Thursday, 7 April 2011

Beberapa Puisi di Buletin Pawon Edisi Puisi











Puisi Anna Subekti

Merah Marah Darah

Bayang api berpendar di jendela kaca rumahmu
lelaki lajang dan wanita jalang
bercengkerama tanpa kata di ambang pintu
marah merah
peri malam bersandar batu pualam
menangkap tatap kosong
nanar
aku meminta jeda, dalam setiap baris yang kau sebut kata





Puisi Fatimah Wahyu Sundari


Lukisan-lukisan Garam

Berjalan sunyi di tepi laut
Menuju gubug tua
Kita akan bercerita
Dalam kaca bermuram cahaya
Kudengar dengkurmu di kamar sebelah
Ingin segera kuserahkan
Segala tunduk, cium, rinduku padamu
Mata kita menemukan lukisan-lukisan garam
Tak memerihkan namun memerahkan

Kau hisap darahku rakus
Hingga ombak yang menjerit
Terkalahkan gelombang tawamu
Lalu kita menapaki serakan pasir putih
Ku sapa angin bersama nyawa yang terlelap
Menuju jembatan dingin

Aku tak sanggup mengungkap senyum
Meski jejak langkahmu selalu kuikuti


Fatimah Wahyu Sundari, penyair muda asli Karanganyar. Siswi XII IPS SMA Al Muayyad Surakarta. Bergiat di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.




Puisi Fanny Chotimah


Gelas-gelas Tak Bertuan

Gelas-gelas itu berdiri pasrah di atas meja
dengan endapan teh manis, ampas kopi, air putih dan genangan semut.
Gelas-gelas itu menunggu sebuah genggaman.

Gelas-gelas itu selalu terjaga meski ditinggalkan.
Ia mungkin tak ingat berapa banyak bibir yang pernah mengecupnya.
Namun ia tak pernah lupa akan kecupan pertama dari perempuan
tanpa perona bibir. Meninggalkan jejak lekat di ingatan,
air sabun tak bisa menghapusnya.
Jejak itu selalu ada di sana, menunggu pemiliknya kembali.

Gelas-gelas itu setia menemani percakapan.
Kunjungan tak terduga seorang tamu
yang diharapkan maupun tidak.
Gelas-gelas itu merayakan kedatangan.
Gelas-gelas itu teman kesepian.

2010


Fanny Chotimah, perempuan pemalas yang sering bangun kesiangan, hobi cuci piring ditinggal di Solo.




Puisi Indah Darmastuti


Mengartikanmu
: Yang Pernah Tinggal di Osaka


Kelopak melati cintaku
Mengantar mekar, mengumbar wangi setanggi temui hatimu

Kau yang di jauh
Kau yang tak tersentuh oleh jejariku dengan madu yang menyepuh
Manis tercecap gilapkan bibir hausmu

Mengayuh rengkuh tatkala rindu hadir menggebu
Ingin kuselimutkan padamu, rambutku yang telah kucuci
Ingin kutidurkan engkau dalam gelaran zaman yang teranyam
Lalu kukidungkan nyanyian sukma dan doa tanpa ratap dan air mata

Lalu kau akan terbangun pada pagi
Tanpa kau temui tubuhku berada di sisi
Selain wangi melati
yang mengantarmu menjumpai hadirku dalam bayang dan mimpi

Solo, 6 Juni 2000



Indah Darmastuti, karya-karyanya tersebar di berbagai media. Novelnya Kepompong telah diterbitkan oleh Jalasutra.




Puisi Miftahul Abrori


Kancing Baju

1
Di Ranjang aku tertusuk kain matamu
Benang biru yang memburu benih
Tergantung di jendela berpagar rindu
Mengurai mimpi di selakang waktu

Aku membiarkan pijakan kakimu
Terbenam di antara rayuan
Melupakan warna pilu
lalu terburai di kancing baju
Malam yang telah kita sepakati
Lelap dalam sepi menipu

2
Bumi merah menelan darah
manusia digelendeng seperti keledai
menjadi tumbal kebodohjan

orang-orang penuh debu
orang-orang berwajah biru
dipermainkan peradaban

Tangan melepuh membuka pagar besi
pelan tanpa menyesatkan bunyi
sepatu dilepas lalu menyapa pintu
matanya tertinggal
menatap sekeranjang tumpukan benang

api tak lagi panas
mengambang tersengat tali
dikancing baju
ia menitip semburat ngilu

Bumi Mangkuyudan, Januari 2011



Miftahul Abrori, bergiat di Thariqat Sastra Sapu Jagad dan Paguyuban Manunggaling Kawula lan Sastra. Masih kuliah di Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta.





Puisi Sartika Dian


Ibuku dan Ibumu

air dan hujan
siapa kalian? ibuku atau ibumu?
ataukah ibu yang lain yang diam
sementara debu beterbangan dan menempel di rimbunnya pepohonan
langit yang di atasnya
ada pendar bintang seribu
kejora, kaliankah ibuku atau ibumu yang turut melangkah bersama pendulum bisu yang berdetak detik
pasir putih dan segala
gejolak di dalamnya
adalah klimaks da gambar-gambar kosong
gelombangnya membawaku, musuh dalam ketiadaan

semalam entah mengapa ada
mimpi yang kosong
berbicara tentangmu
tak ada klimaks
yang ada hanya samar-samar
memayahkan tubuhmu
dan putih bergoyang-goyang
sutau hari ada pualam yang retak di antara kakiku dan kakimu
kita menikmati malam pukah berdua
ibuku patah
ibumu ternyata juga

25 Nov 2010



Sartika Dian Nuraini, esais dan aktif di Pengajian Senin (Solo)





Puisi Siska Afriani


Kesaksian Kelopak Mawar Hutan

Dan ketika subuh itu berada dalam kedamaian tak bertuan,
Kau selalu terbangun dari mimpi-mimpi tak beralasan,
Lalu bersicepat dengan waktu,
Menyibak kerumunan embun pagi yang mungkin
akan meremukkan tubuh ringkihmu,
Mendaki punggung bukit yang tak lagi sepantaran dengan usiamu.

Kau tau.....?
Semua orang masih terlelap menjemput mimpinya dalam angan tak nyata,
Nyonya-nyonya besar itu masih berpeluk erat dengan suami mereka,
Dan para pelacur itu baru saja menikmati hidup yang baru mereka rengkuh,
Sementara kau.....
Harus bergelut dengan dinginnya pagi,
Memunguti kelopak-kelopak mawar hutan
Untuk memuaskan cacing-cacing yang selalu berkerontangan dalam perutmu.
Lalu adilkah hidup ini bagimu...?

***

Alunan lagu sunyi disubuh itu
selalu membangunkanku dari mimpi-mimpi yang berkesan,
Lalu berpacu dengan waktu,
Menyibak kerumunan embun pagi yang menyejukkan tubuh ringkihku,
Bercengkrama dengan punggung bukit yang mematangkanku bersama dengan waktu.

Ketika aku melangkah dalam hening subuh itu
Mungkin saja orang-orang di kota besar-yang tak pernah kutahu pasti namanya-
masih terlelap menjemput mimpi,
Tapi bagiku ini kenikmatan hidup tak terperi.

Bagiku inilah kenikmatan hidup,
Menjadi tua tanpa perlu bergantung pada anak cucu,
Memberi hidup pada hidupku tanpa perlu menunggu,
Mengumpulkan mawar-mawar hutan yang akan menyenangkan
cacing-cacing yang kadang berontak dalam perutku,
Dan kembali menunggu pagi,
Untuk kembali berpacu dengan waktu,
Bukankah hidup ini adil padaku...???

Januari 2011


Siska Afriani, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, 2009, Universitas Negeri Padang.





Puisi Yudhi Herwibowo

Kain Merah Pudar

kain merah pudar yang kausampirkan di relungku
adalah kain yang dulunya putih
tempat kita mencoreti masa lalu

kau masih saja terluka
di meja makan bundar, tempat kau dan aku bersantap
bersama anak-anakmu, anak-anakku
kau akan selalu bercerita tentang bekas luka di dahimu: kemarahanmu
seakan luka itu masih mengerak perih
dengan kata-kata kramat leluhur yang terpekik
dan aku: hanya bisa menggelung kata

kau memang telah berubah,
tidak semenjak kau sampirkan kain merah pudar itu di relungku
tidak, tidak: tapi jauh, jauh selebih itu
kini kau bahkan begitu berapi
seakan mendapat wangsit, yang sebenarnya hanyalah pangsit di wadah busuk
kau bahkan mengubah semuanya: mencoreti lagi dengan kata-kata leluhurmu di kain merah pudar ini, hingga menjadi lebih kusam
seakan telah menyembuhkan penyakit paling kronis diri kita: kematian

dan aku hanya akan berlirih: ‘maafkan aku, karena tak bisa ikut denganmu…’
tapi kain merah pudar ini, biarlah tetap di sini.

solo, juli 2008


Yudhi Herwibowo, sudah menulis beberapa buku, buku terakhirnya yang baru dirilis Untung Surapati, sebuah roman sejarah.



No comments: