Sunday, 6 November 2011

Fiksi, Manusia, dan Tanah Esai Budiawan Dwi Santoso


Tanggal 25 Juni 1766, sekitar jam 11 malam, Jean-Baptiste Grenouille kembali ke tanah kelahirannya. Tanah yang paling busuk dan bau berada di Prancis. Tanah di mana ibunya digantung mati. Tanah di mana ia tak tahu awal mula tanah kelahirannya sendiri.
Perjalanannya pun adalah perjalanan membaui. Di mana, dengan ingatan indera penciumannya ini, ia kembali ke tanah asalnya. Di situlah, Grenouille benar-benar telah kembali ke tanah asal. Hanyalah sisa setetes wewangian yang sebelumnya ia guyurkan ke seluruh tubuhnya sendiri, yang menjadikan jejak. Jejak bau, jejak yang selalu ‘tak nampak’.
Sekelumit kisah itu adalah merupakan adegan terakhir dalam film berjudul Perfume: The Story of A Murderer. Film ini menceritakan seorang pembuat parfum yang hebat sekaligus pembunuh berdarah dingin di Prancis. Namun, yang menjadi perspektif utama dan menarik dalam film tersebut adalah sebuah pencarian jati diri sampai dengan pencapaian spiritual. Ini terlihat, bagaimana Jean-Baptiste Grenouille ketika mendaki bukit, gunung. Pendakiannya “membawa lebih tinggi, lebih dari manusia bahkan lebih mengarah pada kesunyian.”
Di situlah, ia mengenali goa, mengenali kesunyian, akhirnya mengenali keberadaannya sendiri. Di mana, kehidupan dan kematiannya, bermula dan berakhir di atas tanah juga.
Ini sebenarnya, mengingatkan kita bagaimana awal mula manusia, terbentuk dari tanah. Kehidupan Adam menjadi kehidupan yang menawarkan dan meyemaikan benih-benih hidup ke segala ranah. Kehidupan ini dan kini yang terkadang terlupakan oleh kita.
Tentunya, dari realitas fiksi itu, konstruksi tubuh dan pemikiran menjadi ingat pada maknawi, majasi, bahkan tanah asali. Ini juga yang menjadikan diri untuk menuju ke alam ironi, komedi, dan tragedi. Alam yang selalu membuat diri melakukan negasi, afirmasi, dan apresiasi. Alam yang penuh nostalgia, penuh logika.
Maka, seperti yang dikatakan Milan Kundera (2002) bahwa karya seni, karya fiksi, mengandung berbagai macam dimensi eksistensi: mampu menyelidiki dunia petualangan, menyingkap kehidupan perasaan, menemukan keberakaran manusia dalam sejarah, mengeksplorasi daerah yang sebelumnya tak dikenal dalam kehidupan sehari-hari, memusatkan diri pada kekacauan irasional tingkah laku dan keputusan-keputusan manusia serta mempelajari bagaimana mitos dari masa lalu mempengaruhi perilaku manusia sekarang.
Saya pun teringat lagi pada serpihan adegan film Perfume: The Story of A Murderer. Adegan di mana pada awalnya si tokoh utama tidak mengetahui tanah kelahirannya. Namun, dari kepekaan indera, khususnya indera penciuman, ia telah eksis dalam kehidupannya yang heterogen.
Kepekaan tokoh utama dalam karya fiksi itu menjadi kepekaan untuk menyadari diri, mawas diri, dan kepekaan untuk merubah kehidupan yang ‘buram’ ini menjadi kehidupan yang mencerahkan. Kepekaan mereka juga adalah kepekaan sebagai manusia yang menyadari bahwa hidup—meminjam bahasa Louis Leahy—bukan hanya mempertanyakan eksistensinya, tetapi juga membuka diri kepada suatu jawaban yang mungkin, yakni “keberanian untuk berada”. Namun, di realita ini, benarkah kepekaan dan keberadaan tiap manusia telah hilang, tak berada dari dalam diri manusia sendiri?
Phil Brown (2005) menyatakan bahwa kehidupan kini, kehidupan yang dipenuhi sistem kapitalis. Di mana, hidup dipenuhi ‘keseluruhan organisasi kehidupan manusia: penggabungan ekonomi yang menindas, organisasi sosial, budaya popular, etika dan moralitas, hubungan iner-personal, dan yang lainnya. Sistem itu membuat kemanusiaan jauh dari bumi (tanah ini) yang diciptakan itu dan dari dunia kemanusiaan yang telah diciptakan’. Nuansa kapitalisme sekaligus paham yang berperan penting dalam metode ilmu pengetahuan itulah yang menurut Brown ‘memusnahkan validitas pengalaman indera manusia’. Ini juga yang menjadikan manusia terkadang tidak dapat mengejawantahkan dirinya sebagai subyek yang bebas, kreatif, memiliki nilai-nilai moral dan spiritual tinggi.
Keadaan seperti di atas yang mungkin menjadikan eksistensi manusia lekas hancur atau tiada. Memang, manusia hidup di dunia dalam kondisi antara ada dan tiada. Manusia di antara keterbatasan dan ketakterbatasan. Manusia juga tidak terlepas oleh hidup yang seperti teori fisika quantumnya Newton. Walaupun,–meminjam ungkapan puitis Oka Rusmini pula dalam sajak Tanah Lelakiku (1994): tanahku, tanah barumu/setiap garis mengandung darah dan benih luka… Paling tidak, kita menginginkan untuk bisa “…membaca bahasa ilalang dan karang.” Kita menginginkan keadaan diri ini, diri manusia bisa menjadikan ketidakadaan diri yang penuh maknawi, majasi, dan asali.
Kiranya, keberakhiran itu yang sebenarnya bisa mengingatkan kita pada keberakhiran Ernest Hemingway, Virginia Wolf, Yasunari Kawabata. Di mana keberakhirannya justru mampu menyemaikan benih-benih “keberadaan” mereka pada kita di dunia ini dengan abadi. *



Budiawan Dwi Santoso, bergiat di Pengajian Jumat Petang dan Malem Senin (Solo). Tulisan-tulisan dimuat di Kompas, Suara Merdeka, dan Solopos.

No comments: