Sunday, 6 November 2011

Penari Bumi Cerpen Nikotopia


Setiap malam-malam purnama. Setiap dendang derik jangkrik yang menemani lelapnya semesta. Kamala yang menggelung rambut panjangnya dengan tusuk kayu yang samar-samar menguarkan wangi aneh, selalu duduk bersila kaki di bawah pohon di halaman gubuknya. Melantunkan kidung-kidung suci.
Tapi, malam ini mantra penjagaan didengungkan. Sebab purnama hari kedua memberi pertanda tidak baik, demikian hatinya merasakan. Mendadak dengung mantra itu surut. Matanya membuka. Menengadah ke purnama yang masih memerah. Jantung berdebur gelisah. Segera ia melesat ke dalam gubuk mungilnya. Menyambar lampu minyak di meja kayu ruang depan yang menerangi remang ruangan. Melangkah ke kamar anak perempuannya.
Dengan suara selembut desis angin sembari mengelus pipi anaknya, Kamala berbisik lirih, “Vidya. Bangun, Nduk. Usir mimpi yang memberatkan matamu. Kita harus pergi sekarang.” Kamala melirik ke arah celah-celah kecil jendela berbingkai bambu, nampak sinar bulan merah menerobos. Vidya tersadar dari kantuk, menoleh ke arah Ibunya.
“Kita harus ke reruntuhan candi. Ada sesuatu yang aneh dan tidak Ibu mengerti, kita harus segera kesana.”
Perawan cilik sepuluh tahun itu mengerjapkan mata sembari mengingat, bukankah kemarin malam mereka sudah pergi ke reruntuhan itu.
“Kenapa, Bu? Kenapa kita harus pergi kesana lagi?”
Wajah Kamala berkabut, Vidya tak bisa membacanya. Ada bercak kegelisahan yang berusaha Kamala tutupi. Perasaan yang berkali-kali menyengat hati. Kamala bangkit, mengisyaratkan Vidya untuk segera bangun dan mengambil pakaian tebalnya. Lalu beranjak keluar mengambil obor, beberapa dupa, pemantik api, beras putih, tirta suci, kembang mawar, dan kanthil.
Kemarin, di tengah wengi saat pemunculan purnama pertama, mereka menyusuri jalan setapak bebatuan yang menurun di depan gubuk. Jalan kecil yang berkilauan ditempa cahaya keperakan bulan menuju reruntuhan. Adalah wujud bhakti mereka mempersembahkan rasa syukur akan Hidup, dengan mengheningkan diri di reruntuhan candi. Setelahnya Vidya menari, diiringi alunan tembang yang meluncur halus dari bibir Kamala. Malam ini mereka berangkat menyusuri jalan kecil itu lagi, dengan obor di tangan dan bingung berkerut-kerut di dahi.
Sesaat memasuki lorong hutan. Kamala tersentak. Telinganya tidak menangkap sedikit pun bebunyian; derik jangkrik-jangkrik, hu-hu burung hantu, bahkan gemerisik pepohonan. Hanya tangan-tangan sunyi nan tajam menyambut mereka. Rasanya, hutan seperti menahan napas. Meski gelisah Kamala terus melangkah. Vidya terdiam waspada, erat menggamit tangan Kamala. Di sela daun-daun pepohonan, Vidya menemukan purnama bertengger agak memerah. Sekilas seperti warna darah yang lama membekas di kain putih.
Mereka tiba di tempat terbuka. Melewati serakan bongkah batu-batu tua. Watu Gowok, begitulah penduduk yang tinggal di bawah bukit ini menamakannya. Sebab di reruntuhan terdapat batu besar yang keseluruhannya berlubang, teronggok dikelilingi tiga arca berlumut berbentuk ular raksasa. Konon, tiga ular itu adalah penjaga Bumi. Bila Bumi rusak mereka akan Hidup dan menyembuhkannya. Namun semua penduduk memercayainya sebagai dongeng bocah. Mereka mendekati pohon ringin besar dengan batang-batang nan kekar di sebelah candi kecil. Terdengar gemericik air. Dari kaki pohon, terdapat ceruk kecil diapit batu-batu, mengalirlah kumpulan air dingin nan kelam membentuk mata air. Di atasnya beberapa kunang-kunang bertebaran melayang.
Gegas mereka menyucikan diri dan menyalakan dupa. Seketika liukan asap putih tipis nan wangi mengambang di udara. Sajen dan sekaran disiapkan. Kamala menarik tangan Vidya untuk duduk disebelahnya.
“Ada apa sebenarnya, Bu? Aku takut.” Ucap Vidya.
“Tak ada yang perlu kau takuti, Nduk. Ibu menangkap gejala entah apa, hati ini bagai disengat sesuatu. Disengat pertanda akan ada kemat—ah sudahlah. Bukan waktunya kita berbicara seperti ini.”
Belum sempat Vidya bertanya, Kamala larut dalam hening, lamat-lamat mendegungkan mantra. Ibunya memang terlalu banyak menyimpan misteri. Sama saat kali pertama Vidya bertanya, untuk apa dia menari di tengah wengi kala purnama mekar di langit ratri.
“Bukan untuk apa, Nduk. Katakanlah ini sebuah Demi.” Ujar Kamala, suatu malam silam. “Menarilah demi kilau ribuan bintang yang dibunuh sepi. Demi kunang-kunang yang melayang melintasi kelamnya sesawahan saat padi menguning sebentar lagi. Demi roh penjaga pohon dan pepohonan yang menjulang menggapai kemilau Matahari pagi. Demi ribuan bening butir-butir air langit yang jatuh bertubi-tubi. Demi hembus angin yang membawa kabar sunyi. Dan demi Ibu Pertiwi, yang kelak padanya kita bersatu dalam pelukan abadi.”
Vidya tidak mengerti maksud perkataan Ibunya. Namun Vidya menyukai saat-saat Ibunya menembang untuk mengiringinya menari. Menembang tentang kepedihan Ibu Pertiwi dan malam-malam sunyi akan pencarian diri sejati. Bagai musik penghibur jiwa yang sepi. Menghapus jejak kesedihan Vidya yang tak memiliki teman sama sekali.
Semenjak kecil, tidak ada yang mau bermain dengan Vidya. Semua penduduk melarang anak-anak mereka dan menceritakan bahwa Vidya itu anak pujan. Anak yang semasa janin dicuri dengan kekuatan mistik dari rahim perempuan. Sebab Kamala bersuami pun tidak. Juga mata Vidya yang sekilas terlihat keabu-abuan. Berbeda dengan mata anak-anak lainnya. Semua penduduk menjauhi mereka. Hanya beberapa yang menyisipkan keberanian, bertandang ke gubuk Kamala ketika membutuhkan bantuan persalinan, terserang sakit, serta penyakit yang sulit dipahami penduduk. Penyakit Niskala. Pada akhirnya Kamala yang menyembuhkan penyakit itu malah dianggap ngiwa, sesat.
Sebagai Ibu, agar Vidya tidak bersedih dan merasa sepi. Diajarkannya Vidya menari. Menari untuk sebuah Demi. Pernah pada sore yang ranum, Vidya pergi ke padang rumput yang tak jauh dari gubuknya. Di sana ia menikmati megahnya sinar emas matahari dan gerak angin. Ia menggerakkan tangannya luwes ke udara. Mengalunkan tembangan Ibunya dengan gumaman. Saat gerakan memutar tubuh. Tiba-tiba capung-capung berdatangan, melesat mengelilingi Vidya. Ia takjub dan terkekeh geli. Ia merasa tak sendiri, tak merasa sepi. Vidya terpana, mendapati satu capung hinggap di bahunya dan ia mendengar bisik-bisik halus. Bisikan yang ia mengerti dengan hati. Bisikan yang mengatakan sebentar lagi hujan akan mengunjungi Bumi.
Kamala yang hampir selesai membereskan beberapa tanaman obat kering yang ia jemur di palang-palang kayu, menatap Vidya kecil yang berlari ke arahnya.
“Bu! Ibu!” teriak Vidya, terengah-engah sembari menunjuk-nunjuk langit, “Bu, aku mendengar capung-capung berkata. . . sebentar lagi akan…”
“ Hujan.” Kamala meneruskan.
Vidya ternganga, Ibunya tahu sebelum ia mengatakannya. Kamala mendekati Vidya yang masih kelelahan berlari. Membelai rambut hitamnya.
“Sekarang kamu sudah bisa membaca gejala Alam, Nduk. Itu bagus. Tajamkan semua inderamu.” Kamala mengacungkan telunjuk ke dada bawah Vidya, “Terus dengarkan dengan ini.”
Sejak itu Vidya banyak mendapat pelajaran. Tentang Hidup selaras dengan Semesta. Tentang Alam yang memiliki jiwa, sama seperti manusia, dan Alam bisa menjadi teman penghibur hati. Pula Kamala mengajarkan tentang jenis tanaman obat dan beberapa ilmu pengobatan. Meramu, menggerus, sembari menembang kidung-kidung suci. Sudah menjadi tugas Kamala mewariskan semua keahlian dan pengetahuannya. Kini Vidya tak lagi merasa sendiri, tak merasa sepi. Ia memahami, arti menari untuk sebuah Demi.
Dengung mantra kuno Kamala berdenging di telinga Vidya. Suasana makin mencekam. Lalu udara bergetar, bagai riak gelombang di permukaan air. Sekelebat kilatan cahaya berkerejap di pohon ringin itu. Perasaan aneh seperti menjangkau Vidya. Ia merasa seperti kepingan kecil yang dikembalikan untuk menggenapi semesta. Sekeliling Vidya segalanya berkelebat cepat. Seperti berada di antara nyata dan ilusi.
Vidya ingat, Kamala pernah melelapkannya dalam sepenggal dongeng tentang dunia halus. Dunia di balik kelambu dunia kasar. Dunia tempat Vidya dan Kamala mengada. Di baliknya; peri-peri, roh penjaga pohon dan mahluk-mahluk aneh lainnya tinggal di sana. Vidya pikir itu hanya dongeng sebelum tidur. Ternyata sekarang Kamala sedang membuka selubung dunia halus.
Tanpa ragu Kamala bangkit dan mengangkat tangan ke arah pohon itu, mengatakan sesuatu dalam bahasa yang Vidya tak mengerti. Dari udara kosong, sekobar api muncul di hadapan Kamala. Api itu bergerak cepat membentuk sebuah gerbang besar. Dari dalam gerbang, muncul jari-jemari tajam dan kekar, siap menyayat kasar. Sesosok mahluk berambut api membara, melangkah keluar. Mata tajamnya menusuk ke arah Kamala. Mahluk itu tampak tinggi gagah dan menyeramkan.
Mahluk besar itu membungkuk hormat kepada Kamala. Lalu mereka saling berbicara dalam bahasa yang aneh. Dari nada suaranya Kamala nampak bertanya sesuatu. Si mahluk menggeleng. Meski menjawab pelan, suaranya terdengar liar dan buas. Kamala berbicara dengan nada putus asa. Si mahluk menunduk. Dari belakang punggungnya, si mahluk mengambil sesuatu. Pada tangannya, mekar sempurna sekuntum bunga putih.
“Wijayakusuma,” desis Kamala. Melihat bunga itu Kamala makin resah. Semayup bunga itu menguarkan keharuman nan mistis. Ia tahu makna bunga yang mekar ditengah wengi dan akan layu di penghujung pagi. Bunga yang bersimbol kemenangan. Namun lebih ke sebuah jimat penjagaan dari serangan kekuatan luar yang tidak diketahui. Perasaan aneh itu menyegat dirinya lagi. Bunga ini mewakili, bahwa mahluk-mahluk dunia halus pun tak sanggup menjawab pertanda aneh semesta.
Cukup mendebarkan bagi Vidya menatap mahluk menyeramkan itu. Apalagi mahluk itu menyuruhnya mendekat. Kamala berbalik, mengurai senyum lembut, isyarat kepada Vidya untuk tidak perlu takut. Mahluk itu menjulurkan bunga ke Vidya. Hidungnya menangkap pesona harum yang anehnya, menenangkan hati. Pelan ia mendekat, tangannya meraih bunga itu. Setelah dalam genggamannya. Si mahluk mengucapkan sesuatu. Sinar mata Vidya perlahan meredup. Lalu tubuhnya terangkat ke udara. Kedua tangan Vidya mulai bergerak. Luwes di depan dada. Pun tubuhnya bergerak gemulai. Vidya menari. Bunga itu berpendar keputihan, bagai kerlip rapuh bintang-bintang. Vidya mulai memancarkan cahaya.
Hutan kembali bernapas, ketika salah satu kaki Vidya terangkat ke depan kaki satunya. Tarian yang seirama dengan derik jangkrik, hu-hu burung hantu, gemerisik pepohonan. Bening embun-embun yang mulai lahir di antara hijau urat daun. Gerak lembut sayap burung yang mengerami telurnya dalam sarang. Ratusan semut-semut berjalan teratur membawa bayi-bayi sang Ratu. Semua bergerak, bersatu dalam aliran Kehidupan. Selaras dengan air, api, angin, dan Ibu Pertiwi. Melebur dalam kemurnian. Dalam ketenangan.
Meski lelah, sepulang dari hutan Kamala hampir tak bisa memejamkan mata. Lebih berat memanggul kegelisahannya, dibanding menggendong Vidya di punggung yang langsung terlelap seusai menari. Ditatapnya Vidya yang tertidur disebelahnya. Masih menggenggam bunga itu. Pikiran Kamala melayang, bertanya-tanya, kenapa firasatnya begitu kuat tentang kematian?
Di ufuk timur, matahari pagi meluncurkan remang kemerahan dan kokok ayam jantan terdengar di kejauhan. Kamala terbangun. Masih terasa seperti mimpi, kejadian tadi malam. Namun, saat matahari terasa hangat di punggung ia segera mengambil tanaman sayur yang ia tanam sendiri di kebun kecil depan gubuknya. Vidya turut membantu dengan keranjang bambu.
Ketika tangan Kamala bergerak mencabuti rumput di tanah. Sengatan yang sama seperti semalam singgah kembali. Semakin menguat. Lalu telinganya, lirih mendengar gemerisik sedih.
“Nduk,” Kamala mengisyaratkan Vidya untuk sejenak berhenti bekerja, “Apakah kamu mendengar sesuatu?”
Vidya menajamkan pendengarannya. Di sekeliling gubuk mereka dahan-dahan pepohonan tinggi bergoyang resah. Anehnya, tak seembus pun angin melesat lewat.
“Bu, pohon-pohon itu, mereka seperti menangis.”
“Iya, Nduk. Kamu benar.” Kamala meringis pilu melihat ke pohon-pohon itu. Mereka bergemerisik, seperti memberitahu kepada siapa pun yang mendengarnya. Bahwa mereka bersedih. Menangis.
“Kamala!” Seru suara lelaki dari bawah jalan setapak. Napasnya tersengal-sengal, mendekati Kamala.
“Ada apa?”
“Tolong bantu kami, Kamala. Beberapa orang yang bekerja di sekitar Watu Gowok, mereka. . . mereka kerasukan.” Ujar lelaki itu mengatur napas.
“Apa yang kalian lakukan di sana?” tanya Kamala bingung, cemas berdeburan.
“Kami baru saja menebang beberapa pohon untuk dijual kepa…”
“Apa?!” mendengar itu Kamala langsung murka. Jantungnya berdegup cepat. “Tahukah kalian bila tempat itu wingit, keramat?!”
Lelaki itu tergugu, tidak bisa menjawab. Kamala berlari masuk ke gubuk, mengambil tas kainnya. Ia tak bisa berpikir, dibakar amarah sekaligus perasaan yang menusuk-nusuk. Vidya membuntuti Kamala. Tangannya bergerak ke arah perut. Bunga Wijayakusuma yang telah layu, terselip dibalik pakaiannya. Menjalarkan rasa hangat.
Tergesa mereka bertiga berangkat menuju Watu Gowok. Sesungguhnya penduduk takut mendekati Watu Gowok bila kegelapan tiba. Mereka selalu berkata melihat Cemomong, kobaran api-api milik obor mahluk halus yang membawa roh-roh yang telah melepas napas kehidupan, pergi menuju dunia entah. Entah-berantah.
Tempat itu sudah dipenuhi gumaman tak jelas. Orang-orang berkumpul melingkar. Beberapa membawa kapak dan alat-alat tajam besar lainnya. Salah satu perempuan yang kali pertama melihat Kamala datang, menyuruh semua orang menyingkir memberi jalan. Beberapa berbisik-bisik, melirik ke arah Vidya. Kamala memandang ke arah pohon-pohon yang telah tumbang berguguran. Ia tersentak mendapati batang pohon ringin dekat candi sudah ditebas, meski masih berdiri.
“Cepat! Kasihan mereka.” Desah salah satu orang.
“Ini sebab kalian main tebang saja! Sudah tahu tempat ini wingit!. Beginilah akibatnya!.”
Semua terdiam. Tiga orang tergeletak di tanah bersisian, salah satunya perempuan. Tubuh mereka melengkung kaku berbagai bentuk. Mulutnya berbusa. Yang lain berbicara tidak jelas sambil menyembur-nyemburkan ludah. Kamala merogoh tas kainnya, mengambil sekeping batu jimat. Memegang leher perempuan yang kerasukan, menempelkan batu itu di dahinya, membisikkan mantra. Di atas kepala Kamala, orang-orang memerhatikan. Tak dinyana, perempuan yang kerasukan itu meronta-ronta. Kamala kewalahan. Perlahan perempuan itu berdiri, menatap satu-satu wajah semua orang. Semua menahan napas, ketika mata perempuan itu bertumbukkan dengan Kamala.
“Kam…marr…rrraaa, merr…rree…kaaa...harr…usss…mmaatt…tiii.” Suara serak mengerikan terlontar, serupa desis ular. Mendengar nama Kamala disebut, semua bungkam seribu bahasa. Semua mata tertuju pada Kamala.
“Mmeerrr…reekk…kkaa…meemm…buunn…nnuuh… pohh…hhoon…poh…hoonn. Merr…rree…kaaa...harr…usss…mmaatt…tiii.”
Bersamaan perempuan kerasukan itu jatuh, kehilangan kesadaran. Dari arah lain, jeritan histeris melesat, semua orang berpaling ke arah jeritan itu.
“Ular!! Ada ular besar!!” jerit seseorang.
Dari Watu Gowok, Arca tiga ular raksasa menjadi hidup, sisiknya berkilauan disorot matahari. Debu membumbung ke udara, seiring orang-orang yang berlari menyelamatkan diri, sebab ular-ular besar itu bergerak mengejar mereka. Tubuh-tubuh ketakutan menabrak Vidya, ia terjerembab. Ketika hendak memanggil Kamala, ia melihat Kamala meluncurkan desisan keras. Desisan ular. Kamala berdesis, sepertinya menyuruh ular-ular itu untuk tidak menyerang orang-orang, sembari kedua tangan melambai bersilangan. Namun, dari arah belakang, Kamala merasakan sesuatu mencengkram lehernya. Ia tak bisa bernapas. Adalah jari-jari kekar lelaki menjerat lehernya.
“Dukun biadab! Jadi kau yang menyuruh ular-ular itu untuk memangsa kami, heh?!”
Kamala mencuri-curi napas mencoba berbicara ke ular-ular itu, tapi hanya suara serak tertahan. Mata Kamala tercengang, bayangan besar menudungi mereka berdua. Di belakang punggung lelaki itu, si ular berdiri menjulur-julurkan lidah bercabangnya. Belum sempat lelaki itu menoleh ke belakang. Cepat si ular mengigit kepala si lelaki. Mendadak sengatan yang menguat itu hilang, diganti rasa pedih di perut Kamala. Bercak kemerahan kental melumuri pakaiannya. Kamala mengerang. Ternyata, sempat sebelum ular itu membunuh si lelaki, parang yang dibawanya menusuk perut Kamala.
Vidya berteriak, berlari menuju Kamala. Pada mata Kamala dunia berputar cepat, suara-suara terasa menjauh. Cahaya meliuk-liuk. Kamala ambruk, mencium Bumi. Vidya meraung. Angin sepoi-sepoi datang bersama capung-capung, mengelilingi mereka. Pohon-pohon yang masih berdiri teguh ikut bergemerisik. Semua berduka. Sebelum napas pergi dari raganya, Kamala mendesiskan sesuatu pada ular-ular itu. Segera ular-ular itu melingkari mereka. Vidya meraih tangan Ibunya. Kamala menghadiahkan serekah senyum pada Vidya. Saat airmata Vidya jatuh di pipi Kamala. Saat itu mata Kamala memejam. Keabadian telah memeluk Kamala. Dia tak lagi diikat Kehidupan.
Beberapa jenak timbul kesunyian untuk sesaat. Lalu Vidya menyemburkan lolongan yang menjadi-jadi. Memanggil-manggil Ibunya. Berkali-kali ia mengerjapkan mata, wajah ayu Ibunya mengabur, aliran bening di pelupuk tak jua berhenti. Ia merengkuh Ibunya, bayangan Kamala yang pernah hadir kala masih dirangkul kehidupan, meremang. Menjadi kepiluan yang tak terobati. Vidya dilanda rasa sepi. Kembali, cakar kesepian begitu kejam, menggores dalam.
Di kemudian hari, pada malam-malam purnama. Tidak ada yang menembang untuk Vidya kala ia menari untuk sebuah Demi. Tidak ada lagi. Ya, tidak akan ada lagi. *


Jakarta, January 2009




Nikotopia, seorang Pelamun Profesional yang sering konser di kamar
mandi. Salah satu Founder Komunitas Tin-Thir Jenawi-Karanganyar,
sedang mempersiapkan Event Pasar Jajan Tradisional. Kini tengah asyik
berkarya sebagai Freelance Scriptwriter, Penyanyi Dadakan, dan Aktor
untuk Features Film pertamanya: Anjing Hutan (Spence production, 2011)

No comments: