Sunday, 23 December 2007

“Kita Kadang Kehilangan Semangat Kebersamaan”


(Wawancara Pawon dengan Izzatul Jannah)

Denger-dengarlagi repot ngurus tesis S2 Pikologi UGM? Ada banyak rintangan?

Hmm iya, tahu saja, nih, saya sedang tesis. Kalau bicara rintangan, rintangan itu membuat kita semakin kuat dan bijaksana bukan? Hehe. Yah, rintangannya lebih banyak pada diri sendiri, saya pakai metode fenomenologi, pada fenomeneologi, ada metode bracketing, itu hal paling sulit bagi saya, karena pengalaman peneliti tidak boleh tercampur dengan fenomena yang sedang diteliti, sedangkan saya orang yang selalu terlibat dengan apapun yang saya lakukan...

Hal lain, karena saya orangnya holistis, maka saya mudah tergoda untuk melakukan hal lain saat penelitian. Saya sekarang, malah terlibat aktivitas lain di Yayasan Titian Masa Depan yang bekerjasama dengan Reach Out to Asia (ROTA) dan Qatar Foundation, ngurusi sekolah yang di bangun kembali karena gempa di daerah Bayat Klaten, sekarang kami sedang mengurus pengembangan komunitasnya, so.. agak teralihkan dari tesis. Tapi, sekarang tesisnya sudah selesai kok, sudah menyerahkan hasil analisisnya, jadi.. bola-nya sudah ada di profesor saya,.. tinggal tunggu hasil kerja dia saja haha.

Kenapa tertarik mengambil jurusan Psikologi?

Saya hanya kembali saja, kok. Kata T.S. Eliot, kehidupan itu seperti tangga berputar yang selalu kembali dimana ia punya keinginan kuat untuk kembali. Dari dulu saya sangat tertarik dengan kompleksitas manusia, saya mudah jatuh cinta pada karakter-karakter unik di sekitar saya, jadi keinginan kuat untuk belajar psikologi adalah keinginan untuk memahami karakter manusia, termasuk karakter saya sendiri. Mungkin mirip narcissus, tapi semoga tidak sampai terbunuh karena terlalu mencintai diri sendiri hehe.

Setelah belajar psikologi, saya semakin jatuh cinta. Karena ternyata sangat membantu saya untuk menulis fiksi.. what a beautiful coincidence ya? Atau memang takdir, sebagaimana nabi bilang semua manusia diciptakan dan dimudahkan atas apa ia ditakdirkan.

Jadi, mbak Izzatul Jannah ini alumni pertanian, melanjutkan ke psikologi, tapi giat menulis fiksi? Aduh-aduh kok bisa?

Saya menganggap kehidupan itu sekolah, saya sekolah di alam semesta. Jadi, tidak masalah memang, saya sekolah di pertanian saya belajar tentang tumbuhan dan mengambil filosofi prosesnya untuk menjadi, lalu ambil jurusan ekonomi pertanian, skripsi saya tentang kaum transmigran, saya mengambil filosofi tentang motivasi, persepsi mereka tentang kehidupan masa depan mereka pada saat membuka lahan baru di tanah transmigran, lalu kuliah psikologi, seperti yang saya bilang tadi, saya cuma kembali, mungkin nanti S3-nya saya akan ambil filsafat.. Hahaha.

Jadi, sesungguhnya ilmu bagi saya sintesa dari seluruh kehidupan yang saya jalani, saya senang merenung, senang bertanya secara internal, mengapa begini? Mengapa begitu? hidup yang tidak direnungi adalah hidup yang tidak manusiawi, gitu kan kata Plato. JADi, kalau Anda tanya kok, bisa? Ya karena saya cinta ilmu, itu saja.. dengan ilmu saya merasa lebih lengkap, lebih manusiawi, mungkin saya akan berhenti sekolah, nanti kalau sudah mati, karena saya menganggap hidup saya itu sekolah, sertifikat lulusnya nanti dari YANG MAHA memberi kesempatan untuk sekolah, Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Mbak Izzatul Jannah termasuk orang penting di FLP, ceritain dong sejarahnya?

Orang penting? Ah, tidak juga. Semua di FLP orang penting, karena kami tidak saling menggantungkan satu sama lain untuk mengembangkan organisasi. Walau ada AD-ART, tapi karena semua orang FLP itu penting, mereka berhak mengembangkan FLP dengan kreatifitas masing-masing. Awalnya, saya terlibat dengan ANNIDA, saat itu tulisan-tulisan saya banyak dimuat di ANNIDA. ANNIDA Pemred-nya mbak HTR (Helvy Tiana Rosa), kami sering kontak, termasuk dengan Maimon Herawati (Muthmainnah, nama pena-nya) dia masih di inggris sekarang, ambil S2 dan nemani suaminya S3, waktu itu saya sering nulis untuk rubrik EPIK (salah satu rubrik cerita perjuangan di ANNIDA). Nah, ketika mbak HTR menggagas FLP kemudian dia mengundang saya untuk ikut pertemuan yang pertama di Jakarta, waktu itu tahun 1997 saya masih bawa bayi kecil anak saya yang pertama, baru 3 bulan, waktu itu pembicaranya Mas Tomi (Satryotomo, suami mbak Helvy) yang juga wartawan RCTI waktu itu. Dalam forum hadir banyak penulis dan jurnalis yang punya visi sama tentang sastra dan jurnalisme Islam, lalu digagas tentang Sastra dan Jurnalisme Islami. Ketika FLP berkembang biak secara Nasional, dan saya salah satu yang kemudian ikut cawe-cawe di Solo, lalu Jawa Tengah, begitu..

FLP solo sekarang dibanding waktu mbak Izzatul jannah jadi ketua?

Furqon yang sekarang ketua FLP, itu seniman dengan multi talenta, dia cerpenis, munsyid dan juga gape baca puisi. Maka pendekatannya juga pendekatan seniman, dia bukan organisator jadi dia tidak suka kuantitas dan manajemen, sukanya kualitas hehehe... Saya lihat dia fokus pada beberapa teman FLP yang memang berbakat untuk benar-benar jadi penulis seperti Aida Vyasa, Deasylawati, Aries Adenata.. Dia kemudian juga mengembangkan jaringan dengan komunitas penulis di Solo, termasuk dedengkot Rumah Sastra,masJoksum, Mas Wijang Wharek dari TBJT, dan juga komunitas lain.Itu bagus sekali, karena semangat seni, sastra dan kepenulisan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

BicaraFLP berarti bicara sastra Islami, komentar mbak Izzatul Jannah?

Saya kerap ngobrol dengan elit FLP Solo, kabarnya ada sedikit kemajuan dari para penulis FLP memaknai cerita Islami, maksudnya yang tidak lagi terlalu kental mengusung simbol agama dan moral, begitukah?

Saya akan jawab dua pertanyaan sekaligus, karena keduanya saing berkaitan. Menurut saya, ada hal yang selama ini keliru dipahami tentang FLP. FLP seringkali diidentikan dengan karya-karya yang tampil di majalah ANNIDA, padahal walaupun penggagas FLP (HTR) adalah mantan pemred ANNIDA, bukan berarti seperti itulah prototipe karya sastra FLP.

Bicara ANNIDA, kita tidak bisa melepaskan diri dengan sastra media massa, karena sifatnya yang massif itulah maka pertimbangan terhadap pasar, menjadi hal yang tidak bisa di elakkan, dan konsep ANNIDA sendiri adalah majalah remaja, pangsa pasarnya adalah remaja, dan umumnya remaja menghendaki hal yang simpel, tidak rumit, mudah dipahami, sehingga demikianlah sastra di ANNIDA.

Tetapi sekali lagi, tidak bisa mengidentikan FLP dengan ANNIDA, itu stereotipe saja, mungkin yang kemudian menyematkan stereotipe itu, bukan orang yang benar-benar membaca dan meneliti karya FLP. Sebenarnya hanya satu hal yang sama antara ANNIDA dan FLP, karena ISLAM-nya. Nah, bicara ISLAM, WATAK ASLI Islam adalah adaptif sekaligus substantif, relatif sekaligus mutlak, tekstual sekaligus kontekstual, oleh karena itu ISLAM sah saja di sematkan pada berbagai cara berpikir seseorang. Jika yang berbicara tentang ISLAM adalah Eko Prasetyo (penulis Orang Miskin Dilarang Sekolah), maka jadilah ISLAM sebagai agama kerakyatan, agama perlawanan, jika yang bicara adalah Ustadz DR. Muinudinillah (Direktur PascaSarjana Studi Islam UMS, lulusan Saudi Arabia) maka ISLAM adalah syariat yang tekstual, yang bicara Islam Ulil Abshar Abdala, yang ada Islam liberal, yang bicara Ismail Yusanto, Islam itu Khilafah. Saya percaya bahwa ISLAM tidak bisa diidentikan dengan MUSLIM (pemeluk Islam) an sich, sebab muslim memiliki keterbatasan, sekaligus senantiasa berkembang cara berpikirnya secara elaboratif sekaligus ekstensif, sementara ISLAM adalah point-poit global tentang pemaknaan kehidupan.

Jadi, sah-sah saja jika kemudian di dalam FLP berkumpul berbagai macam sudut pandang, pemikiran, pendapat tentang bagaimana memaknai ISLAM dan menuliskannya dalam karya-karyanya. Sebenarnya saya tidak sepakat jika dikatakan sekarang ini FLP mengalami KEMAJUAN karena tidak lagi berkutat pada simbol dan moral, sebab simbol dan moral itu tidak bisa dinafikan begitu saja, hanya kemudian yang jadi masalah adalah bagaimana menyajikan simbul dan moral itu sendiri dalam tubuh karya sastra, ada yang harafiah,ada yang metaforis, ada yang eksperimentatif, semua itu ada di FLP..

Baru-baru saja terbit LEDGARD karya WD. Yoga, dia itu anak FLP juga, nama aslinya Ganjar Widi Yoga, mantan ketua FLP Yogyakarta (dia sahabat muda saya), karyanya diterbitkan BENTANG Pustaka, karya itu kata orang tidak tipikal anak FLP, padahal dia anak FLP, elit pula (istilah politis neh..), lalu kemarin Nasirun Purwakartun berkarya eksperimentasi tentang Sajak Kartun Kartun Sajak, itu juga tidak tipikal FLP, FLP yang di stereotipe melulu Islam simbolik dan moralis. Pak Ahmad Thohari pernah bilang, novel saya juga tidak menonjolkan simbol-simbol Islam secara harafiah melulu, kok..

Jadi lihatlah FLP secara lintas kategorikal, di dalam FLP lihatlah individu-individunya, kalaupun sekarang ada Lingkar Pena Publishing, itu TIDAK MEWAKILI karya FLP secara keseluruhan walau namanya pakai Lingkar Pena, begitulah..

Jadi saya menolak dikatakan FLP mengalami kemajuan karena sebab meninggalkan simbol Islam dan moral, karena itu tidak pernah dilakukan. Islam itu simbol, Islam itu identitas, Islam itu teks, tetapi pemahaman dan pemikiran terhadap Islam, tidak melulu simbolik, tidak bersikukuh pada identitas dan teks saja.

Sekarang ini orang sering bertengkar pada hal-hal seperti itu. Eh, lu nggak progresif karena hanya mengusung simbol, lu tidak Islami karena tidak pakai ”assalaamu’alaikum”. Itu sebabnya saya bangga, teman-teman FLP alhamdulillah bisa terbuka dan bergaul dengan komunitas manapun. Lintas komunitas itu bagus, karena menurut saya, itu yang diajarkan Nabi Muhammad.

Kontekstualisasi makna islami dalam sastra Islam?

Yaah.. apalagi nih? Menurut saya, teks atau konteks itu ada dalam sastra Islami, itu seperti duamata uang yang tidak bisa dipisahkan. Itu saja. Jadi dilakukan kontekstualisasi atau tidak, biarlah pengarang masing-masing yang bertanggungjawab atas perkembangan pemikirannya.

Bagaimana masa depan sastra Islami sendiri? Apa bisa berkembang lebih jauh dan menjangkau pembaca yang sebelumnya kurang mengakrabi cerita-cerita Islami?

Waaah.. pertanyaannya. Dari sudut pandang mana dulu nih yang disebut berkembang? Dari jumlah pembaca? Hmm kalau menurut saya, jumlah itu semu dan menipu. Sebab membaca itu di Indonesia masih dianggap sebagai aktivitas elitis, eksklusif, karena buku juga hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, itu pun orang-orang berduit yang memahami bahwa membaca itu mampu mengubah dunia. Jadi, menurut saya, keberkembangan sastra Islami justru terletak pada sejauh mana orang kemudian suka mengekspresikan pemikirannya dalam bentuk literasi, tidak peduli jumlah pembacanya, hehe mungkin ini agak tidak ajeg dengan kebutuhan penerbit untuk hidup dari kocek pembaca ya?

Selama ini, sastra Islam, atau apapun yang kemudian dikaitkan dengan Islam secara simbol, mengalami hegemoni, di stereotipe sedemikian rupa sehingga orang menganggap yang Islami itu puritan, gahar, barbar, heheh (sori agak too much kali ya..) orang takut dengan simbol-simbol Islam karena phobia, itu sebabnya, saya sering mengutip kata Nabi yang satu itu, ISLAM seringkali disalahpahami karena di-identikkan dengan perilaku MUSLIM-nya.

Sederhananya, selama Islam masih dianut diseantero negeri, selama Islam ditampilkan secara terbuka, dan kemudian keterbukaan dan kelapangan hatinya dapat diwakili oleh karya-karya literasinya, maka sastra Islami akan mendapatkan tempat tersendiri, bagi mereka simpati maupun antipati.

Proses Kreatif?

Saya berasal dari pergerakan, sebelum saya menjadi penulis saya lebih dulu aktif di pergerakan Islam. Jadi, proses kreatif saya tidak bisa dilepaskan dari aktivitas saya di pergerakan Islam. Banyak aktivis pergerakan yang juga penulis, aktivis LSM yang penulis, aktivis kiri yang penulis, aktivis sosialis yang penulis. Dan, saya menyadari itu, ide kreatif saya berasal dari pemikiran pergerakan. Itu tidak saya tolak.

Saya menulis berdasarkan apa yang saya alami, saya lihat, saya dengar,saya pikirkan, saya rasakan, saya renungkan. Itu sebabnya saya suka mencoba berbagai hal, saya ingin hidup yang kompleks dan tidak sederhana, kadang itu dianugerahkan pada saya, tetapi kadang saya memerlukan orang lain untuk mendapatkan kompleksitas itu, itu sebabnya saya membaca banyak hal. Referensi saya tidak cuma buku-buku islam, saya tidak pernah membatasi diri dalam membaca. Saya baca Jostein Garder, Paulo Coelho, Taufik A-Hakim, Najib Kailani, Najib Mahfudz, Sayyid Qutb,Hasan Al-Banna, Anton Chekov, Pram, Tohari, Seno Gumira, Nawal El –Shadaawi, Sartre, Simone de Beauvoir sampai Sub Comandante Marcos..dan Herge, itulah lho Komik Tintin.

Jadi umumnya begitu, saya mengelola apa yang saya baca melalui teks, dan konteks yang saya hadapi sehari-hari untuk menjadi kreatif. Saya juga suka mengerjakan apa saja, dari mulai jadi sekretaris pribadi dosen saya, pekerjaan klerikal, masak dan ngepel di rumah sampai memikirkan hal-hal besar kalau-kalau saya besok ditakdirkan jadi seorang yang memimpin negara misalnya.. tetapi itu sangat membantu untuk melahirkan ide.

Pengarang itu kan pekerjaan menginspirasi. Semakin kaya pengalaman hidup dan kunyahan teks-nya, ia akan semakin mampu menginspirasi orang lain dalam karya-karyanya. Saya masih harus banyak belajar tentang itu.

Kira-kira buku mbak berapa saat ini? Mana yang paling berkesan.

Setiap bulan saya menganggarkan untuk beli buku 4-5 judul, itu saya mulai sejak saya kelas 2 SMA, umur 17 tahun, jadi kira-kira sekarang lebih dari seribu judul. Yang paling berkesan? Ah.. ini sulit. Saya hampir selalu menemukan kesan yang menukik pada buku-buku pengarang yang saya sukai, dan menemukan keistimewaan tiap kali membacanya. Coelho tentang perenungannya, Chekov karena ironi dan satire-nya, Taufik Al-Hakim karena kecerdasannya, Qutb karena keindahan bahasanya, Al-Banna karena konsistensinya, Nawal karena perlawanannya, masing-masing istimewa.. Saya mungkin dianugrahi kemudahan untuk mengakses buku, honor saya menulis sebagian besar habis untuk beli buku, dan akses informasi. Konon Chairil Anwar dulu suka ngutil buku...heheh, saya Alhamdulillah tidak terlalu kesulitan untuk beli buku. Tapi satu hal, kenapa tidak ada perpustakaan yang buka 24 jam? Mungkin Pawon mau memulai? Atau mari kita sama-sama mulai?

Mbak Izzatul Jannah punya suami dan tiga anak perempuan, bagaimana mensiasati urusan rumah tangga dan urusan kreatif, repotkah?

Ya, saya punya suami yang sangat luar biasa pengertian dan anak-anak perempuan yang manis dan mengerti ibunya, di rumah kami lebih banyak disibukkan hal-hal substantif, kalau masalah teknis, mereka tidak pernah rewel, kalau saya tidak sempat masak, kami ramai-ramai makan di warung pinggir jalan, kalau tidak cukup ceplok telor dan sambal bawang, hehe.

Secara teknis, saya lebih sering menulis di malam hari, ketika hak semua orang sudah ditunaikan, barulah saya menunaikan hak batin dan hak pemikiran saya. Atau saat suami kekantor dan anak-anak sekolah, mereka sekolah sampai sore hari. Saya memiliki banyak waktu untuk membaca, berpikir dan menulis. Kalau sedang jam-jam sibuk dan terlintas ide, biasanya saya hanya mengetikkan ide besarnya saja di telpon genggam, lalu menuliskan secara utuh, ketika semua orang sudah pergi dari rumah, atau semua orang di rumah saya sudah memejamkan mata. Kalau semalaman saya menulis, esok harinya, ketika semua orang pergi, saya tidur sepanjang siang haha.

Komentar tentang PAWON

Pawon, dari namanya nampaknya ingin menampakkan filosofi pelayanan sebab pawon adalah area pelayanan, melayani kreatifitas para pekerja seni dan pekerja literer? Pastilah lintas komunitas, lintas ideologi, lintas kultur bukan? Baguslah, kita kadang kehilangan semangat kebersamaan, yang ada semangat saling mematikan dan opportunistik.

Saya kemarin agak terkejut ketika Nurul Furqon (ketua FLP Solo) mengatakan teman-teman Pawon mau memprofilkan saya.. maaf kalau mind set saya juga kadang terkotori oleh sterepotipe juga..

Semoga usaha ini bisa berkembang dengan baik, dari segi kualitas dan kesinambungan.

Selamat deh!

Jika dilahirkan kembali ingin jadi siapa?

Ingin jadi Izzatul Jannah, hahaha.

Oya, kalau ada yang berminat kontak dengan saya, silahkan ke intan.savitri@yahoo.com atau mau jalan-jalan ke blog saya, izzatuljannahku.blogspot.com



No comments: