Monday, 14 January 2008

Eksistensi Buletin Sastra Alternatif :Alternatif Untuk Apa dan Siapa .......?

Karya Sastra adalah bagian dari Budaya (Pola Pikir dan Perilaku) sebuah peradaban. Sastra merupakan karya dari sebuah peradaban manusia, hasil karya sastra dari sebuah peradaban akan mencerminkan kualitas peradaban itu sendiri. Hasil sebuah karya sastra juga mencerminkan identitas jati diri penggerak sastra akan posisi keberpihakkannya, pada nilai-nilai kehidupan yang sedang berjalan.

Buletin sastra diera millenium menjamur dalam kancah kesusastraan indonesia, merasuk dalam kehidupan masyarakat disemua lapisan bagi pecintanya. Bulletin sastra bisa kita temukan dalam berbagai bentuk persembahan, ada yang masih menggunakan bentuk bulletin dengan hard copy /cetak atau sudah menggunakan teknologi electronic-internet. Dalam bentuk Buletin sastra cetak bisa kita temukan seperti : Media Kerja Budaya-Jakarta (sudah tidak beredar lagi), Pawon-solo, Bumi Putera-tangerang, Horison-jakarta, Bens-Jogjakarta dll. Sementara yang elektronic ada Sriti.com dan juga cukup banyak website atau dalam bentuk blogg.Tentunya dengan teknik penyajian dan distribusi yang cukup maju, dalam hal ini mayoritas masih mengikuti arus mekanisme pasar yang ada.

Ini merupakan bagian dari perkembangan kebudayaan secara umum, yang harus diakui sebagai salah satu hasil atas terbukanya ruang politik dan demokrasi pasca orde baru “lengser”. Berkembangannya dunia sastra yang termaniferstasikan dalam salah satunya bentuk Buletin sastra (alternatif) adalah titik ukur terbukanya ruang bebas berpendapat dan berekpresi dalam masyarakat dibawah kekuasaan politik negara. Ini pembuktian bahwa politik, budaya dan ekonomi merupakan sebuah kesatuan dalam perkembangannya.

Alternatif untuk apa dan Siapa?

Sebelum melihat eksistensi buletin sastra yang menyebut dirinya alternatif, perlu kita lacak ke-alternatifan-nya itu sendiri. Alternatifnya untuk apa dan alternatif untuk siapa?. Namun alternatif secara umum bisa kita gunakan pengertian buletin sastra tersebut dilahirkan untuk keluar atau melawan dominasi media sastra yang telah ada, baik dalam bentuk, penyajian atau isinya.

Alternatif untuk apa, buletin sastra secara garis besar biasa digunakan sebagai :
Pertama, Sebagai Media Belajar dan Merentas sukses. Buletin sastra yang lahir atau dilahirkan dalam semangat alternatif oleh pemula biasanya sebagai sarana atau media belajar saja. Bisa belajar menulis, penyajian, distribusi dan memanajemen sebuah buletin sastra. Dalam proses belajar ini masih banyak mengikuti arus tulisan atau penyajian yang ada dan mendominasi dunia sastra sekarang ini.

Alternatif yang disebut hanya dalam arti harafiah, yakni berbeda nama buletin, pengelola, cover, penerbit, gaya tulisan dan penulis-penulisnya. Sebagai media belajar buletin alternatif seperti ini tidak sepenuhnya untuk latihan dan tidak mencari profit. Syukur-syukur dapat keuntungan finansial atau bahkan ketenaran, dan kedua hal tersebut bisa saling berhubungan erat.
Buletin pada corak seperti ini biasanya menjadi alternatif bagi penggeraknya saja dan seringkali muncul dari komunitas-komunitas pendidikan sastra atau universitas. Belumlah menjadi alternatif bagi pembacanya yang mengkonsumsi buletin tersebut. Namun harus diakui, buletin seperti ini secara terus menerus akan tumbuh dan lahir. Walau umurnya juga harus dilihat tidak banyak yang bertahan lama. Ini tak lebih karena memang ditempatkan sebagai alat belajar, setelah eksistensi penggeraknya diakui oleh publik seringkali buletin ini ditinggalkan.

Maka yang muncul adalah eksistensi penggeraknya, bukan Buletinnya. Penggeraknya melejit namanya dan akhirnya berujung pada “harga”, baik penggerak dalam hal ini penulis, pengelola atau designya. Sementara buletinnya ditinggal begitu saja yang akhirnya mati. Atau malah sebaliknya, buletin alternatif ini dijaga eksistensi keberadaanya untuk eksistensi penggeraknya. Lihat saja dominasi Goenawan Muhamad pada Horison atau Wowok Hesti melalui Bumi Putera-nya .

Kedua, Mendaratkan ide-ide kritis, segar dan berorientasi penyadaran akan realitas. Dilain sisi, Buletin sastra yang lahir atau dilahirkan dalam semangat alternatif oleh penggerak sastra yang mendasarkan pada realitas kehidupan obyektif. Penggerak biasanya teruji oleh realitas sosial obyektif disekeliling dia dan dipandu oleh kerja bersama sehingga muncul gagasan yang bisa ditawarkan kepada pembaca.

Seperti dilansir dalam kalimat pembuka, setiap karya sastra adalah pencerminanan dari keberpihakan penggeraknya. Karena pembaca selalu akan terpengaruh pada apa yang dibacanya, baik secara pengetahuan, psikologi yang berujung pada kesadaran dia dalam berpikir dan bergerak sebagai manusia kedepan.

Isi dan kualitas dari buletin sastra alternatif model kedua ini menjadi “roh” yang membawa eksistensi buletinnya. Seringkali penggeraknya hanyalah simbul dan tidak berkepentingan dalam eksistensinya. Karena yang dijaga adalah eksistensi buletin dengan membawa “keberpihakannya” yang jelas terhadap para pengkonsumsinya. Dalam segmen ini kita bisa sebut buruh, petani, nelayan, buruh migran/TKI, Kaum miskin kota dll. Sebagai konsumen, mereka adalah sumber cerita kehidupan sejati serta penggerak laju sejarah manusia. Baru disini alternatif itu bisa didapat atau diperuntukan kedua belah pihak, baik penggerak dan buletinnya juga para pembacanya.

Pada model ini, kalaupun buletinnya mati bukan karena penggeraknya yang hilang atau naik “derajat”nya dan meninggalkannya. Seringkali buletin ini diberangus oleh penguasa politik sebagai upaya menina Bobokan rakyat, termasuk penggemar sastra agar tidak mengganggu kekuasaanya. Namun semangat dari buletin sastra alternatif ini tidak akan pernah punah, dia akan tumbuh dan lahir.

Dari dua pandangan tentang alternatif tersebut, bisa diambil contoh dengan merujuk pada sastra era sebelum 1965, dimana Lekra menjadikan sastra dan seni sebagai alat menyadarkan rakyat mengerti akan kondisi sosial, politik dan ekonomi-nya melalui banyak media, salah satunya adalah sastra. Lalu mereka diajak untuk berpikir bagaimana cara mengatasi atau melawannya. Dikelompok lain ada Manifesto kebudayaan (Manikebu) yang bergerak berlawanan dengan memakai media yang sama untuk mendaratkan ide-ide yang penuh ilusi dalam menghadapi kehidupan sosial, politik dan ekonomi rakyat.

Menggunakan Eksistensi Bulletin sastra alternatif sebagai Alternatif.....

Bila pilihan alternatif sebuah buletin sastra telah ditetapkan oleh penggeraknya, dan pilihan garis kedua disebut diatas merupakan alternatif utama. maka menaikan pamor eksistensi buletin sastra alternatif menjadi penting. Seperti laiknya dalam mekanisme pasar yang terjadi sebuah nama yang sudah dikenal dan tersohor akan jadi pilihan utama konsumen. Pun dalam sastra era sekarang maka usaha itu harus dilakukan, tetapi dominasi mekanisme pasar dalam sastra harus dilawan. Karena dominasi itu yang menyisihkan sastra atau buletin sastra alternatif sulit berkembang.

Pilihan model penyajian yang sekarang terjadi harus dihitung ulang dengan tepat. Model buletin sastra alternatif cetak seringkali menghadapi resiko terisolir oleh wilayah distribusi dan biaya. Sementara daya beli masyarakat menurun akibat kesulitan ekonomi. Namun pilihan buletin sastra alternatif dengan cetak memiliki keunggulan dalam mendapatkan pembaca-pembaca alternatif jua, yakni segmen ekonomi kecil, pedesaan dan kaum pinggiran yang kurang mengenal teknologi. Maka tak elak lagi, buletin sastra cetak berkembang dalam sksla wilayah region yang kecil, belum meluas secara nasional.

Sementara pada model penyajian lain adalah dengan menggunakan teknologi internet atau membuat buletin sastra alternatif dalam bentuk website. Ini model alternatif yang memiliki daya jangkau luas, nasional bahkan internasional. Bisa dikonsumsi oleh jutaan orang, namun sayang disisi lain dia akan susah diakses oleh konsumen yang kurang beruntung akan mengenal teknologi.

Dua model penyajian bisa digabungkan dan harus ditata kelola secara maju dengan mendasarkan pada nilai kolektifitas penggeraknya. Selain penyajian, yang harus diperhitungkan adalah mekanisme distribusi dan cara mengkonsumsinya. Sebagai alternatif pilihan, buletin sastra harus berani melawan mekanisme pasar yang dikembangkan oleh ”pedagang” media saat ini.

Artinya distribusi bisa menggunakan tenaga konsumen, sekaligus kontributor tulisan dan harga relatif terjangkau. Contoh distribusi ini telah dijalankan oleh buletin sastra Pawon. Sementara bila menggunakan teknologi internet, usaha kolektifitas konsumen juga harus dimaksimalkan sehingga budaya kolektifitas ”punggawa” buletin sastra terjalin dengan baik. Ini usaha melawan dominasi Budaya dagang saat ini dan usaha untuk share kemampuan.

Disinilah letak Alternatif sesungguhnya dalam menjalankan fungsinya sebagai buletin sastra ditengah kancah kehidupan sosial, politik dan ekonomi. Alternatif sebagai pengembang seni-budaya dan alat altenatif menyadarkan masyarakat dalam menghadapi realitas kehidupan sekaligus alternatif mekanisme pasar yang dominan disistem ekonomi rakyat. Disini pula letak kekuatan alternatif buletin sastra sehingga naik dan terjaga eksistensinya ditengah masyarakat sastra maupun sosial.
Dari membaca orang akan bergulat pada pertarungan pikirannya lalu menyimpulkan, apakah akan mengikuti apa yang dia baca atau akan tetap pada apa yang disadarinya sekarang.


Semoga berarti.................

Jakarta, 19 desember 2007

2 comments:

Endro said...

Bung Ben ini serius amat. Membaca tulisannya, gak kebayang kalo orangnya cengengesan. Tapi salutlah! Bung Ben ini contoh calon pemimpin yang gak anti-sastra.

Joxum

Eka said...

Bung Ben, mengenal tampilannya emang gak pernah bisa diajak serius seribu persen. Pasti ada yang nyelip, menggocek-gocek lawan bicaranya, pasti ada saja yang menyinarkan gigi-nya.

Kalau tulisannya, wah..nggak bisa diajak kompromi, menatap jelas kemana arah perjuangan rakyat, musti sampai ke tujuannya, "kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan". Sepakat semuanya!

E'k