Friday, 1 April 2011

ANAK ARLOJI TERHARU DI BALAI SOEDJATMOKO SOLO, tulisan Kurnia Effendi

Jika ada yang bertanya kepada saya: “Bagaimana perasaanmu saat Anak Arloji dibincang teman-teman penggiat sastra di Solo?” – akan saya jawab: “Itulah malam paling mengharukan untuk awal perjalanan buku.”

Syahdan, saya, Endah, dan Raya berniat membesuk sahabat kami, Sanie B Kuncoro di Solo yang sakit dan baru menjalani operasi. Disepakati akan terbang pada Sabtu pagi, 26 Maret. Tidak ada niat lain kecuali hendak membesarkan hati Sanie, mau ngobrol sepuasnya untuk menghiburnya. Namun, empat hari menjelang keberangkatan, Susan (panggilan lain Sanie) justru mengusulkan agar kedatangan kami sekalian untuk mendiskusikan buku saya, Anak Arloji. Hah?

Sungguh kami merasa tak tahu diri jika niat besuk berubah jadi mendiskusikan buku andai kata usul itu datang dari salah satu di antara kami. Susan berulang kali meyakinkan bahwa itu tak masalah, bahkan ia yang kemudian mengerahkan para sahabatnya untuk bertindak cepat membentuk “panitia”. Demikianlah, maka pada Rabu malam 23 Maret, saya mengirimkan naskah Anak Arloji, untuk mempercepat pembacaan mengingat buku belum tentu terkejar jika dikirim via pos.

Yudhi Herwibowo, kawan seiring ketika di Festival Ubud, begitu ringan tangan menghubungi lima penulis Solo untuk membahas (mengurai, menurut bahasa Yudhi) dan seorang pembaca cerpen. Lima penulis itu tampaknya mewakili beberapa ‘aliran’. Endah, sebagai marketing komunikasi penerbit Serambi menjanjikan 5 buah buku untuk para pengurai itu.

Ringkas kisah, kami bertiga tiba di Solo langsung ke rumah Susan untuk menunaikan tujuan utama: berkunjung dan menghibur. Suasana terasa mengharu-biru ketika Susan turun ke jalan untuk menyambut kami, memeluk dengan sepenuh rindu. Susan yang menyebut dirinya sebagai kunang-kunang dengan sebelah sayap itu sudah pandai tersenyum dan bercerita tiada henti. Apalagi, ternyata, ia mendapat kejutan dengan kehadiran Aling dan Widya yang diam-diam.

Menjelang sore, saya dan Raya check in di Lor In, sedangkan Endah akan menginap di rumah Susan. Kami berpisah, beristirahat untuk persiapan acara “Mengurai Anak Arloji” di Balai Soedjatmoko lantai dasar Gramedia Jl. Slamet Riyadi, Solo. Usai magrib kami janjian bertemu di lokasi.

Demikianlah…dari berbagai jurusan akhirnya kami berkumpul di tempat acara. Karpet digelar di salah satu ruang yang konon dulu merupakan rumah dan perpustakaan milik Soedjatmoko, sang budayawan. Satu per satu pengurai dan peserta datang. Sebelum acara berlangsung, kami makan malam nasi gudeg Adem Ayem. Pukul 19:30, Susan mengambil mic dan memulai ‘tugasnya’ sebagai moderator. Teman-teman, para pembahas dan pendengar, yang pada satu titik tertentu mencapai jumlah 34 orang, menyeputar lesehan dengan karib.

Susan memperkenalkan saya, lalu saya bercerita sedikit mengenai perjalanan buku Anak Arloji sejak manuskrip sampai Anton Kurnia dari Serambi meminang untuk menerbitkannya. Rasanya begitu lekas, tanggal 17 Februari keputusan dibuat, pada 11 Maret buku sudah selesai cetak dan sempat mejeng dengan aroma tinta cetak masih segar di Islamic Book Fair Istora Senayan, Jakarta. Pada hari Minggu 13 Maret, Anak Arloji menjadi bahan talkshow di RRI Pro 2 Fm. Launching berlangsung pada malam Minggu, 19 Maret di Taman Kuliner Kalimalang Jakarta Timur dengan pembacaan yang mengasyikkan oleh: Aurelia Tiara Widjanarko, Budiman Sudjatmiko, Khrisna Pabichara, Ine Febrianti, dan Sujiwo Tejo. Penampilan music oleh E-coustic dan Diksy Traff. Keesokan sorenya, kembali talkshow Anak Arloji mengudara di radio D-Fm.

Gairah tak kunjung reda dengan adanya perbincangan Anak Arloji di ruang yang menjadi bagian dari Bentara Budaya Solo. Sengaja formatnya dibikin bukan sebagai diskusi serius. Kami berbincang santai dengan saling mengungkapkan kesan pembacaan dari masing-masing pengurai. Dan malam itu, saya meminta semua teman jujur menyampaikan kritik dan saran, bukan untuk memberikan pujian. Dengan suasana serupa itu, justru saya mendapatkan banyak manfaat.

Pembacaan petikan cerpen Anak Arloji oleh Sartikan Dian, mengawali perbincangan. Susan mendaulat secara berturut-turut: Abednego, Yudi Teha, Andri Saptono, Nashita, Han Gagas, dan Yudhi Herwibowo. Sesekali Bandung Mawardi member komentar. Nah, saya merasa senang karena kemudian mendapatkan beberapa hal penting, antara lain:

- Ada ketidaklogisan pada cerpen Kuku Kelingking (Nashita), sementara menurut Yudi Teha, cerpen itu merupakan simbolisasi pengorbanan seorang Ibu yang mencintai anaknya. Lain lagi dengan pendapat Han Gagas, yang menganggap ide sederhana tentang anak-anak yang sulit makan namun menjadi cerita yang berkembang.

- Aromawar yang dibangun dengan indah berakhir mentah menurut Andri, tetapi justru menjadi favorit Nashita, sedangkan Yudhi Herwibowo merasa surprise karena tokoh cerpen ini merujuk pada kisah-kisah HC Andersen

- Han Gagas menganggap cerpen-cerpen dalam Anak Arloji tidak berpihak pada kesadaran lingkungan dan tidak menemukan gagasan ilmu lain semisal filsafat. Di sisi lain, Nashita (dari Forum Lingkar Pena Solo) menganggap tidak ada pesan moral dalam buku itu.

- Yudhi Herwibowo merasa terganggu oleh nama Andria pada cerpen Tetes Hujan Menjadi Abu, juga kecewa dengan akhir cerpen Noriyu yang terasa dipaksakan. Sedangkan Andri Saptono menganggap kisah nabi yang dikutip untuk cerpen Jalan Teduh Menuju Rumah kurang akurat.

Dan tentu banyak lagi yang saya anggap sebagai uraian kritis dan menjadi masukan bermanfaat. Perbedaan pendapat antarsahabat juga menunjukkan selera dan tafsir masing-masing yang justru memperkaya wawasan. Saya yakin, malam itu, teman-teman begitu tulus menyampaikan pendapat dan itu bukti rasa sayang terhadap kepengarangan saya.

Susan tidak setuju dengan istilah “pengarang sudah mati”, untuk membuat saya perlu bertanggung jawab dengan hasil proses kreatif itu. Malam bergerak dengan sangat menarik, diakhiri dengan book signing dan foto bersama. Mudah-mudahan iklim keterbukaan semacam itu bisa saya pelihara dalam banyak diskusi berikutnya.

Untuk semua yang telah berjalan dengan indah, ternyata merupakan campur tangan ikhlas banyak sahabat. Oleh karena itu, sangat patut saya mengucapkan terima kasih kepada:

-Susan Sanie B. Kuncoro atas prakarsa menyelenggarakan bincang Anak Arloji di Solo dan menyediakan kudapan jajan pasar untuk para peserta
-Yudhi Herwibowo yang menggerakan semua penggiat sastra untuk membaca, mengurai, dan memberikan pendapat secara jujur
-Yunanto yang menyediakan fasilitas ruang dan sound system di Balai Soedjatmoko, Gramedia Solo
-Abednego, Andri Saptono, Nashita, Yudi Teha, Han Gagas, Bandung Mawardi, dan Yudhi Herwibowo yang telah mengurai Anak Arloji dengan sudut pandang dan cara masing-masing
-Sartika Dian yang telah membacakan petikan cerpen Anak Arloji
-Pak Edy Susanto, Pak Santoso, dan Pak Teguh Jaya dari Solo Indonesia Utama yang telah memberikan fasilitas kendaraan dan wisata kuliner selama saya di Solo
-Pak Doni Warna yang menyediakan makan malam para peserta diskusi
-Henri Raya Batubara yang menyediakan penginapan di hotel Lor In Solo
-Endah Sulwesi yang mengawal kegiatan diskusi dan dokumentasi acara
Tak lupa untuk para peserta yang hadir malam itu, terima kasih mendalam.

Salam,
Kurnia Effendi

2 comments:

atmokanjeng said...

Sebuah kenangan manis yang saya abadikan dalam sebuah cerpen yang kemudian saya kirim ke media... semoga saja dimuat.. :D

Buletin Sastra PAWON said...

semoga dimuat. kalo sudah dimuat bisa diposting di sini mas... :)