Friday, 31 May 2013

Foto-foto dan Apresiasi di Mengeja Thukul, Wisma Seni, 28 Mei 2013



Dunia penerbitan (sastra) waktu itu masih didominasi buku-buku dari karya para pengarang yang dianggap mapan dan diakui. Tidak ada "ruang alternatif". Sebagai orang yang juga aktif di dunia sastra, saya melihat ini hal yang tidak sehat. Sementara itu, kami di IndonesiaTera sejak awal memang dengan sadar ingin mengambil posisi agar ruang alternatif itu ada, meski tentu membutuhkan energi dan pengorbanan tidak kecil. Maka, kami menerbitkan buku-buku dari para pengarang yang dianggap "tidak mapan" tapi menurut saya (baik sebagai sastrawan atau penebit) karya mereka bagus. Ada banyak pengarang yang kemudian mendapat tempat yang lebih layak (dan seharusnya) dalam khasanah sastra Indonesia setelah karya mereka kami terbitkan.
Puisi-puisi karya Wiji Thukul ada dalam konteks itu. Menurut saya, Thukul memberi suara yang berbeda dalam dunia kepenyairan Indonesia dan karena itu, puisi-puisi ini harus diwartakan ke masyarakat -dalam hal ini diterbitkan agar  berkemungkinan dibaca oleh lebih banyak orang.    
Tahun-tahun sebelum akhirnya Suharto jatuh, seperti kita tahu terjadi demonstrasi-demontrasi di banyak tempat  Ada satu kalimat yang dipakai oleh banyak demonstran waktu itu untuk menjatuhkan Suharto, yakni "hanya ada satu kata, lawan" -yang saya kira tak semua dari mereka tahu bahwa itu adalah tuturan dari puisi Wiji Thukul. Kalimat itu telah menjelma menjadi sebuah semangat, sebuah kata perlawanan untuk suatu perubahan.
Namun selain karya yang itu, puisi-puisi Thukul yang lain juga menarik karena menceritakan kehidupan orang-orang biasa, rakyat kebanyakan, yang hal itu mewakili suara jutaan rakya lain di banyak pelosok negeri ini. Di titik nilah puisi Thukul menjadi penting. Puisi Thukul menjadi wajah nyata rakyat Indonesia yang miskin, menderita, dan tertindas oleh banyak faktor di luar dirinya sendiri.
Buku Thukul itu memang terbit setelah Suharto jatuh. Tapi kami menyiapkan buku itu sudah semenjak Suharto masih berkuasa, saat Thukul masih dalam keadaan "hilang", belum ada kepastian apakah ia mati atau bagaimana. Ya, saat-saat masih dalam masa represif. Namun, kesibukan mengumpulkan seluruh karya Thukul yang berserakan di banyak tempat, bahkan sampai puisi-puisi terakhir yang dia tulis di persembunyian (yang berpindah-pindah tempat) menjelang dia hlang, lalu bolak-balik bertemu dan menemui keluarganya di Solo agar buku ini juga ada nuansa kemanusiaan di dalamnya, semuanya telah mengalahkan ketakutan atau kekhawatiran kalau-kalau ketika buku ini terbit kami mendapatkan kesulitan, intimidasi (seperti yang dialami penyairnya), pelarangan dsb. Apa yang telah kami lakukan dengan menerbitkan buku Wiji Thukul adalah langkah yang tak pernah kami sesali. Ia memang layak mendapat tempat yang baik dalam sejarah (sastra) Indonesia.
(Dorothea Rosa Herliany)





Sajak-sajak Thukul menunjukkan bahwa sastrawan yang kritis dan kekuasaan  yang korup tak pernah sejalan. Sajak-sajak Thukul tak hanya mencerminkan kondisi masyarakat Indonesia di masa otoritarianisme Orde Baru, tapi juga melawan depolitisasi yang dilakukan rezim itu di segala lini kehidupan, ketika kebebasan rakyat untuk berorganisasi atau berpolitik dilarang, dan kebebasan berpendapat  dibungkam. Sajak-sajak ini abadi, selama demokrasi tak menjadi praktik.
- Linda Christanty




Wiji Thukul adalah seorang penyair sejati. Dia menulis dengan dua hal mendasar. Pertama: tentang segala yang dialami meskipun hampir seluruhnya berupa penderitaan. Kedua: menyampaikan dengan bahasa yang lugas sekaligus puitik.
Wiji Thukul adalah buruh sejati. Meskipun ia pernah mengenyam pendidikan (menurut seorang teman sempat di SMKI Solo), namun ia “terpilih” untuk bekerja secara massal di bawah cengkeraman kapitalis. Ia bagai sekrup dalam sebuah mesin besar, yang dipandang tak penting namun berfungsi krusial. Terutama bila ia dan beribu teman-temannya berhenti bekerja, apa yang akan diperoleh oleh sang juragan besar? “Kalau kita mogok saja sehari, Kawan. Kapas akan tetap menjadi kapas.”
Wiji Thukul adalah pemberontak sejati. Melalui ungkapan perasaan dalam wujud kata-kata ia berhasil menunjukkan perlawanan. Meski selalu tak berdaya karena banyak tangan besi mengepungnya, ia terus meronta. Sekali lagi, mata pena lebih tajam dari ujung bayonet atau pucuk senapan. Terbukti ia selalu diburu ke manapun sembunyi. Akhirnya pemerintah lewat aparatnya membungkam ucapan-ucapannya termasuk menghabisi nasibnya. Tetapi mereka yang keji itu keliru, karena puisi=puisi perlawanannya tetap hidup mungkin hingga seribu tahun nanti.
Di bawah ini, aku mengutip beberapa baris puisi Wiji Thukul. Untuk menunjukkan, bahwa perjuangan negeri ini pernah dihiasi dengan tangan keras penguasa.
Puisi Wiji Thukul begitu ngilu dan perih, bukan karena ia pintar mengeksploitasi kata-kata yang mendayu, melainkan karena ia menjalani sendiri hidupnya yang pahit kemudian menuliskannya. Namun tetap tegar perkasa dalam kepungan bahaya hingga nasib membawanya entah ke mana.
Sekaligus kukatakan: dia pintar. Aku belajar pada bijih-bijih bernas diksi yang dipilihnya untuk mengangkat realitas, bukan semata mimpi buruk. Dialah penyair dengan hidup yang getir.
KURNIA EFFENDI, CERPENIS DAN PENYAIR, JAKARTA







SEPERTI kopijos di warung tak jauh dari rumahnya, pada suatu malam "dulu kala", puisi-puisi Wiji Thukul memberikan sensasi rasa yang melekat: suara lantang dalam mulut yang terbungkam, geliat gerak yang tak pernah berhenti di titik diam, dan perlawanan yang tak kenal kata sudah. Sepanjang pengisapan manusia atas manusia (hingga pucat) masih ada, sepanjang itu pula puisi-puisi si Satu Kata Lawan ini menjadi arang yang terus membara. Dan, ya, jossss!!!
BUDI MARYONO, SASTRAWAN, SEMARANG






Membicarakan puisi-puisi Wiji Thukul Wijaya sama artinya mengingat semangatnya untuk melawan otoritarianime politik pada Zaman Orde Baru. Ketika banyak orang takut menyuarakan kebebasan berekspresi, Wiji Thukul Wijaya dengan berani (sekaligus nekad) menuntut untuk diberikannya bagian esensial manusia hidup itu. Sekarang ia dikenang orang sebagai “pejuang” lewat puisi dan pementasan puisi-puisinya, walau ia tak diketahui rimbanya hingga saat ini.
DHANU PRIYO PRABOWO, PENELITI DI BALAI BAHASA JOGJAKARTA



No comments: