Saturday, 30 October 2010

Sandiwara Humor dan Propaganda Jepang, Esai Fandy Hutari

Pada saat Jepang menduduki Indonesia (1942-1945), seluruh aktivitas dan media dipergunakan untuk kepentingan politik mereka: propaganda perang. Seluruh media massa, film, surat kabar, buku, pamflet, poster, foto, siaran radio, pidato, seni pertunjukan tradisional, termasuk seni sandiwara modern dimanfaatkan untuk melaksanakan skema propaganda yang diatur oleh Sendenbu (Departemen Propaganda). Sandiwara modern, dalam segala bentuk?baik pertunjukan, radio, maupun lakon?ikut digiring untuk keperluan itu.
Pada masa pendudukan Jepang mulai dikenal satu bentuk sandiwara yang boleh dibilang baru, yaitu sandiwara humor. Waktu itu dikenal dengan “sandiwara leloetjoen”. Humor adalah suatu kualitas persepsi yang memungkinkan kita mengalami kegembiraan, bahkan ketika kita sedang menghadapi kesusahan. Humor bisa diekspresikan dalam berbagai media, misalnya kata-kata, audio-visual, maupun pagelaran sandiwara di atas panggung. Sandiwara humor dikenal di Indonesia pada masa Jepang. Bentuk sandiwara ini juga didorong perkembangannya oleh Jepang dengan tujuan yang sama: propaganda perang. Menurut Aiko Kurasawa (1993: 248), sandiwara humor merupakan lakon pendek, biasanya terdiri dari satu babak. Lazimnya, pemain utamanya seorang penduduk yang bodoh, tetapi berhati baik dengan seorang bijaksana yang memberi penerangan mengenai kebijakan dan peraturan baru yang dikeluarkan pemerintah, dalam hal ini pemerintah pendudukan Jepang. Di masa Jepang, lakon sandiwara humor terkumpul di buku Panggoeng Giat Gembira: Koempoelan Sandiwara dan Leloetjoen yang terbit sebanyak tiga jilid. Dari tiga jilid tersebut, ada enam lakon sandiwara lelucon, yaitu “Djarak” karya D. Djojokoesoemo, “Gendoet dan Kampret” karya A. Kartahadimadja, “Bekerdja” karya Ananta Gaharasjah1, “Ajo...Djadi Roomusha!” karya Ananta Gaharasjah, “Huzinkai” karya Anak Masjarakat2, dan “Bebek Bertoeah” karya Aki Panjoempit. Selain itu di majalah Djawa Baroe3 terdapat dua lakon sandiwara lelucon, yaitu “Gerakan Hidoep Baroe” dan “Kumityoo Istimewa” karya Ananta Gaharasjah. Buku ini satu-satunya referensi terlengkap sandiwara humor jaman Jepang.

Pesan Propaganda
Saya akan membedah sedikit mengenai isi masing-masing lakon sandiwara humor yang kesemuanya bermuatan propaganda politik ini. Pesan propaganda dalam lakon “Djarak” terlihat pada nasihat seorang tokoh bernama Tembak, kepada Pak Bopeng tentang manfaat biji buah jarak bagi pemerintah. Pak Bopeng berkarakter bodoh sedangkan Pak Tembak seorang yang cerdas. Pemerintah memerlukan biji jarak sebagai minyak pesawat tempurnya, untuk itu penduduk wajib menyerahkan atau menjual murah buah jarak pada pemerintah. Tembak juga menjelaskan tentang pentingnya petani dan hasil bumi dalam masa peperangan (Djojokoesoemo dalam Panggoeng Giat Gembira Djilid I, 2605: 26-28).
Dalam lakon “Gendoet dan Kampret” pesan propagandanya tergambar pada nasihat yang diberikan oleh Kumicho, seorang kepala kampung dalam Tonarigumi4, dan Kucho, seorang kepala desa, kepada Pak Gendoet. Diceritakan bahwa Pak Gendoet adalah orang yang selalu berfoya-foya, kerjanya hanya main dadu dan pergi ke ronggeng, sehingga kurang memperhatikan keluarganya. Anaknya, Gendoet, membolos sekolah dan ketahuan oleh Kumicho sedang main kelereng bersama Kampret, sedangkan istrinya kehabisan uang belanja, karena duitnya habis untuk main dadu dan ronggeng. Pak Gendoet dinasihati agar memperhatikan pendidikan anaknya, ia diberi contoh supaya meniru Bang Saripin yang anaknya jadi guru, dan Bang Moein yang anaknya jadi Heiho5 (Kartahadimadja dalam Panggoeng Giat Gembira Djilid I, 2605: 29-32).
Lakon “Bekerdja” pesan propagandanya terlihat ketika Bang Djangkoeng memberi nasihat kepada Pak Gendoet yang pemalas tentang arti penting bekerja di dalam zaman peperangan. Pak Gendoet, yang kerjanya hanya tidur saja, baru sadar akan pentingnya bekerja ketika dinasihati oleh Kumicho, seorang yang sangat disegani di desa dan ketua Tonarigumi, yang dibawa oleh Bang Djangkoeng ke rumahnya (Ananta Gs dalam Panggoeng Giat Gembira Djilid I, 2605: 13-25). Sebuah komentar yang tertulis dalam buku Panggoeng Giat Gembira menyebutkan bahwa lakon sandiwara lelucon “Bekerdja” merupakan “seboeah lakon jang telah dipertoendjoekkan oleh Rombongan Sandiwara Keliling-Poesat Keboedajaan6, sampai kedesa-desa dengan samboetan baik sekali”. Sedangkan lakon sandiwara lelucon “Djarak” dan “Gendoet dan Kampret” “termasoek leloetjon jang senantiasa dapat samboetan meriah dari persediaan Rombongan Sandiwara Keliling-Poesat Keboedajaan, Djakarta”.
Lakon “Ajoo...Djadi Roomusha!” karya Ananta Gs pesan propagandanya terlihat ketika tokoh Pak Gendoet, Toean Moeda, dan Pak Krempeng gembira setelah mendaftarkan diri sebagai Romusha7 sukarela. Pada awalnya terkesan mereka sedikit terpaksa untuk mendaftarkan diri menjadi Romusha. Lakon ini memberi penerangan tentang kegembiraan dalam bekerja secara sukarela (menjadi Romusha) untuk memperkuat pertahanan di garis belakang (Ananta Gs dalam Panggoeng Giat Gembira Djilid II, 2605: 17-22). Dalam lakon “Ájoo...Djadi Roomusha!” ini terdapat sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Pak Gendoet, salah satu tokoh dalam lakon tersebut. Lirik lagu itu tertulis sebagai berikut:

Engkau tanah air jang koetjinta,
kau limpah koernia padakoe,
sekarang kebaktian kau minta,
gaja koeserahkan padamoe.
koedjadi petani,
koedjadi roomusha,
koekerdjakan semoea senang.
koedjadi petani,
koedjadi roomusha,
koekerdjakan semoea senang.
Toeloes, ichlas, soeka, rela.........
Lakon “Huzinkai” karya Anak Masjarakat menyampaikan pesan tentang pengenalan pekerjaan dalam himpunan Huzinkai sebagai badan Hokokai yang berjuang di garis belakang. Lakon ini berkisah mengenai Soeharti yang masuk ke dalam Perkumpulan Huzinkai. Huzinkai adalah perkumpulan khusus untuk kaum wanita, yang bertujuan membantu perang lewat garis belakang, dengan cara menyerahkan perhiasan kepada pemerintah untuk keperluan perang, memberi semangat kepada para ibu dari Heiho dan Peta, memberi pendidikan untuk memberantas buta huruf, dan lain-lain (Masjarakat dalam Panggoeng Giat Gembira Djilid III, 2605: 19-25).
Lakon “Bebek Bertoeah” karya Aki Panjoempit menyampaikan pesan tentang nilai kebaktian rakyat dalam membantu urusan umum (perang). Berkisah mengenai seorang yang kaya raya tetapi kikir dan acuh terhadap keadaan perang. Cerita diawali oleh kegelisahan Pak Djoeriah, penduduk kaya tetapi kikir, karena bebeknya tidak mau bertelur. Karena tidak menghasilkan telur, kemudian bebek itu diberikan kepada Saenan, seorang tetua desa dan pembantu Kutyo (kepala desa). Setelah bebek itu diberikan kepada Saenan, bebek tersebut tidak berhenti bertelur. Kutyo (kepala desa) dan Saenan kemudian datang ke rumah Pak Djoeriah untuk memberi tahu hal tersebut. Pak Djoeriah bingung karena ketika di rumahnya, bebek itu tidak mau bertelur. Dialog Saenan dan Kutyo seakan mempertegas pesan propaganda. Saenan: “Doeloe dia haroes berteloer oentoek kepentingan Pak Djoeriah sendiri, sekarang ia berbakti kepada negeri”. Kutyo: “Sesoeai dengan semangat perang poela. Memperlipat hasil boekan kepalang. kalau bebek mengerti, moestahil Pak Djoeriah tidak!”. Karena sindiran tersebut, Pak Djoeriah sadar, atau terpaksa sadar, akan pentingnya berkorban menyumbangkan sebagian hasil bumi bagi pemerintah. Akhirnya Pak Djoeriah menyerahkan padinya untuk pemerintah. Ternyata bebek yang tidak henti-hentinya bertelur tersebut bukan bebek asli, “tetapi orang jang berdjalan memboengkoek-boengkoek. Teloernja dari barang apa sadja, ditaroeh dalam kain jang digendong didadanja” (Panjoempit dalam Panggoeng Giat Gembira Djilid III, 2605: 26-28).
Dua lakon sandiwara lelucon, “Gerakan Hidoep Baroe” dan “Kumityoo Istimewa”, karya Ananta Gaharasjah terdapat dalam majalah Djawa Baroe. Pesan propaganda dalam lakon “Gerakan Hidoep Baroe” terlihat ketika Kumityoo, pemimpin Tonarigumi, datang untuk memberi penerangan kepada Krempeng dan Djangkoeng tentang pentingnya menyesuaikan hidup dengan keadaan perang. Harus berani menderita dan rela berkorban demi tanah air (Gaharasjah dalam Djawa Baroe, 1 Maret 2605: 29-31). Sedangkan pesan propaganda dalam lakon “Kumityoo Istimewa” terlihat ketika Bang Istimewa, pemimpin Tonarigumi, menyadarkan beberapa anggota Tonarigumi yang senantiasa tidak patuh kepada “Gerakan Hidoep Baroe” yang dianjurkan pemerintah. Ada beberapa tokoh yang pada akhirnya insaf akan tugas mereka di masa perang dan kewajiban mereka kepada pemerintah. Bang Djahil, yang tadinya berlaku sombong dan tidak mau ikut kewajiban Tonarigumi, seperti jaga malam, menjadi Romusha, dan ikut rapat Tonarigumi insaf setelah dinasihati oleh Bang Istimewa tentang hak dan kewajiban di dalam zaman peperangan. Begitu pula dengan Bang Rewel yang tadinya tidak mau ikut jaga malam, Bang Biting yang tadinya tidak mau senam taiso, dan Bang Keong yang sadar pada kerugian mencatut. Wijaya dan Sarinah menjadi contoh bagi mereka yang melanggar peraturan di dalam Tonarigumi dan Gerakan Hidoep Baroe (Gaharasjah dalam Djawa Baroe, 15 Juni 2605: 20-23).

Propaganda (yang) Salah Alamat
Seluruh lakon sandiwara yang dimuat dalam media massa terbitan pemerintah adalah lakon-lakon yang mendukung segala kebijakan pemerintah, dan tidak membahayakan kedudukan pemerintah. Termasuk lakon sandiwara humor. Lakon-lakon yang mengancam kedudukan pemerintah dan berisi tentang pikiran ala Barat tidak ada yang dimuat, bahkan dilarang sama sekali. Jika disimpulkan, lakon-lakon sandiwara humor yang ditulis pada masa ini memiliki kategori isi. Pertama, memberikan gambaran yang jelek terhadap penjajahan Belanda dan bangsa Barat. Tujuannya untuk menanamkan rasa anti terhadap Belanda, Amerika, dan Inggris yang menjadi musuh utama Jepang. Kedua, menganjurkan untuk mengikhlaskan anggota keluarganya memasuki barisan Suka Rela, Peta (Pembela Tanah Air), Heiho, dan Jibaku. Ketiga, menganjurkan untuk tidak hidup bersenang-senang dan tidak mementingkan diri sendiri di tengah peperangan. Keempat, rela berkorban dengan menyumbangkan tenaga dan hasil bumi kepada pemerintah. Kelima, memuji kehebatan tentara Jepang yang berjuang mengusir penjajah Barat dari Asia. Isi dari lakon-lakon tersebut selalu terkesan sangat sederhana. Ciri khas lakon-lakon ini di antaranya selalu ada dua pihak yang bertentangan, pemberi nasihat dan yang diberi nasihat, ada seorang yang bersikap masa bodoh tetapi pada akhir cerita sadar akan kekeliruannya. Kemudian selalu ada tokoh yang secara tiba-tiba pendiriannya berubah drastis, yang awalnya bersikap masa bodoh, kemudian berubah menjadi sangat dipuji, tanpa dijelaskan panjang lebar mengapa tokoh tersebut berubah.
Sebenarnya propaganda Jepang ini salah alamat. Kalau merujuk pada isi lakon lakon dalam buku Panggoeng Giat Gembira terlihat sekali sasarannya adalah rakyat dari kalangan menengah ke bawah (rakyat mayoritas di negeri ini). Terutama bagi mereka yang ada di desa-desa. Namun target mereka untuk meraih simpati dari rakyat desa ini boleh jadi tidak tersentuh lewat karya lakon yang termuat dalam buku ini. Dugaan saya, kebanyakan dari mereka yang justru dapat menyentuh karya-karya yang terdapat dalam buku ini, atau bahkan yang terdapat di media-media massa, adalah dari kalangan terpelajar. Sedangkan rakyat desa, mayoritas pada masa ini masih buta-huruf, dan tidak bisa membeli, apalagi “menikmati” buku kumpulan lakon sandiwara ini.

*****


Catatan Kaki
1 Sepanjang pengetahuan saya, Ananta Gaharasjah ini merupakan orang yang paling produktif menulis sandiwara lelucon yang bermuatan propaganda.
2 Menurut dugaan saya, ini merupakan nama samaran Armijn Pane. Sebab, saya pernah menemukan karya (buku drama) Armijn Pane dengan judul dan isi yang sama.
3 Salah satu media yang terbit pada masa Jepang dan kebanyakan isinya berupa kebaikan pemerintah pendudukan Jepang.
4Rukun tetangga. Dibentuk untuk tujuan meningkatkan pergerakan maupun pengawasan terhadap penduduk (Poesponegoro dan Notosusanto, 1993: 40).
5 Heiho adalah pembantu prajurit Jepang. Heiho ditempatkan di dalam organisasi militer Jepang, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut, yang dibentuk pada April 1943 (Reid dan Okira, tt: x; Posponegoro dan Notosusanto, 1993: 33).
6 Keimin Bunka Shidosho.
7 Pekerja paksa zaman Jepang. Biasanya mereka ditugasi untuk membangun landasan pacu, jembatan, jalan raya dan lain-lain.

Kepustakaan
Djawa Baroe, 1 Maret 2605: 29-31.
Djawa Baroe, 15 Juni 2605: 20-23
Djawa Hookookai Keimin Bunka Shidosho. 2605.Panggoeng Giat Gembira Lakon Sandiwara dan Leloetjon Djilid I. Djakarta: Djawa Hookookai Keimin Bunka Shidosho.
————————————. 2605. Panggoeng Giat Gembira Lakon Sandiwara dan Leloetjon Djilid II. Djakarta: Djawa Hookookai Keimin Bunka Shidosho.
————————————. 2605. Panggoeng Giat Gembira Lakon Sandiwara dan Leloetjon Djilid III. Djakarta: Djawa Hookookai Keimin Bunka Shidosho.
Hutari, Fandy. 2009. Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktifitas Sandiwara Modern Masa Jepang. Yogyakarta: Ombak.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid VI. Jakarta: Depdikbud dan Balai Pustaka.
Reid, Anthony dan Oki Akira (ed.). t.th. The Japanese Experience in Indonesia; Selected Memoirs of 1942-1945. Ohio: Ohio University.
Sumardjo, Jakob. 2004. Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung: STSI Press.

Fandy Hutari, lahir di Jakarta pada 17 Agustus 1984. Penulis buku, esai, novel, cerpen, dan puisi. Dua bukunya sudah diterbitkan, yaitu Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktifitas Sandiwara Modern Masa Jepang (Ombak, 2009), dan Ingatan Dodol (Insist Media Utama, 2010). Dua buku lainnya, Hobieran Masa Laloe dan Tradisi Lokal (kumpulan artikel) dan Imaji Bumi (novel) sedang dalam proses penerbitan. E-mail: fandyhutari@yahoo.com.

No comments: