Friday, 15 August 2008

Menaklukkan Harimau

Oleh: Andri Saptono*


Malang sekali nasib Rahayu. Ia merasa suaminya tidak cinta lagi padanya. Seperti kisah perkawinan temannya yang lain, suaminya sekarang menyukai rumput tetangga mereka yang lebih hijau dan lebih menarik.
Tentu saja Rahayu tak tinggal diam. Ia masih mencintai suaminya dan ia pun mencoba berbagai resep agar suaminya kembali mencintainya. Ia merelakan waktunya untuk mandi lulur dan sering minum jamu sari rapet. Ketika melihat iklan di televisi, bagaimana tips-tips setiap hari untuk memikat pasangan kita, Rahayu pun tak ingin ketinggalan. Singkat kata, ia melakukan apa saja dengan harapan suaminya itu kembali mesra padanya.
Suatu malam Rahayu mendekati suaminya yang telah menghadap dinding di ranjang. Rahayu meletakkan tangannya di bahu suaminya sambil merangkulnya.
“Mas...” desah Rahayu, mencoba menggelitik kuduk suaminya dengan napasnya.
“Aku sedang capek,” jawab suaminya. “Aku mau tidur!”
Rahayu menghela napas. Hasratnya seketika punah untuk mencoba lagi. Dipandangnya langit-langit kamar, tempat dua cicak saling berkejaran. Ia berpikir alangkah hidup begitu sederhana jika ia menjadi sepasang cicak saja.
Rahayu berusaha memejamkan mata. Tapi tetap saja sulit. Benaknya berputar kencang. Ia memutuskan malam itu tak ingin memejamkan mata sebelum ia mendapat cara agar suaminya bisa kembali mesra padanya.

*
Pagi itu ia meladeni keperluan suaminya dengan biasa. Suaminya juga masih berlaku dingin sama seperti sebelumnya. Ia tak keberatan sama sekali tentang hal itu, karena ia masih belum melakukan apa-apa. Tapi saat suaminya akan berangkat ke kantor, dikatakan kepada suaminya kalau ia akan pulang ke rumah ibunya di desa barang beberapa hari. Maksud hati Rahayu, ia akan mengunjungi ibunya di desa dan bertanya pada ibunya, yang barangkali mempunyai resep agar suaminya bisa kembali lengket seperti prangko.
Hari itu Rahayu berangkat ke Solo ke rumah ibunya di desa yang masih terletak di lereng gunung Lawu.
*
“Memang ada caranya anakku untuk membuat suami lengket padamu seperti prangko,” kata ibunya. “Melihat keadaanmu seperti ini, hanya ada satu cara. Tapi apakah kau sanggup melakukannya, itu yang masih menjadi pertanyaan.”
“Tentu, akan kulakukan apa saja. Aku bersedia menerima syarat seberat apa pun, Bu,” jawab Rahayu berusaha meyakinkan ibunya kalau ia benar-benar sudah membulatkan tekad.
Ibunya percaya kepada Rahayu. Tapi bagai tersengat listrik saat Rahayu mendengarnya. Resep rahasia itu ternyata sungguh mahal tebusannya. Nyawanya sendiri yang ternyata menjadi taruhannya. Rahasia itu adalah dengan mencabut tiga helai kumis harimau dan harimau itu haruslah yang liar di hutan.
“Setelah itu yang perlu kaulakukan adalah menaruh setiap helai kumis harimau itu untuk minuman suamimu selama tiga hari. Dijamin setelah tiga hari meminumnya, suamimu akan sangat mencintaimu.”
Rahayu telah memutuskan, segila apapun resiko itu, ia akan melakukannya. Maka pada hari itu juga, diberkahi restu ibunya, Rahayu berangkat ke puncak gunung Lawu. Dengan dibantu oleh seorang penjaga hutan yang berpihak padanya, Rahayu mendapat petunjuk dimana ia bisa menemukan harimau liar itu.
“Sebenarnya harimau liar itu tak seberapa ganas seperti orang yang bayangkan. Jikalau kita tak menyerangnya, mereka juga tak akan ganas pada kita. Tapi berhati-hatilah, belum genap setahun harimau itu pernah menghabisi nyawa dua pemburu yang mau menguliti lorengnya,” jelas si penjaga hutan.
Rahayu bisa memperkirakan sosok harimau yang ditemuinya nanti. Hewan buas adalah hewan buas. Ia tak boleh lengah. Jika gagal, ia pun akan bernasib lebih malang. Barangkali suaminya juga akan merelakan dirinya dimakan oleh harimau itu, pikirnya.
Rahayu harus berjalan kaki ketika menembus hutan yang masih lebat. Di tengah perjalanan, karena begitu lelahnya, Rahayu singgah di sebuah gubug kecil yang kebetulan ada didiami seorang kakek pertapa.
Ternyata Rahayu menemukan seorang pertapa yang baik. Rahayu disuruhnya masuk ke dalam gubug untuk istirahat, bahkan Rahayu sempat ditawari makan sebagai pengusir lapar. Kebaikan kakek pertapa itu sangat membahagiakan Rahayu di tengah kesendirian perjuangannya.
Akan tetapi Rahayu terpaksa menolak semua kebaikan kakek itu dengan baik. Dikatakannya maksudnya kepada sang pertapa kalau dirinya ingin segera menemukan harimau itu agar bisa segera melunaskan maksudnya.
“Aku hanya punya tiga buah tiga kelinci di rumah untuk persediaanku makan selama sebulan ini. Tapi melihat tekad dan keberanianmu cah ayu, kiranya aku tak akan segan memberikan tiga ekor kelinci itu untukmu. Aku pikir, mungkin kau bisa membujuk harimau itu dengan daging kelinci agar ia memberikan tiga helai kumisnya.”
Perkataan kakek pertapa itu hampir terdengar seperti lelucon bagi Rahayu, karena apakah betul semudah itu mencabut bulu kumis harimau liar di hutan, apalagi dengan caranya barter daging kelinci dengan si harimau. Tapi, Rahayu cukup merasa senang ada yang mau memberi bantuan padanya.
“Tapi dimana saya bisa menemukan harimau itu kakek?” tanya Rahayu.
“Di dekat gubug ini ada sebuah gua, di situlah harimau itu tidur. Kau bisa memberikan kelinci ini ketika subuh, ketika hewan itu masih lapar. Lakukan seperti yang kusarankan karena hanya cara itu sebenarnya yang paling mudah.”
Rahayu menyimak segala nasehat kakek pertapa yang baik itu. Didengarnya dan tak dibiarkannya ada yang luput dari perhatiannya.
Subuh telah datang dengan cepat. Rahayu tahu dirinya harus segera bergegas sampai di pintu gua dan memberikan kelinci itu sebelum fajar merekah dan kalau dirinya mau harimau itu tak menjadikannya sebagai mangsa sarapan pagi.
Ketika sampai di depan pintu gua dan dengan berlindung kepada kegelapan, sesuai petunjuk sang kakek pertapa, Rahayu mulai melepaskan kelinci yang telah ditali kakinya agar tidak lari itu.
Harimau buas itu telah melihat mangsanya. Tinggi harimau itu sebesar anak sapi dengan mulut yang lebar menganga, meneteskan air liur yang mengerikan dari gigi taringnya yang sebesar jempol kaki manusia. Setelah sebelumnya mengaum yang suaranya mampu menggetarkan seluruh rimba, perlahan harimau itu dengan gigi taringnya mulai menyobek-nyobek kelinci yang sudah tak berkutik itu.
Rahayu dengan gemetar menunggu. Saat kesempatannya datang, ketika si harimau sedang sibuk dengan pekerjaannya dan bertabir kegelapan yang menguntungkannya, sambil menahan napas ia mencabut sebuah kumis harimau yang kaku itu. Jantung Rahayu sudah tidak berdegup sekian detik yang lalu, tapi sejenak ia mengamati benda yang ada di tangannya, sebuah bulu kumis si harimau yang telah berhasil ia dapatkan.
Segera sesudah mendapatkannya Rahayu berjingkat pelan pergi dari tempat itu.
Pengalaman pertama yang mendebarkan dan sukses itu membuat Rahayu bertambah optimis. Pertapa yang baik itu ternyata mengatakan hal yang benar. Esoknya, didorong keberhasilannya yang pertama, Rahayu kembali melakukan hal yang sama. Seperti juga sebelumnya, dewi fortuna itu masih setia kepadanya; helai kedua kumis si raja rimba itu berhasil Rahayu dapatkan dengan mudah tanpa banyak kesulitan.
Hari ketiga telah datang, hari terakhir dimana Rahayu berhadapan dengan si harimau. Ia berangkat dengan bersemangat. Rencananya, setelah berhasil melakukannya ia akan segera pulang untuk segera menjemput impiannya.
Rahayu kembali ke mulut gua untuk mengulang peruntungannya. Tapi apa yang terjadi adalah sedikitpun tak pernah dibayangkan oleh Rahayu. Harimau itu tiba-tiba mengaum tepat di belakang Rahayu.
Rahayu terperanjat dan sekonyong-konyong membalikkan tubuhnya. Tapi pikirannya sudah tak berkuasa lagi akan tubuhnya. Ia gemetar untuk pertama kalinya melihat harimau yang sebesar anak sapi itu telah berdiri menatapnya, siap menerkam dirinya dengan mudah. Napasnya tersengal satu-satu karena ketakutan. Tetapi tanpa sadar, secara spontan Rahayu menjulurkan kelinci itu berharap sang raja hutan itu tak memakan dirinya.
Sungguh ajaib, sang harimau yang terbiasa mengenali daging kelinci itu langsung memakan kelinci yang diberikan dari tangan Rahayu.
Rahayu sejenak terpukau dengan kejadian di depannya. Ia tak menyangka harimau itu berubah begitu jinak olehnya. Rahayu mengatur napasnya. Dan dengan masih gemetaran, ia memaksa mengulurkan tangannya mencoba menyentuh moncong harimau yang belepotan darah sedang mengunyah daging kelinci.
Rahayu berhasil melakukannya. Si harimau sendiri tampaknya juga tak berkeberatan sama sekali saat Rahayu mencabut salah satu kumisnya. Saat itulah segera Rahayu berjingkat mundur dari hadapan harimau yang sedang sibuk itu.
Dalam perjalanan pulang sampai ke gubug, jantung Rahayu terus berdegup kencang. Walaupun telah berhasil, ia bahkan tak berani menengok ke belakang, tak berani membayangkan kalau harimau itu masih membuntutinya.
Rahayu sampai menangis ketika ia berhasil mencapai gubug, dan melihat ia berhasil mendapatkan tiga helai kumis harimau itu.
Maka pada hari itu Rahayu turun gunung setelah berpamitan pada pertapa yang baik itu. Pada pertapa itu Rahayu meninggalkan sebuah kalungnya sebagai tanda terima kasih. Tanpa bantuan dan saran pertapa itu, ia tak mungkin bisa mendapatkan tiga helai kumis harimau itu.
Di tengah perjalanan turun gunung, Rahayu bertemu dengan si penjaga hutan. Si penjaga hutan itu terkejut tak mengira Rahayu benar-benar berhasil mendapatkan tiga helai kumis harimau.
Rahayu mengatakan pada si penjaga hutan kalau semua itu karena ia dibantu oleh seorang pertapa. Tapi, malah si penjaga hutan ngotot membantah kalau tak pernah ia melihat ada seorang pertapa di hutan.
“Tidak mungkin ada pertapa di hutan. Kalaulah benar ada, pertapa itu yang pertama akan dimakan oleh si harimau itu kalau hewan buas itu kelaparan.”
Tapi Rahayu sedang tak ingin berdebat dengan si penjaga hutan itu. Ia pun berlalu dari si penjaga hutan itu karena ingin segera pulang.
Sesampainya di rumah, Rahayu disambut ibunya dengan pelukan kegembiraan dan rasa syukur karena anaknya telah pulang membawa keberhasilan.
“Lalu apa lagi yang harus kulakukan setelah ini bu?” tanya Rahayu tak sabar.
Ibunya tersenyum pada anaknya itu. “Simpanlah tiga helai kumis harimau itu untukmu sebagai kenang-kenangan. Kau tak akan memerlukannya lagi.”
Jawaban ibunya jelas tak dimengerti oleh Rahayu. Ia tak paham mengapa semua kumis harimau itu tak berarti sama sekali, padahal ia telah bertaruh nyawa untuk mendapatkannya. Rahayu menjadi terdiam lebih karena menahan marah.
“Aku mengerti apa yang kau rasakan. Sekarang kuberitahu padamu suatu rahasia. Kau pasti akan berhasil membuat suamimu kembali mesra kepadamu karena kau telah memenuhi semua syarat untuk melakukannya, yaitu agar suamimu itu kembali mesra padamu. Syarat pertama adalah tekad dan semangat dengan kau berani pergi ke hutan. Syarat kedua adalah keberanianmu menghadapi harimau yang merupakan seekor binatang buas. Dan syarat terakhir adalah kau berhasil menaklukkan harimau itu, yang merupakan semua perwujudan dari perjuanganmu. “Kau telah lulus dari semua ujianmu Rahayu. Kau pantas mendapatkan apa yang kau inginkan. Sekarang pulanglah dan temui suamimu. Untuk menghadapi binatang buas sekalipun kau berani melakukannya, apalagi hanya suamimu sendiri yang sangat engkau cintai.”
Rahayu akhirnya mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibunya. Sejenak ia mengenang seluruh nasibnya di belakang. Ia tahu tanpa pergorbanan dan perjuangan ia tak akan pernah mendapatkan keinginannya. Sebuah nasehat sederhana yang kadang ia lupa.
Sejak saat itu Rahayu dikenal sebagai seorang istri yang beruntung karena sangat disayangi oleh suaminya. Setiap kali para temannya bertanya, bagaimana resep menaklukkan suami, jawab Rahayu adalah dengan menyeduhkan minuman yang telah diberi tiga kumis harimau yang harus dicabut sendiri dari harimau yang liar di hutan. Tetapi ketika mendengar syarat tersebut, semua temannya pilih mengundurkan diri, mereka ngeri jika lebih dulu harus berhadapan dengan seekor harimau yang buas.

*Cerpenis tinggal di Karanganyar. Karyanya dimuat di media lokal maupun nasional. Solo Pos, Gong, Kumcer Cinta pertama, Penikmat Kata, Pawon, Rumput.

No comments: