Sunday, 10 February 2008

Puisi Rudi Hartono

Nyanyian Sepasang Pecinta

Siang nanti kita berjanji bertemu,

antara jalan penuh asongan yang masih terukir mungil namamu di situ.

Kita sepakat mengemasi segenap remah-remah luka, berwarna merah saga,

sebelum pamitanmu ketika itu, seperti warna darah bumi kita.

Aku harap kau di hadapanku nanti merona dan cantik berkerudung putih,

rapi dan wangi.

Tapi jangan kau kenakan segenap pakaian sunyi di tubuhmu

karena aku tak mau melihatnya.

Aku tak pernah bisa menjawab apa yang kau pertanyakan

karena rasa sayang tak ada alasan, tak terstruktur, dan tak berkerangka.

Jalan itu tetap saja kita lewati

meskipun bekas luka karena kesombongan cuaca

masih menyayat di bibir kita.

Bila nanti kau datang dengan kereta kupu-kupu

kemudian turun dari suara udara

dengan senyum kecil cahaya di balik dadaku kau kusambut.

Desiran angin belum juga datang padaku,

hanya bisikan kerikil kecil membawa kabar lewat di bawah mataku.

Aku tak akan datang, Sayang

Sukoharjo 2006

Wajahmu di Dalam Telephone

Hallo, siapa yang bertanya tentang pagi?

padahal aku sendiri terpatri membukanya setiap hari.

Apakah benar kau bidadari hati yang terbang hinggap tepat di dadaku?

Sementara itu aku terus bertanya

karena hanya ada nomor rahasia di setiap sudut kepak-kepak jemari

dan tombol penyampai pesan

sebagai isyarat bahwa kita harus segera mengemasi janji

karena bertemu pun tak mungkin lagi

Hallo, siapa di situ?

Kekasihku kah?

nafasmu dalam hatiku terlunta oleh desahan suaramu

seperti waktu kita bercinta, remuk redam digerus nuansa kita.

Wajahmu di dalam telephone seringkali membuyarkan konsentrasi

setiap kali ku tanya di mana kau berada

Hai, tak ada bisikan apapun dari mulutmu

yang ada hanya nada sela mengikuti denyut jantungku

yang tak berirama dan tanpa titk koma, melaju semakin lambat

karena pertanyaan yang tak kunjung lega

tetap saja aku pegangi gagang telephone yang sudah lama mati suri

karena aku yakin wajahmu masih tertinggal ayu

di sela-sela nada tunggu yang akhirnya pilu

Kupunguti sisa-sisa riasanmu yang masih lengket tanpa jawab

Surabaya, Agustus 2006

Renungan Takutku Padamu, Marti

Marti,

Aku takut mencintaimu

aku takut dengan kelemahanku yang terus memberontak

dari lingkaran genggamanmu

Perjuanganku memang tak secantik wajahmu yang tanpa cacat

Demi kepompong yang tak pernah bisa bermimpi

tak ada hak untuk bermimpi,

adalah hal yang sama denganku

Ujung lancip daun Teki mengundang langkah lunglaiku,

terjal dan sedikit bergelombang,

tapi dengan lidah ranummu aku terpaksa nodai fajar tadi

dengan selembar puisi ini

agar kau tahu aku tak berhak menjadi kupu-kupu

Marti

Aku takut mencintaimu

adalah sama dengan hantu yang menjaga di pundak kiriku

cukup kau yang tahu

bahwa angin membawaku dalam renungan ketakutanku

Surabaya, Agustus 2006

Cintaku Tumbuh di Meja Ini

Daunan kering di atas meja beton

memberi sedikit harapan

bahwa kita mungin satu nasib.

wajahmu membatu, layu

di bawah pohon nangka sedikit datang cahaya lewat di sela-sela ranting tua

aku memandangmu

hanya ada hening dan kekosongan, sisanya cintaku padamu

Bisikan daun itu memberi isyarat

bahwa kita harus pergi ke singgasana tempat kita nantinya bercengkrama

Banyak mata menyalahkan kita

persetan dengan mereka

yang aku tahu aku cinta, dan kau suka

Dalam kebersamaan ini aku sendiri yang membayangkanmu,

bukan orang lain

sebut saja itu kelebihanku yang sah untuk memelukmu

Dinda

Ada semut mengganggu cumbu kita

pura-pura tak melihat

dan selalu berusaha keras untuk tak kelihatan di depan kita

dari mana datangnya duri yang sering mengadu kita?

tak terasa memang, namun perlahan menggerogoti yakinku di atas kulit lembut lekuk dadamu

Yakinku berseru untuk tidak meninggalkan jejakmu

tanpa arah dan waktu kupastikan cintaku menjemputmu

Surabaya, Agustus 2006

Ketika Tak Bersamamu

Aku datang,

datang pula hamparan luas remah-remah rambutmu menyambutku

Lekuk bibirmu mengatup

tapi berbisik pada lembaran frase-frase pertanyaan

yang rambatan waktupun putus asa menyenggamainya

Menunggumu tiada bermula

akhirnya burung gereja berumahkan rambut kumalku

Penyesalanmu memang kelemahanku

janjiku tak mampu membayar titipan rindumu

barang kali kau ingin menebus dongeng-dongeng pengantar tidurmu

yang kemarin sempat kau pinjamkan pada malamku

jemari kesabaranku tak mampu lagi

menampung rajutan lagu

yang tumbuh subur di pelataran tangga nada

mendayu kesedihan yang kita sepakati bersama

Aku harap kau tetap ada dan bersuara

dan aku pasti mendengarnya,

suaramu serupa gelombang tetap kunanti menyapu iga lemahku

Juni 2006







Tanpamu

Angin hinggap di awang-awang

turun melintasi ranting-ranting dadaku

Kapan hatiku berwarna langit?

Aku tak tahu, biarlah jadi rahasia dunia

Seokor dara kecil menangis,

air matanya mekar menjelma mawar

sambil menggumam seakan diam

“tanpa kepemilikan atas dirimu membuatku tak kesepian”

Maret 2007

Karena Itu

Air matamu karena puisiku yang kucintai

Langkahmu yang menghampiriku yang kusayangi

Adalah kau yang kulingkari pelangi berbentuk hati

Sekali lagi, aku mencintaimu karena itu.

Juli 2007

Sayang Tak Untuk Beralasan

Bekas tatapan matamu masih tertinggal rapi di serambi rumahku,

saat kau pejamkan mata, lalu pergi, udara menciumimu.

Sama halnya kau yang menjelma udara yang kuhirup tanpa setahuku.

Itulah sebabnya aku memikirkanmu

Juli 2007

Perempuanku

Perempuanku, jika kau bidadari terbanglah ke sini!

Aku hampir terlelap karena mengenangmu

Tak mungkin ku akhiri.

Agustus 2006


Cinta Itu Diam

Langit terlipat rapi di rambutmu,

yang tadi sempat ku sentuh dengan jemari kesabaranku.

Kau mengingatkanku

pada daun yang belum selesai kurajut,

pada gelombang yang mengombang-ambingkan argumenku

bahwa kau telah bersemayam dalam ruang 3 X 4 inci di bilik jantungku.

Sisanya cintaku padamu yang belum sempat kusampaikan

Sept 2007

Selamat Malam, Sayang

Kau tidurkan matamu yang mulai rapuh dihunus hujan yang masih tersisa, dan ada wangi tanah ,

lainnya mimipimu yang masih kau rencanakan,

denagn harapan paginya kita bertemu diperaduan.

Kapan kita mengakhiri kekejaman ruang dan waktu ini?

Tanyamu pada rindu di dadamu.

Oktober malam 2007

Kursi Pengantin

Ketika mengingatmu sudah habis dilumat udara,

kau belum datang juga

Kursi pengantin kita masih kosong,

hanya lalat-lalat biru lewat di atas kepalaku

menyampaikan cintamu yang tertunda.

Kamarku sudah aku beri bunga yang kupetik dari rambutmu,

dan kursi ini tumbuh melati,

ingin segera kau duduki

dan sejahtera menatap senyumku yang ranum

yang pernah kau ciumi dan kau kagumi.

Kamu adalah lumut di otakku, dan menjalar keseluruh tubuhku.

Penghujung 2007




Penulis: Rudi Hartono, kelahiran Sukoharjo 1 April 1985. Mahasiswa UNS Surakarta, jurusan Sastra Indonesia angkatan 2003. Karya-karyanya pernah dimuat di Pendapa 3 dan Buletin Fillitra (buletin milik jurusan Sastra Indonesia).HP: 085 62 99 44 98.

No comments: