang hidup sendirian di stasiun kereta api di Paris. Nasib membawanya bertemu Georges Melies, seorang sutradara film andal di jamannya.

Novel grafis Hugo Cabret disebut Koskow sebagai seni melihat (the art of seeing) karena – berbeda dengan umumnya novel grafis dan komik yang menggabungkan rangkaian gambar dengan narasi dalam balon kata  – buku ini memisahkan antara gambar dan narasinya. Beberapa halaman menyuguhkan gambar dalam format hitam putih arsiran, dan beberapa halaman selanjutnya berisi narasi. Dan ini disusun berganti-ganti. Koskow menyebut penyajian serupa ini memang disengaja penulisnya agar pembaca tertantang untuk mencari hubungan tiap-tiap penanda yang ada dalam gambar dan dalam narasi, karena keduanya bukanlah entitas terpisah namun menjalin satu kesatuan kesempurnaan cerita.

Pembicara kedua, Dwi Klik Santosa, adalah kreator novel grafis Abimanyu. Ia menulis narasi cerita, namun pengerjaan gambar diserahkan kepada pihak lain. Narasi Abimanyu dipilihnya karena cerita wayang – babon/ baku maupun carangan – selalu melekat dalam kenangannya.  Dikisahkannya bagaimana sejak kecil ia diajak berkelana kakeknya menonton pertunjukan-pertunjukan wayang di daerah Wonogiri. Naik - turun gunung, jalan dari desa ke desa dilakoninya demi mendapat hiburan dan kaweruh dari setiap pertunjukan. Dan memori itulah yang terbawa sampai ia dewasa.

Dwi berani mengklaim karyanya sebagai novel grafis karena dalam narasinya ia menyelipkan rangkaian kata-kata berbobot sastra. Bahkan ada beberapa halaman yang khusus memuat puisi-puisinya, tanpa disertai satupun gambar ilustrasi. Pergaulannya dengan seniman/ sastrawan/ budayawan ternama ikut berperan membentuk idealisme sekaligus jiwa seninya. Berkali-kali ia menyebut kedekatannya dengan penyair Rendra dan pernah nyantrik di bengkel seninya.

Pembicara pamungkas, Gunawan Tri Atmojo, penulis asli Solo mendapat porsi membahas novel grafis dari sudut pandang ilmu sastra. Ia mengajukan 3 penulis novel grafis sebagai sampel dalam materi bahasannya: Will Eisner (trilogi Kontrak Dengan Tuhan), Marjane Satrapi (Persepolis, Bordir), Kim Dong Hwa (trilogi Warna, Sepeda Merah). Dalam pandangan Gunawan, Eisner benar memaksimalkan gambar sebagai media perlawanan terhadap ketertindasan yang terjadi di lingkungan sosialnya. Tak heran gambar-gambar Eisner cenderung murung, gelap, suram. Ini sejalan dengan idealisme sejumlah sastrawan bahwa karya sastra harus mampu memotret kejadian faktual di sekelilingnya, dan harus mampu pula mendorong pembacanya untuk berani membuat perubahan terhadap segala ketidakberesan sosial sekitarnya.

Sedangkan karya-karya Marjane disebutnya sebagai karya ceria. Marjane memandang kepedihan dan penderitaan masa kecilnya semasa Revolusi Iran dengan sudut pandang yang lebih humoris mengarah komikal. Ini membuat penderitaan yang dihadapinya itu menjadi lebih ringan untuk dijalani. Dan Kim Dong Hwa disebut Gunawan sebagai sintesa antara Eisner dan Marjane. Kim mampu meramu antara kejadian-kejadian muram dan momen bahagia secara proporsional, disampaikan dengan bahasa lembut feminin selayak seorang ibu yang sedang bercerita pada anaknya. Tak heran banyak pembaca awam yang belum familir dengannya terpeleset mengiranya sebagai perempuan.

Pada sesi tanya-jawab terungkap bahwa sebagian besar peserta masih kesulitan membedakan antara novel grafis dan komik. Ini berangkat dari menggantungnya definisi tentang novel grafis itu sendiri. Masing-masing pembicara menanggapinya dengan jawaban yang berbeda pula. Bahkan dengan ekstrem Gunawan menyebut pembedaan itu hanya ada dalam selera pembacanya. Selama pembaca menikmatinya sebagai novel grafis maka ia adalah novel grafis. Absurd!

Keracuan komik dan novel grafis sendiri sebenarnya juga dimanfaatkan sekaligus disuburkan oleh penerbit-penerbit yang berorientasi pasar. Hanya karena pasar sedang gandrung pada novel grafis, maka sembarang terbitan cergam dengan mudah diberi label novel grafis di sampulnya. Kasus ini mengingatkan pada masa ketika pasar sedang demam Che Guevara atau Kahlil Gibran atau Nietzsche maka di pasar buku membanjir tulisan-tulisan yang membahas Che Guevara atau Kahlil Gibran atau Nietzsche. Oplah pasar memang telah menjadi acuan dan didewakan industrialis buku. Apapun rela dilakukan demi lakunya sebuah buku, bahkan sekalipun itu berarti menipu. Esensi buku berhenti hanya pada sebuah produk/ komoditas, bukan lagi sarana pencerah kehidupan manusia.

Di akhir diskusi, Yudhi Herwibowo, aktivis Pawon, menutup dengan menyebut bahwa novel grafis muncul sebagai upaya pemberontakan terhadap industri komik. Format produksi komik yang seragam, dari format balon kata, ukuran lay out, sampai jumlah halaman, itu yang coba didobrak. Penulis-penulis yang menolak doktrin demikian berusaha merumuskan sebuah cerita gambar baru yang berbeda dengan komik-komik mainstream. Hingga lahirlah novel grafis.

 





diambil dari http://www.facebook.com/notes/arif-minke-setiawan/sastra-dalam-novel-grafis-hasil-diskusi/655350164479257, pemuatan artikel ini atas ijin penulisnya.

foto-foto: yudhi herwibowo

1 comment:

Whitedusts said...

Selamat siang (atau malam). Terima kasih untuk artikel singkat ini. Saya ingin bertanya (mungkin pertanyaan ini hanya mencoba memperjelas ya): Berarti sebetulnya novel grafis adalah "aliran" baru dalam dunia komik? Misalnya, kalau salah satu fungsi seni adalah untuk menghibur, komik saat ini (yang disebut mainstream tadi) lebih cenderung untuk menghibur, sehingga bobotnya (cerita yang diusung) jadi lebih 'ringan'. Kemudian, industri komik pasaran ini didobrak dengan munculnya novel grafis. Tapi, kalau begitu, apa ada ciri-ciri yang menonjol dari novel grafis ini yang membedakannya dengan komik? Ataukah ciri-ciri itu hanya sebatas pandangan umum bahwa "novel grafis cenderung mengusung tema yang lebih berat"? Masalahnya, saat ini ada juga komik-komik dengan kategori dewasa yang mengusung tema berat, misalnya Vagabond. Rasanya jadi rancu..

Maafkan saya kalau pertanyaan saya agak membingungkan.. Semoga dapat dimengerti ya.. Terima kasih.