Sunday, 10 February 2008

Puisi Agus Manaji


GELAP MALAM MENGENALI KITA

- Nurul Aini Sinta Dewi...

Reremah sisa cahaya membentur dinding-dinding rumah kusam.

Mendung merundung, mengaji kesedihan. Gelap malam luruh

di kejauhan. Pertemuan demi pertemuan kita hanya mengupas kabut rindu

di mata, selebihnya luka kembali kambuh, bagai perih daging tumbuh. Mataku

terlampau rapuh untuk nyala merah kerudungmu. Tapi jalan-jalan resah kota,

juga kelam mendung di matamu itu, begitu nyata mengusik

ufuk-ufuk sepiku. Apakah kita hanya bayang-bayang dari warna-warni cinta?

Kau tak mengerti. Aku tak mengerti. Tak seorangpun, Sayangku,

menyapa kita di sini. (Mungkin karena kita pun tak mengenal luka

mereka.) Meski, gelap malam mengenali kita, akhirnya; kenyataan membakar

namamu dan namaku. Desir sesal, memagutku ragu. Helai-helai rambut halus

yang menyembul dari tepian kerudungmu mengarsir murung wajahmu,

memancung linglung nafasku. Berdosakah kita yang mendamba

sebentuk keluarga, menghamba demi kesetiaan sederhana?

Reremah sisa cahaya pada dinding-dinding rumah kusam

karam. Mendung merundung, mengaji kesedihan. Gelap malam

telah tiba di simpang jalan. Aku mesti mengantarmu pulang. Sungguh,

bukankah takkan sepilu ini bayang-bayang, Sayangku?

Desember 2007.

SEPERTI MALAM-MALAM FEBRUARI

- Nurul Aini Sinta Dewi

Kuulungkan beberapa patah kata ke tambir

sepi. Lalu, kaupun tuturkan kisah getir

yang bertahan menyimpan cahaya lirih

sepanjang musim di jalan-jalan kotamu.

Seperti malam-malam Februari

yang memerdekakan awan-awan hitam kumulonimbus,

bersila aku dalam remang, mengaji riwayatmu yang timbul hapus

disapu gelombang amarah para penghuni gua dendam

mengaji juga isyarat

sejak lambai gaun hijaumu

hingga wajahmu teduh yang sungguh

tak lagi berjarak dari kelahiran

dan kematianku.

Dan ketika tiba-tiba kau terbatuk

aku terlempar pada hening Mustofa

saat khusyuk menyimak nasihat Musa

sepulang dari sidratul muntaha.

Telanjang kita untuk linang airmata.

Kau labuh hati agar fasih

menyanyikan puisi cinta-puisi luka.

Pada nukilan kisahmu

gelisahku membara rindu.

Yogyakarta-Gamplong, 2007.

KUCURI TEMPIAS CAHAYA MATAHARI SENJA DARI MATAMU

Nurul Aini Sinta Dewi

Selalu kusinggahi wajahmu, bersekutu dengan angin nakal

mengembarai sabana pipimu; jejak-jejak kesedihan

menanam kenyataan di situ, dan garis-garis wajah bersilangan

dinyalakan sapuan tipis pupur merah jambu. Sungguh,

kerap kucuri tempias cahaya matahari senja dari matamu.

Kumakmumi nafasmu, sembari menawafkan airmata

sepanjang lengkung orbit rindu, memiuh warna pelangi keinginan

dengan serakan debu jalanan. Sebab tak selamanya kita

bisa berontak. Tak semua mimpi pula percik menitik.

Dan karena langit begitu jauh dan angkuh, kasihlah geliat debu

dan rumputan, kasihlah mataair keajaiban, aku pun mencintaimu.

2007.

RABU HENING DI BIBIRMU

Rabu bening di matamu

tak lain retina yang telaga

membasuh kenangan luka

harapan dan senyum kota.

Rabu hening di bibirmu

tak bukan lidah yang yoga

atas timbunan angka dan kata

luruh, menjelma ruh eksitasi

yang purnama.

Membaca Rabu di mata di bibirmu

terbentang berjuta tahun cahaya

menempuhmu.

2007.

DEBUR MARET TERULUR

Debur Maret terulur, menjangkau samudera bagi kenangan

tak terkubur. Hilal menunjam punggung awan; sepetik fragmen

cinta yang lirih dan pedih, sebab orang-orang hanya lalu

dan enggan merintih. Tak ada keajaiban lagi, kini,

kecuali legit senyummu. Di bening matamu, Sayangku,

yang setemaram mata ibuku, kulihat satu tanggal mengombak

dan karam pada ufuk tak terukur. Debur Maret telah terulur,

membasahi lagi ingatan pilu tentangmu. Biarlah kusunyikan namamu

dalam rimbun sajak, sembari menyimak teriak gagak. Dan seperti nelayan

membaca rasi-rasi bintang, kusadap cahaya purba yang menghuni

lembah. Sembari menghempas tubuh ke tubir waktu. Menyurung ruh

sepenuh rindu. Menjelma angin mengibar kerudungmu,

agar tersenyum rahasia itu.

2007.

No comments: