Friday, 15 August 2008

Puisi Agustus

Pablo Neruda

AKU MENGINGATMU SEPERTI DULU

Aku mengingatmu seperti dulu di musim gugur terakhir.
Kau adalah baret abu-abu dan keheningan hati.
Di dalam matamu nyala senja bertahan.
Dan daun-daun jatuh di air jiwamu.

Rangkulan lenganku seperti rambatan tumbuhan
daun-daun menyimpan suaramu, yang lamban dan dalam damai.
Api unggun rasa kagum di mana dahagaku membakar.
Bunga bakung biru manis membelit di atas jiwaku.

Aku merasa matamu melintas, dan musim gugus jauh sekali:
baret abu-abu, suara seekor burung, hati seperti sebuah rumah
menjelang di mana keinginanku yang dalam berpindah tempat
dan ciumanku rubuh, bahagia seperti bara api.

Langit dari sebuah kapal. Bidang dari bukit:
Ingatanmu terbuat dari cahaya, dari asap, dari kolam keheningan!
Di balik matamu, lebih jauh terpasang, malam yang berkobar.
Daun-daun kering musim gugur berpusar dalam jiwamu.


Diterjemahkan oleh Ridha al Qadri dari I Remember You as You Were dalam Pablo Neruda: Twenty Love Poems and a Song of Despair, translated from Spanish by W. S. Mervin, Penguin Books, 1993.


Robert Frost

SEBUAH DOA DI MUSIM SEMI


Oh, beri kami kesenangan dalam kembang hari ini;
dan beri kami tidak untuk berpikir sejauh ini
seperti panenan yang tak pasti; pelihara kami di sini
semua sederhana di tahun bersemi.

Oh, beri kami kesenangan dalam putih kebun,
seperti tiada yang lain per hari, seperti hantu di waktu malam;
dan buat kami bahagia dalam lebah yang bahagia,
berkerumun meluas mengitari pohon yang sempurna.

Dan buat kami bahagia dalam loncatan burung
yang tiba-tiba terdengar di atas lebah,
bintang berekor yang menusuk dengan paruh,
dan lagi bunga-bunga di tengah udara berdiri diam.

Karena ini cinta dan tiada selain cinta,
yang disediakan agar Tuhan di atas sana
menyucikan akhir terjauh yang Dia kehendaki,
tetapi yang cuma butuh bahwa kita memenuhi.


Diterjemahkan oleh Ridha al Qadri dari A Prayer in Spring dalam The Bocket Book of Robert Frost’s Poems, Henry Holt and Company, Inc., 1946.


Rantauan Hindra Jaya

MUNAJAH

Di keheningan
kumerebah beralas sajadah
Mataku mengkristal keluh
Hatiku lirih berbisik:
“Tuhan, tukarlah linangan ini
dengan secercah harapan”.

Juli 2008

Rantauan Hindra Jaya, tinggal di Jl. Rengas Raya 188 Banyumanik Semarang 50267. Lulusan Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo. Contact Person: 081575159919.


Noval Darmawan

HINA

Bukankah senja milik
bagi mereka yang merenung
seperti kebijakkan yang diinjak;
tidak pernah hina
dan dihinakan.


Noval Darmawan, ahli gaib, pijat, dan terapi. Tinggal di sekitar Pabelan Solo.


Andi D Handoko

PROLOG KEMATIAN

Sepi sendiri menangis
Menitik sungai pangkuan rahim derita
Paham dirinya tempiaskan udara pekat
Pohon-pohon kaku bicara tentang kematian
Melihat seonggok tubuh rapuh
Di kolong tempat tidur
; mengeja doa berselimut kafan putih.


Andi Dwi Handoko, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia FKIP UNS Solo.

No comments: