Sunday, 10 February 2008

Reportase dari Kongres KSI

Catatan Kru Pawon dari Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus

Intro:

19 Januari 2008. Kurang lebih pukul satu, bersama Saut Situmorang delapan orang anggota Pawon ( Bhre, Puitri, Indah, Ary Wibowo, si Gad (Gatot), Anton, Yudhi Her, Joxum) berangkat ke Kudus menghadiri Kongres Komunitas Sastra Indonesia Dan Seminar Nasional Komunitas Sastra. Sayang sekali Kabut tidak bisa berangkat di acara itu bersama kami. Sebenarnya tim dari Pawon ada sepuluh orang, tetapi dua orang ( Pak Wijang dan kawan Ridho) sudah berangkat lebih dahulu dengan sepeda motor. Melalui SMS, mereka memberi kabar bahwa dalam perjalanan mereka berjebak banjir di Semarang. Capek dech!!

Lagu:

Adalah sebuah keajiban ketika kami bisa menghadiri hajad besar itu, mengingat malam sebelum keberangkatan, kami sempat kebingungan transportasi. Benar kata pepatah: Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Tetapi yang ada pada kami saat itu adalah di mana ada kenekatan di situ transport kami dapatkan. (terimakasih buat Fajar yang sudah mengusahakan.)

Di dalam mobil kami berjubel dengan tas-tas besar dan sekardus penuh Buletin Pawon serta buku-buku terbitan Gerilya Peradapan. Dalam perjalanan kami banyak bercanda atau tepatnya terus tertawa oleh gaya humor Saut yang khas. Kami melampaui kampung demi kampung, kota demi kota hingga matahari rebah di barat menyepuh langit semburat jingga dan remang petang pelan merayap menjadi gelap ketika kami sampai di kantor DPRD Kudus, tempat Kongres diadakan.

Riuh kami melaporkan kehadiran di meja penerimaan tamu. Kecuali Saut, kami segera di antar ke hotel Air Mancur untuk urusan pribadi dan menginap malam itu. Pak Wijang dan kawan Ridho sudah mendapatkan kamar terlebih dahulu karena mereka memang lebih dulu sampai di Kudus.

Setiba di hotel, ah.... sudah ada kawan Dwicipta teman seperjuangan. Yah! Seperjuangan! bedanya, perjuangan yang ia lakukan sudah membuat tulisannya keblasuk di harian Kompas dan kami masih merayakan tulisan kami di harian lokal. Oh, iya. Ketemu Ryan juga.

Aku satu kamar dengan Bhre dan Puitri. Mereka, para lelaki menempati kamar relatif dekat satu sama lain. Perasaan kami para perempuan nyaris sama ketika memasuki kamar hotel sederhana itu. Ruang dan penataan serta peranti kamar nyaris sama dengan Wisma Seni di Solo ketika kami mengikuti Workshop. Sangat-sangat lebih dari cukup bagi kami yang telah mendapatkan fasilitas dari panitia.

Usai membersihkan diri dan bersiap seperlunya, kami menunggu mobil jemputan yang akan mengantar kami menuju tempat acara. Penantian yang menyenangkan karena kami bercanda dan saling berkenalan dengan peserta lain hingga mobil datang.

Setiba di tempat, kami langsung dipersilakan makan malam. Di dalam ruang sedang berlangsung Telangkai ke RRI Pro 4 Nasional. Dialog sesi 1 (on air) dengan pembicara: Sutardji Calzoum Bachrie (Sastrawan), Parni Hadi (Dirut RRI Jakarta), Eko Budiharjo, Thomas Budhi Santoso (Direksi PT Djarum. Yang mensponsori acara), Drs. H. Ali Mufiz. MPA (Gubernur Jateng). Kami mendengar dari luar ketika mereka berdialog tentang komunitas sastra.

Kemudian masuk ke ruang usai makan malam, lalu mencoba menyimak dan menyaksikan mereka masih berdialog serta menjawab pertanyaan secara on air. Aku mengedar pandang. Dekorasi ditata demikian artistik, dengan sport light serta sound sistem mantap.

Kami masih beradaptasi dengan suasana. Duduk di bagian belakang sambil sesekali melongok-longok untuk mencari siapa tahu ada yang kenal....hehhe...

Pukul 19.20 hingga pukul 20.00, acara diisi sambutan-sambutan :

Ketua Panitia: Wowok Hesti P.

Ketua pembina KSI: Parni Hadi.

Direksi PT Djarum: Suwarno.

Bupati Kudus. Ir H.M Tamzil, MT.

Gubernur Jateng Ali Mufiz. Baru kemudian sambutan mentri sekaligus membuka kongres KSI dan Seminar Nasional Komunitas Sastra.

Malam semakin larut. Para sastrawan senior dan yunior merayakannya dengan menyimak pembacaan pantun, gurindam, juga puisi yang dibawakan oleh Sutardji C.B yang bersahaja, Thomas Budhi Santoso yang kalem, Irmansyah Sang Penyair eksentrik, Fatin Hamama yang lembut dan anggun, Sihar Ramses yang tenang dan masih banyak penyair-penyair lain. Acara dilengkapi dengan monolog Sujiwo Tejo dengan saksofonnya. Ada tari Kretek nan halus dan memukau. Juga pentas teater Djarum.

Awalnya kami memutuskan untuk menuntaskan acara, tetapi karena tubuh kami terlalu lelah setelah berjam-jam melakukan perjalanan, kami sepakat memilih kembali ke hotel. Tetapi meskipun lelah, kami menyambut gembira ketika ada yang mengusulkan kembali ke hotel dengan jalan kaki. Kami ingin menikmati malam di kota Kudus yang sudah menjadi sepi. 200m tak terlalu jauh untuk kaki kami.

Gerimis masih turun kecil ketika kami menyusur jejalanan Kudus. “Perempatan ke dua belok kanan pada simpang tujuh ada sebuah bundaran. Tetap ambilah kanan.” Begitu kata seseorang yang memberi petunjuk jalan. Iring-iringan itu dipimpin oleh Bhre dan Ary Wibowo dan barisan ditutup oleh Puitri dan si Gad. Hingga kami tiba di hotel dan sibuk dengan dunia masing-masing. Kami para perempuan langsung mencoba kaos dan sibuk membuka-buka Tesaurus Bahasa Indonesia serta membuka-buka makalah dan buku puisi Thomas dan Leak, Souvenir dari panitia. Kami masih saling berkomentar yang intinya sebuah kegembiraan. Hingga akhirnya satu persatu dari kami terlelap.

Interlude:

“Selamat pagi Kudus, selamat pagi semuanya. Terimaksih Tuhan atas anugerahMu. Semalam tlah berlalu. Kini kami menyambut hari baru.”

Aku keluar sekadar menikmati dan merayakan pagi di Kudus. Ah! Di meja depan kamar kami sudah tersedia tiga gelas teh dan tiga bungkus nasi oseng tahu. Bergantian kami mandi, bergantian kami sarapan. Kemudian berkumpul menunggu mobil jemputan.

Di lokasi tersedia menu sarapan juga. Lontok tahu dan menu lainnya. Meski di hotel sudah sarapan, kami tetap menikmati juga sebelum mengikuti sesi berikutnya. Joksum melobi panitia untuk meminjam meja supaya kami bisa menata Pawon dan buku terbitan Gerilya Peradapan. Dan luar biasa!! Satu kardus penuh (+- 250 eksemplar) habis terjual. Hari itu (Minggu 20 Januari ) banyak hadir guru-guru dan praktisi pendidikan. Tanggapan mereka atas buletin dan buku-buku yang kami tata di meja sungguh luar biasa menyenangkan. Sehingga harapan kita untuk menyastrakan sekolah mendapat peluang. Apalagi Puitri dengan begitu semangat membagikan selebaran ‘Kemah Sastra’. Pagi itu memang indah.

Dan kami masuk ruang.

Lagu:

Perayaan Komunitas.

Di depan sudah duduk Idris Pasaribu, Anis Saleh Baasin dan Micky Hidayat. Yang membicarakan komunitas Sastra di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Tentang perkembangan dan corak komunitas sastra di wilayah itu. Di Riau sangat minim akan komunitas sastra. Inti dari pembicaraan itu adalah: Kehadiran komunitas-komunitas sastra jelas membantu memasyarakatkan sastra di Indonesia.

Kemudian acara disambung dengan ‘Komunitas Sastra Sebagai Basis Ideologi Kesusasteraan Indonesia’ dengan pembicara: Dendy Sugono, Ahmadun Y.H, Shihi Sawai dan Adi Suyitno. Dimoderatori S Prasetyo Utomo.

Pada sesi ini antara lain mengulas: berbagai macam ideologi di komunitas sastra pada Pasca-Orde Baru dilahirkan dengan interaksi dengan kondisi sosialnya. Keanekaragaman Ideologi didukng oleh karakter komunitas sastra yang terbuka lantas merangkul ambiguitas dalam batas ideologi maupun keanggotaannya. Kolektivitas yang terbuka berpotensi menciptakan sarana komunitas sebagai peluang untuk mensiasati berbagai ideologi dan sudut di dalamnya untuk tujuan yang berbeda. Sehingga bisa saling menggenapi dan memberi bentuk pada komunitas sastra atau personal yang bersangkutan.

Cukup ramai diskusi karena banyak guru yang berebut ingin bertanya, pertanyaan itu antara lain: bagaimana cara supaya sastra mendapat peluang sama dengan mata pelajaran lain seperti matematika, fisika Dll. Pada umunya para guru merasa mata pelajaran sastra sedikit di kesampingkan. Dengan bukti masih disatukan dngan bahasa. Mereka berpendapat, mestinya sastra menjadi mata pelajaran yang terpisah.

Sama seperti sesi-sesi yang lain. Yaitu kurang waktu. Masih banyak penanya tetapi waktu ak memungkinkan. Karena waktu sudah membawa kami pada makan siang.

Seminar dilanjutkan dengan ‘’Komunitas Sastra Sebagai Basis Penciptaan Estetika. Oleh Maman S. Mahayana dan Korrie Layun Rampan. Langsung disambung dengan ‘Sastra dan Kebutuhan Masyarakat Pembaca’ hadir pembicara: duet maut Habiburrachman El-Shirazy - Saut Situmorang. Tetapi sayang sekali kami tidak bisa mengikutinya hingga selesai karena harus pulang ke Solo.

Coda:

Masih banyak acara yang terpaksa kami tinggalkan. Pentas Sastra, Wayang Klitik, pembacaan puisi dan peluncuran buku Catatan Perjalanan KSI.

Kembali berjubel di mobil. Meski tanpa Saut, perjalanan tetap ramai oleh canda dan obrolan-obrolan ringan.

Banyak yang sudah kami dapatkan. Terpetik dari hati sepotong doa: semoga kita sama-sama sukses. Bukan hanya tim yang berangkat ke Kudus, tetapi kita semua, teman0teman seperjngan. Dan apa yang baik di antara kita, biarlah terpelihara sampai kita menjadi tua. Tetap berbagi semangat, saling mendukung dan mendoakan. Terserah Tuhan akan jadikan kita seperti apa. ( Dimastuti)

1 comment:

Eka said...

Mbak Damastuti,

Saya sangat menikmati penceritaan reportase yang dibuat. Pertama, nampaknya tulisan ini lebih pada pengalaman yang dilalui beberapa kawan-kawan yang menghadiri acara tersebut. Kedua, memang sangat disayangkan karena kawan-kawan dari PAWON, dll, nggak sampai selesai ya..

Tolong dong, meskipun begitu, dituliskan, diposting juga mengenai hasil-hasil apa yang sudah dibicarakan dalam acara tersebut. Mungkin kawan-kawan sudah mendengar ataupun mendapat kabar dari hasil KSI itu. Jadi, saya, mungkin yang lain bisa mendapat informasi tentanghasilnya, dari blog PAWON ini. Dan terima kasih sebelumnya.

Salam,

Eka Pangulimara H