Monday, 17 March 2008

Pursuit of Happyness: Pengejaran atas Sebuah Kebahagiaan

Oleh: ARY WIBOWO

DIILHAMI dari kisah nyata Chris Gardner seorang pialang saham sukses, film yang disutradarai Gabriel Muccino berhasil memotret realita kehidupan warga Amerika sebenarnya.
Pursuit of Happyness menceritakan sebuah pergumulan hidup seorang ayah muda dan anak lelakinya. Tak seperti film-film keluarga produksi Hollywood yang lain, film ini justru jauh dari nuansa keluarga yang ideal yang kondisinya mapan dan bahagia. Dalam film yang berdurasi 90 menit ini, anda akan diajak menyaksikan potret kehidupan sosial orang-orang jelata Amerika.
Adalah Chris Gardner (diperankan Will Smith), seorang salesman yang merasakan kerasnya kehidupan kota besar San Fransisco. Seorang ayah bagi anak lelaki kecil bernama Christoper (diperankan Jaden Christoper Syre Smith) yang berjuang demi buah hatinya melawan nasib yang membuat mereka terlunta di kerasnya rimba kota.

Chris Gardner, lelaki kulit hitam yang berpakaian perlente ini sepanjang hari menjinjing sebuah kotak produk yang harus dijualnya. Kotak yang harus dipangkunya dalam bus untuk ditawarkan ke perusahaan-perusahaan. Sebuah kotak mesin waktu. Oh, bukan. Itu adalah anggapan orang gila yang ditemuinya di halte bus kota. Kotak itu tentu bukan kotak mesin waktu, kotak tersebut tak lain adalah mesin pemindai kepadatan tulang atau disebut juga sebagai alat pendeteksi pengeroposan tulang.

Alat medis yang dijualnya untuk mencari nafkah tersebut cukup berat dan besar, dibawanya keliling ke sana ke mari. Betapa susahnya menjual sebuah peralatan yang mahal tersebut. Begitu susahnya menjadi seorang salesman yang hidupnya tergantung oleh seberapa banyak produk yang mampu dijualnya. Belum lagi cukup untuk menghidupi anak dan istrinya, Chris tak pelak didera tagihan pajak, dan keterlambatan bayar sewa rumah.
Kotak yang berharga bagi Chris tersebut membawanya terlibat dalam berbagai polemik kehidupan kota besar. Hingga suatu hari Chris melihat seorang pria turun dari sebuah mobil sport mewah. Chris yang notabene hidupnya susah, tergelitik untuk bertanya apa pekerjaan pria tersebut, dan apa yang dilakukannya hingga semakmur ini? lelaki itu menjawab bahwa dia adalah: seorang pialang saham.

Demi sebuah kehidupan mapan untuk keluarganya. Maka, pertemuan dengan pria tersebut membuat Chris terobsesi. Dia berusaha mendapatkan pekerjaan itu meski dia hanya tamatan SMA. Usaha melamar ke perusahaan itu pun diawali. Bahkan diawali dengan sebuah hal yang ia sebut: bersikap ceroboh. Ketika akan memasuki kantor pialang saham Dean Witter Reynold, ia menitipkan kotak berharganya pada seorang pengamen gipsy di pinggir jalan, untuk kemudian masuk ruangan kantor tersebut melamar pekerjaan. Saat dia tengah mengisi formulir pelamar, dari jendela kantor itu dilihatnya si perempuan pengamen tadi membawa lari kotak tersebut. Maka tak ayal Chris menghambur mengejar pencuri itu.
Seperti judul yang disandangnya, Pursuit of Happyness menggambarkan pengejaran simbolis seorang akan sebuah kebahagiaan. Begitu halnya dengan Chris yang beberapa kali sempat kehilangan kotak itu dibawa lari orang, dikejarnya hingga ia temukan lagi. Namun, kehidupan Chris masih belum juga berubah. Sampai suatu hari semakin bertambah parah karena Linda, istri Chris (diperankan....) seorang buruh pabrik tekstil akhirnya memutuskan untuk pergi akibat tak kuasa menahan himpitan ekonomi. Linda memutuskan pergi ketika Chris tengah menelponnya dari kotak telepon koin di pinggir jalan.

Saat itulah ia berpikir tentang kalimat Thomas Jefferson dan deklarasi kemerdekaan Amerika. Kalimat tentang hak atas kehidupan, kemerdekaan dan pengejaraan kebahagiaan. Ia berpikir bagaimana pembuat teks deklarasi kemerdekaan itu tahu, dan memasukkan bagian pengejaran kebahagiaan di dalamnya. Bahwa mungkin kebahagiaan adalah sesuatu yang hanya bisa kita kejar, namun mungkin kita tak pernah mendapatkannya walau bagaimanapun.
Pursuit of Happyness, sebuah drama cukup menyentuh diselingi dengan narasi tokoh utama yang membuat film ini dapat menghasilkan efek dramatik, sekalipun dengan tema yang sederhana. Film ini berhasil membuat sentuhan-sentuhan pada sisi kehidupan manusia yang nyaris tergilas peradaban kota besar. Potret sosial kehidupan kota besar di Amerika -dengan setting 1987- yang rupanya tak seindah dibayangkan. Justru film ini memotret orang-orang termarjinalkan oleh sebuah peradaban yang dibangun manusia sendiri. Sebuah hidup yang harus dijalani dengan tabah dan penuh kejutan yang mengharukan.

Ditengah pergulatannya melawan kerasnya hidup, Chris terusir dari rumah kontrakannya hingga harus hidup menggelandang bersama anak lelakinya yang masih kecil. Ya, inilah potret seorang lelaki dan bocah kecil yang menelusur labirin kehidupan tanpa kehadiran perempuan. Tidur di stasiun, WC umum, dan rumah penampungan yang penuh sesak. Liku kehidupan yang ia jalani dengan mandi keringat dan air mata. Demi sebuah bagian kisah hidup, bahkan hanya sebuah bagian kecil dari kehidupan manusia yang disebut: Kebahagiaan!

No comments: