Saturday, 10 December 2011

Notulensi Adili Buletin Pawon edisi 33, Balai Soedjatmoko Senin, 14 November 2011, oleh Fanny Chotimah

Miftah: Membuka pengadilan sastra Adili Pawon edisi 33, memanggil dan mengenalkan ketiga pembicara: Lasinta Ari Narendra, Andri Saptono dan Anna Subekti.

Andri Saptono:
Saya tidak mempersiapkan untuk sebuah pengadilan sastra. Pengalaman pribadi saya sulit untuk menjadi semacam pengunjung yangg pertama kali datang, membaca pertama kali. Membagi pengalaman saya. Perjumpaan saya dengan Penari Bumi, saya sudah baca disitus Niko ada gambar-gambar saya tertarik mengikuti. Saya merasa seperti berada di sebuah dunia dewa-dewi, eksotik dengan kacamata orang luar soal metafisika. Mungkin ada hal yg menarik untuk dijelajahi. Nama-nama tokoh: Kamala, Vidya, Banespati tidak mengesankan seperti kisah misteri yang agak murahan bahasanya cengeng. Cerpen ini dunia sendiri seperti ranah dunia hindu, saya baca kedua atau ketiga kali. Teman saya pelukis yang saya pinjamkan dia merasa tersedot ke sebuah dunia yang dia alami. Keunggulan yang baik bagi penulisnya, agama hindu yang dianut penulis. Membuat apa yang dia ketahui dia tulis. Puisi saya tidak bisa mungkin kekurangan saya.

Sepotong kenangan dari sebuah kisah karya Ika Kurniati, ingatan saya langsung teringat pada bagian terakhir kalimat (dibacakan penggalannya). Kalimat yang sangat indah sekali, merasakan kepedihan yang sama empati seorang pelacur yg digunakan demi sebuah penelitian. Cerita seperti sebuah sinetron, kita lebih memilih untuk sebuah keputusan yang harus diambil meskipun seperti bukan sebuah kisah yang ingin kita dengar.

Lasinta:
Pertama kali saya membaca langsung tertuju pada Penari Bumi pertama kecewa halamannya kok banyak. Dari halaman pertama Niko membuat saya ingin tahu tanpa sadar sudah saya baca semua. Kenapa Cuma segini saja? Dari segi penulisan kenapa Cuma segini saja?

Malam Berlalu- Ekwan N. Wiratno terasa biasa saja, seperti baru menulis cerpen. Dan ternyata dari biodata dia biasa menulis puisi.

Puisi sepintas saja, Noura Nahdiyah pesan bagus hanya saja belum bisa memadatkan makna pada sebuah kata. Kalimat ini seperti sebuah kisah, daun sebuah rasa atau harapan.

Sebuah jaman yang berbeda. bermuara pada sebuah pertemuan yaitu kematian.
kalimat kurang berguna beras mengalir dengan air keras. Maju pasti ke depan mundur ke belakang tak perlu diperjelas. Bancana, cobaan membuat kita menjadi lebih dekat

Puisi Arif, mas Arif ingin bercerita soal apa. Di KBBI enggak ada, googling di Kabut Institute untuk diposting. Untuk Wiji Thukul puisi ini bagus bercerita suatu masa. Masa sekarang lebih berat dari masa lalu. Titik yang menangis.. aku bingung lagi yang menangis diambil dari mana. Titik bisa memaklumi diambil dari judul.. Ayah-

Puisi Fatih, 00:00, kegelisahan dibutuhkan utk membuat kita maju, arti tangisan untuk mengerti sebuah tawa. Puisi Fatih, Senggeger II.

Cover- perbedaan sebuah zaman, gadis barat gaya hidup kebarat-baratan.

Miftah:
Penyair kesulitan saat menulis cerpen, tapi merangkai kata lebih indah. Cover kata-katanya bukan modelnya. Anna apakah akan membedah Esei Bandung yang tak laku di media, Saeful Achyar di Republika, Seniman Salon dan Pohon Mangga?

Anna:
Agak merinding harus mengadili Bandung Mawardi, Yudhi, Fanny saya pembelajar ingin menulis juga seperti teman-teman. Sejarah kepenulisan saya jauh, membaca Pawon siklus bulanan setahun terakhir. Saya menulis, Ideologi dalam kata artikel untuk Pawon. Teman Pawon tidak menggunakan senjata apapun selain kata. Eksistensinya 4 tahun, sarat ideologi penerbitan dengan anggaran pribadi. Ideolgi tidak harus soal Pawon, ada sejarah kepenulisan ada pembelajaran. Menerima Pawon apa adanya, saat diposisikan untuk pembahas saya mau membahas apa? Ada penulis dari NTB menulis di Pawon, (memperlihatkan 4 edisi Pawon) harus ada perbaikan di sini. Hampir punya ciri khas tertentu, enggak masalah ada satu sisi kalau dari jauh bisa jadi ikon buat Pawon. Di satu sisi ada kegelisahan bagi saya, masa pawon gitu2 aja sih? Saya kasih teman, komen dong komplain font. Buatku enggak ada masalah, meniru Kompas ada ilustratornya. Pawon bisa bikin juga dengan mengajak teman-teman lain utk ilustrasi. Isinya saya bahas sedikit.

Niko itu ganteng.

Teman-teman membawa gagasannya masing-masing, membawa ideologinya tentang go-green jangan menebang pohon. Subjektif karena saya kenal Niko secara personal. Cerita tentang dongeng, mitos-mitos, menebang pohon akan ada ular yang membunuhmu. Bahasa anak-anaknya menebang pohon itu tidak baik.

Puisi Arif Yudisthira: Gerakan sejuta umat menolak SBY ternyata ini masuk ke puisi dia, pesan membunuh dari kawat nomor satu. Itu pasti SBY. Untuk kesekian kalinya aku enggak berani membahas esei.

Miftah:
Ketiga pembicara belum membahas esei, dari teman-teman bisa membahas.

Penampilan Stargas dan Niko- musikalisasi Penari Bumi.

Saya memiliki pengalaman personal dengan Niko, waktu itu Pawon dijual 2rb Niko meminjamkan aku. Sesi selanjutnya apakah temen2 yang mempunyai semacam pendapat atau gugatan kepada para pengadil. Silakan sama penulis yang hadir, punggawa pawon, tiga pengadil.

Pak Agus:
Menanggapi pembicara yang paling cantik, kritikan kepenampilan Pawon. Saya tidak setuju dengan pembicara. Karena bandingannya begini. (Menunjukkan Booklet Sensus Pajak berwarna) dari uang kita. Saya setuju kalo Pawon menampilkan kata tapi tidak menampilkan visual. Walaupun di Indonesia banyak penggambar yang gambarannya indah. Tapi kalo bersastra yang perlu adalah kata. Senjatanya cukup kata, jika kertasnya bagus saya tidak akan baca. Melawan media di Indonesia. Tampil sesederhana mungkin tapi berisi. Saya tidak pernah beli majalah bagus. Kenapa? Itu tidak menemukan keindahan tapi mengambil keindahan.

Semuanya basa basi tidak berani mengkritik esei, siapapun penulisnya. Dengan membuat mencetak dan membacanya sendiri. Pandangan menjelekan orang yang tulisannya tidak dimuat di media. Media pengen soto kita buat pecel enak. Kecuali pesanan pesannya soto dia membuat sontoloyo hehehe..
Saya tidak mengadili tapi langsung mengkritik.

Anna:
Terima kasih buat ininya.. saya tidak mengadili Pawon saat ini yang tengah menjadi dirinya sendiri. Ada komunitas lain yang medianya gambar, kan menarik jika ada barter. Media baca dan media keindahan, ada komunikasi dengan komunitas media lain.

Miftah:
Jangan memandang dari luar tapi isinya, silakan teman yang lain? Mas Bimo?

Bimo:
Mengkritik EYD-nya, tidak ada footnote di esei mas Bandung Mawardi Ronggowarsito.. saya tidak mengerti. Cerpen Ika bahasa gaul digaris miring. Esei Saiful Achyar, dimuat di media lain? Apa sih fungsi redaksi Pawon toh tidak ada embel-embel tidak dimuat di media manapun. Apakah redaksi hanya mengumpulkan tanpa mengedit? Silakan Pawon menjawab?

Arif:
Cover mas Yudhi, esei mas Bandung terburu ngomong Gunawan Mohammad sepintas, Budi setiawan eseinya terlalu memaksakan padahal penulis Kompas, harusnya lebih bagus lagi. Tidak dimuat di media manapun usul mas Bimo harus di-folow-up-i. Dari Anna, relasi Pawon dengan komunitas lain.

Miftah:
Silakan dari redaksi Pawon untuk mengulas komentar-komentar?

Yudhi:
Rencananya redaksi tidak usah ngomong ada sesinya nanti. Tentang kolaborasi sudah dilakukan dengan pelukis, untuk konsistensi agak susah. Ilutrasi? Kita pernah punya ilustrator masalahnya kami tidak punya cukup dana. Cover-cover-nya selalu ada 2 alternatif. Cuma yang kali ini edisi terlambat dana tidak ngumpul-ngumpul, terlambat 3 bulan. Kasus tulisan yang sama saya sudah menjawab. Sudah cukup lama, kami terlalu lama menyimpan tulisan itu. Kami tidak memberi respon dimuat apa tidak. Yang di Batavia 9 September, naskah sudah diterima tapi belum diolah. Fungsi redaksi memilih dan mengedit secara sederhana, naskah yg masuk cukup banyak. Ada satu penulis yang sekali dimuat kirim lagi 5-6 cerpen. Itu menolaknya gimana? Penulis yang pertama kali dimuat lebih kami utamakan.

Cerpen kali dinilai 1-10 mungkin Cuma 5, Ika salah satunya yang kita olah. Bahasa sengengekan bisa ditampilkan miring atau tidak. Akan EYD seketat apa, Pawon fleksibel tidak seperti Horison.

Miftah:
Pemuatan di media lain? Apakah boleh ada pemakluman? Dulu mungkin pernah di Solopos.

Yunanto:
Etisnya harusnya tidak, jangankan di Pawon media yang profesionalpun kecolongan. Ini Cuma persoalan boleh atau tidak. Tapi tanggungjawab itu bukan hanya pada Pawon. Tapi pada penulisnya bukan persoalan apakah ini ada honornya atau tidak?

Syaeful Achyar:
Terima kasih pada teman saya yang mengabari tulisan saya di Republika on-line. Saya sayangkan tidak ditelusuri dulu. Tapi persoalannya dia langsung menjastis terkirim double. Yang saya sayangkan dia langsung menge-tag di FB.
Saya mengirimkan tidak ada kabar 2-3 minggu tidak dimuat lalu saya kirim ke Pawon. Silakan ditanggapi, apakah saya salah atau tidak?

Miftah:
Silakan ditanggapi.

Andri Saptono:
Kesempatan untuk mempublikasikan karya kita, jika bagus karya itu memberi wawasan kenapa tidak. Jika dimuat ganda lalu dua-duanya ada honornya, itu baru masalah. Saya jadi tergelitik menanggapi esei, untuk Iman Kapujanggan, saya membicarakan esei ini dengan teman saya yang pelukis. Teman saya bilang bagus, katalog pembuka untuk lukisan dia menanyakan harganya berapa? Kata-kata bisa mewakili satu hal seperti dalam lukisan. Dia mengkoleksi semua tentang GM, dia merasa menemukan hal yang baru di esei Bandung Mawardi. Seperti ada hal yang tidak pernah selesai.
Sebuah proses untuk menjadi seniman, pelukis, atau penyair yang dikritik habis-habisan. Melakoni sebagai penyair mengkristalkan sebuah dunia dalam sebuah kata-kata.

Lasinta:
Seperti sebuah lomba, karya yang menang lomba boleh dikirim ke media manapun. Kalau memberi hikmah kenapa tidak? Semua majalah mempunyai hukumannya sendiri. Saeful achyar media on-line, dimuat cetak tidak apa-apa kita sebagai pembaca lebih menyukai dalam bentuk cetak. Kita kesulitan membaca, pembaca sastra segini-gini aja. Konser musik banyak, ya karena kita segini-gini aja lupa. Membandingkan penyair sebagai Kepujanggan. Saya suka esei seperti Pohon Mangga, refleksi, renungan, dekat dengan pembaca. Referensi seperti ini yang saya suka. Kolom refleksi, esei yang mudah dianalisis.

Anna:
Saya suka Bandung Mawardi membadingkan Goenawan Mohammad sebagai seorang Kapujanggan,

Miftah:
Kalo membicarakan Bandung Mawardi ya dari dulu memang begitu.

Sanie B. Kuncoro:
Pemuatan ganda tidak etis, harus dilihat medianya dulu kalo dimuat di Pawon. Pawon ini lokal hanya dicetak sekian ratus. Kemarin dibawa Kabut ke Ternate danyg mengirim amplop untuk dikirim. Di Pawon ini tidak final, redaksi tidak mempunyai kemampuan untuk mengecek. Kawan redaksi nyumbang tenaga, nyumbang duit. Itu diluar kemampuan. Bukan berarti saya mengeleminasi kesalahan redaksi. Saya lihat kurang komunikasi redaksi dan penulis, harus ada penjelasan bahwa sudah dimuat sebelumnya.
Artikel saya dimuat di Nyata dan Jawa Pos, dengan mudahnya media lokal mengambil artikel saya tanpa meminta izin dari saya. Karena dalih satu grup.

Miftah:
Kampung Rampok mas Yudhi pernah dimuat di Radar Jogja lalu Jawa Pos.

Yudhi:
Itu keputusan redaksi. Mereka satu grup. Honornya pun hanya satu.

Arif:
Kalo saya sih bukan apa-apa, persoalan kreatifitas, penulis dituntut untuk menulis dari banyak perspektif.

Fanny:
Terima kasih untuk tanggapan Lasinta untuk Pohon Mangga. Saya pikir perlu keberagaman ada esei yang reflekti mudah dicerna. Tapi ada juga esei yang jlimet seperti eseinya Kabut. Sehingga kita punya banyak pilihan.

Miftah:
Saya tutup terima kasih maaf jika ada salah-salah. Acara ditutup dengan penampilan dari Niko.

No comments: